Ratusan Pegiat Seni Bogor Berkumpul, Hangatnya Silaturahmi Budaya di Bumi Ageung Batu Tulis

0
1
Ratusan Pegiat Seni Bogor Berkumpul, Hangatnya Silaturahmi Budaya di Bumi Ageung Batu Tulis

KitaBogorBogor terasa berbeda akhir pekan ini. Di tengah suasana yang masih hangat pasca-Lebaran, ratusan pegiat seni dan budaya berkumpul dalam satu ruang yang penuh makna—bukan sekadar untuk bertemu, tapi untuk menjaga warisan yang hampir terlupakan.

Di Bumi Ageung Batu Tulis Pakwan Padjajaran, kebersamaan itu terasa hidup dalam gelaran Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Forum Kabuyutan Pakwan Padjajaran.

Bukan Sekadar Halal Bihalal

Sejak awal acara, nuansa budaya Sunda begitu kental terasa.

Alunan kacapi suling mengalun lembut, menyambut para tamu yang datang. Gerakan pencak silat khas Kabogoran tampil penuh wibawa, seolah mengingatkan bahwa budaya bukan hanya untuk dikenang, tapi untuk terus dihidupkan.

Tema yang diusung, “Silaturahmi Jaga Warisan Budaya, Silih Asuh, Silih Asih, Silih Wangian,” bukan sekadar rangkaian kata—melainkan pesan yang terasa dalam setiap momen.

Saat Tradisi Menyatu dalam Gerak dan Nada

Salah satu momen yang paling memikat adalah ketika Tari Persembahan Keraton Mandala Agung ditampilkan oleh Ratu Nyi Mas Dewi Rengganis bersama M. Rd. Aria Mandala.

Gerakannya anggun, penuh makna, dan seolah membawa penonton kembali ke jejak sejarah panjang tanah Pasundan.

Tak berhenti di situ, suasana semakin hangat ketika lagu Bubuy Bulan mengalun, diiringi denting angklung dari komunitas Bogor Wanita Berkebaya. Banyak yang ikut bersenandung pelan—sebuah momen sederhana yang justru terasa begitu dalam.

Ratusan Pegiat Seni Bogor Berkumpul, Hangatnya Silaturahmi Budaya di Bumi Ageung Batu Tulis

Dari Silaturahmi Menuju Aksi Nyata

Ketua Umum Forum Kabuyutan Pakwan Padjajaran, TB. Lutfi Suyudi, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan hanya tradisi tahunan.

Lebih dari itu, ini adalah langkah untuk menyatukan arah gerak para pegiat budaya.

“Kami ingin semua elemen bersatu, tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mendorong perhatian terhadap situs cagar budaya yang mulai terlupakan.”

Ada kegelisahan yang disampaikan—tentang situs-situs budaya yang rusak, terbengkalai, bahkan hilang.

Menjaga Alam, Menjaga Jati Diri

Pesan yang sama juga disampaikan oleh R. Rulany Indra Gartika Wirahaditenaya Rusadi yang hadir dalam acara tersebut.

Ia mengingatkan bahwa budaya dan alam adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan.

Sementara itu, Muhammad Norman menegaskan pentingnya menjaga warisan leluhur sebagai bagian dari identitas bangsa.

“Warisan budaya adalah peninggalan berharga dari karuhun kita. Kita harus merawatnya.”

Generasi Muda Ikut Ambil Peran

Tak hanya para senior, anak-anak pun tampil memukau lewat pertunjukan pencak silat.

Di sinilah harapan itu terlihat—bahwa budaya tidak berhenti di satu generasi.

Ia terus hidup, diwariskan, dan diperjuangkan.

Di akhir acara, para peserta saling bersalaman. Sederhana, tapi penuh makna.

Bukan hanya tentang saling memaafkan, tapi juga tentang memperkuat ikatan—bahwa mereka berjalan di tujuan yang sama.

Menjaga budaya.
Menjaga jati diri.

Dan memastikan warisan karuhun tetap hidup di masa depan. (Ckr03/red)

Previous articleGreen Jobs Fest Bandung 2026 Dorong Lahirnya Talenta Muda untuk Masa Depan Berkelanjutan