Home Event Ketika Ruang Publik Kabupaten Bogor Menjadi Panggung bagi Seni dan Budaya

Ketika Ruang Publik Kabupaten Bogor Menjadi Panggung bagi Seni dan Budaya

0
1
Ketika Ruang Publik Kabupaten Bogor Menjadi Panggung bagi Seni dan Budaya

KitaBogor – Di tengah ramainya ruang publik Kabupaten Bogor, ada suara musik, gerak tari, pertunjukan sanggar, hingga berbagai ekspresi budaya yang perlahan menemukan tempatnya.

Ruang-ruang itu bukan sekadar tempat warga berjalan, berolahraga, atau berkumpul. Pemerintah Kabupaten Bogor kini berupaya menjadikannya sebagai panggung terbuka bagi seniman dan budayawan untuk bertemu dengan masyarakat.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika mengatakan, penyediaan ruang publik untuk seni dan budaya merupakan bagian dari proses pembangunan yang telah dirancang sejak lama. Namun, pelaksanaannya kini mulai semakin terlihat.

“Sebagian memang sudah direncanakan lama dan dieksekusi cukup signifikan di kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto,” kata Ajat.

Menurutnya, pembangunan daerah seharusnya tidak berhenti pada pembangunan fisik. Sebuah ruang publik akan terasa lebih hidup ketika di dalamnya ada interaksi, kreativitas, dan kegiatan yang mempertemukan masyarakat.

Karena itu, sejumlah fasilitas seperti Alun-alun Tegar Beriman Cibinong, Cibinong Setu Plaza, Taman Siliwangi, Gelora Pakansari, Auditorium dan Gedung Tegar Beriman, hingga alun-alun di sejumlah kecamatan, mulai memiliki fungsi yang lebih luas.

Para seniman dan budayawan dapat memanfaatkan ruang-ruang tersebut untuk tampil dan memperkenalkan karya mereka.

Salah satu contohnya terlihat dalam kegiatan Car Free Day yang rutin digelar setiap pekan. Di sana, panggung bagi sanggar seni dan budayawan dapat hadir berdampingan dengan aktivitas warga.

Helaran dan gelar budaya di tingkat kabupaten maupun kecamatan juga menjadi ruang perjumpaan lainnya. Begitu pula kegiatan yang digelar perangkat daerah maupun komunitas.

Bagi Ajat, kesempatan tampil di ruang publik memiliki arti lebih besar daripada sekadar pertunjukan.

“Ruang ekspresi, ruang kreasi dan ruang kolaborasi ini menjadi bagian dari dukungan pemerintah daerah untuk melestarikan dan mempromosikan kebudayaan daerah, khususnya di Kabupaten Bogor,” ujarnya.

Ketika seniman mendapat ruang untuk tampil, masyarakat pun mendapat kesempatan untuk mengenal budaya yang mungkin selama ini hanya mereka dengar dari cerita.

Di titik itulah ruang publik menjadi lebih dari sekadar tempat. Ia berubah menjadi ruang perjumpaan antargenerasi, tempat tradisi bertemu kreativitas, dan panggung bagi budaya untuk terus bergerak.

Sebab menjaga kebudayaan bukan berarti membuatnya berhenti di masa lalu. Kebudayaan justru akan tetap hidup ketika ada ruang bagi orang-orang untuk menciptakan, menampilkan, dan mewariskannya kepada generasi berikutnya. (Mur)

Previous articleBukan Sekadar Festival, CIA Fest 2026 Ajak Anak Peduli Teman Sebaya di Sumatra