KitaBogor – Dinas Perhubungan Kota Bogor resmi mengaktifkan layanan di 50 titik bus stop atau halte Biskita Transpakuan yang tersebar di empat koridor layanan.
Empat koridor tersebut meliputi Koridor 1 rute Terminal Bubulak–Cidangiang, Koridor 2 rute Ciawi–Terminal Bubulak, Koridor 5 rute Stasiun Bogor–Terminal Ciparigi, dan Koridor 6 rute Stasiun Bogor–Parung Banteng.
Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Bogor, Dody Wahyudin mengatakan. Pengaktifan titik halte dilakukan berdasarkan permintaan masyarakat serta aspirasi dari anggota DPRD Kota Bogor.
Menurutnya, masih terdapat sejumlah titik perjalanan pada rute Biskita Transpakuan yang sebelumnya belum sepenuhnya terakomodasi dengan fasilitas bus stop atau halte.
“Penambahan halte ini didasari atas permintaan warga masyarakat dan juga aspirasi dari dewan. Karena ada beberapa titik perjalanan yang memang belum terakomodir,” ujar Dody, Minggu (17/5/2026).
Ia menjelaskan, aktivasi halte juga dilakukan berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap titik bus stop yang sudah ada sebelumnya. Beberapa halte dinilai belum ideal karena tidak tersedia secara berpasangan di kedua sisi jalan.
Akibat kondisi tersebut, penumpang yang naik dari satu titik sering kali harus turun di lokasi lain yang cukup jauh dari titik keberangkatan awal.
“Harusnya bus stop itu berpasang-pasangan, kiri dan kanan jalan. Jadi misalnya masyarakat yang naik di titik A, saat pulang atau berjalan ke arah sebaliknya itu bisa turun di titik A lagi di halte seberangnya,” jelasnya.
Dody menambahkan, layanan Transpakuan menggunakan skema buy the service yang dibiayai Pemerintah Kota Bogor melalui APBD. Karena itu, seluruh masyarakat dinilai berhak mendapatkan akses layanan transportasi massal secara merata.
Selain melakukan evaluasi halte eksisting, Dishub Kota Bogor juga melakukan analisa terhadap kantong-kantong penumpang potensial. Yang sebelumnya belum memiliki titik pemberhentian.
Menurut Dody, sejumlah halte sebelumnya hanya tersedia di area pertokoan atau pusat perbelanjaan. Sementara akses menuju kawasan permukiman warga dan gang-gang padat penduduk belum memiliki fasilitas bus stop.
“Harusnya halte atau bus stop itu berada di titik yang dekat dengan kantong penumpang juga. Misalnya akses menuju perumahan atau kawasan permukiman warga,” katanya.
Ia menegaskan, aktivasi yang dilakukan saat ini bukan sepenuhnya pembangunan halte baru. Sebagian besar titik tersebut sebenarnya sudah direncanakan sejak 2025. Dan telah dilengkapi rambu bus stop, namun baru mulai difungsikan secara optimal pada tahun 2026.
Berdasarkan data Dishub Kota Bogor, rincian aktivasi halte meliputi enam titik di Koridor 1, 18 titik di Koridor 2, 13 titik di Koridor 5, dan 13 titik di Koridor 6.
Dengan penambahan tersebut, total halte aktif di Koridor 1 kini mencapai 40 titik, Koridor 2 sebanyak 62 titik, Koridor 5 sebanyak 45 titik, dan Koridor 6 sebanyak 51 titik.
Dishub Kota Bogor berharap evaluasi dan aktivasi halte ini dapat membuat layanan Biskita Transpakuan semakin mudah dijangkau masyarakat. Sekaligus mendorong warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal. (Mur)


