KitaBogor – Puncak perayaan World Cleanup Day (WCD) Jawa Barat 2026 di Alun-Alun Purwakarta tidak hanya diisi dengan aksi pungut sampah. Para relawan juga diajak melihat persoalan lingkungan dari sisi yang lebih luas melalui diskusi bersama sejumlah penggerak lingkungan muda.
Mengusung tema “Trash to Action: Saatnya Pemuda Ambil Aksi!”, talkshow tersebut menjadi ruang berbagi pengalaman sekaligus mendorong generasi muda untuk mengambil peran dalam menjaga lingkungan.
Diskusi dipandu oleh Mutiara dari WCD Purwakarta dan menghadirkan empat narasumber, yakni Dimas Dwi Pangestu, Founder Trash Ranger Indonesia; Fajar Amali Kurniawan, Leader World Cleanup Day Jawa Barat; Umar Rahidin, Co-Founder Better Life Indonesia; serta Fika Nur Sabrina, Winner Duta Lingkungan Jawa Barat.
Dari Kampanye ke Aksi Nyata
Dimas Dwi Pangestu mengungkapkan bahwa Trash Ranger Indonesia telah berkolaborasi dengan WCD sejak organisasi tersebut berdiri.
Menurut Dimas, persoalan lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar kesadaran. Masyarakat perlu menerjemahkan kepedulian tersebut ke dalam tindakan nyata.
“Trash Ranger saat baru lahir itu langsung berkolaborasi dengan WCD. Untuk menjaga bumi ini, yang paling penting dan dibutuhkan saat ini adalah aksi nyata,” ujar Dimas.
Sementara itu, Fajar Amali Kurniawan menekankan bahwa aksi menjaga lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana.
Ia mengatakan kegiatan WCD sengaja dibangun dengan suasana yang positif dan menyenangkan agar semakin banyak orang terdorong untuk terlibat.
“WCD ini kita aksi dengan happy, cheerful. Jangan berpikir harus langsung melakukan aksi yang berat-berat dulu. Apa yang bisa kita lakukan, mari beraksi! Karena dampak sekecil apa pun, tetaplah sebuah dampak,” kata Fajar.
Membersihkan Sampah hingga Mengolahnya
Pembahasan kemudian berkembang dari kegiatan membersihkan lingkungan menuju bagaimana sampah dapat dikelola agar memiliki nilai guna.
Umar Rahidin menjelaskan pengalaman Better Life Indonesia dalam mengelola limbah minyak jelantah yang dikumpulkan dari masyarakat.
Menurutnya, kegiatan cleanup dapat dilanjutkan ke tahap pengolahan sehingga sampah tidak berhenti pada proses pengumpulan.
“Selain mengumpulkan sampah, next level dari cleanup adalah mengolahnya menjadi sebuah produk baru yang bernilai guna,” ujar Umar.
Pendekatan tersebut berkaitan dengan konsep ekonomi sirkular, di mana material yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dikelola dan dimanfaatkan kembali.
Mencegah Sampah dari Sumbernya
Fika Nur Sabrina membawa perspektif lain melalui edukasi mengenai perubahan kebiasaan sehari-hari.
Sebagai pemenang Duta Lingkungan Jawa Barat, ia mendorong masyarakat tidak hanya membersihkan sampah yang sudah ada, tetapi juga mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya.
Salah satu contoh yang disampaikan adalah penggunaan beeswax wrap, pembungkus makanan berbahan lilin lebah, sebagai alternatif untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
“Sebagai duta lingkungan, pesannya jelas: selain kita harus rajin membersihkan, kita juga harus mulai mencegah laju timbulan sampah itu sendiri,” kata Fika.
Peserta Ikut Berdiskusi
Talkshow semakin interaktif ketika memasuki sesi tanya jawab. Salah seorang peserta, Azzam, mengajukan pertanyaan mengenai kemungkinan bumi kembali pulih serta bagaimana generasi muda dapat memberikan literasi lingkungan kepada generasi yang lebih tua.
Pertanyaan tersebut kemudian menjadi bahan diskusi para panelis. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi lintas kelompok dalam menghadapi persoalan lingkungan.
Pesan yang muncul dari diskusi tersebut adalah bahwa bumi merupakan ruang hidup bersama. Karena itu, upaya menjaganya tidak perlu dibatasi oleh identitas organisasi maupun kelompok tertentu.
Beyond Cleanup
Talkshow “Trash to Action” kemudian ditutup dengan seruan agar gerakan lingkungan tidak berhenti pada kegiatan memungut sampah.
Semangat “Beyond Cleanup” menjadi pesan utama yang dibawa dalam diskusi tersebut. Menjaga lingkungan dipandang perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari membersihkan, mencegah timbulan sampah, mengolah limbah, hingga menjaga kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan.
Melalui kegiatan tersebut, WCD Jawa Barat 2026 tidak hanya mengajak masyarakat turun tangan membersihkan lingkungan, tetapi juga membuka ruang bagi pemuda untuk berbagi gagasan dan mencari bentuk aksi yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. (Mur)


