Tuesday, 22 September 2026
Home Event Pulau Tidung Jadi Lokasi Aksi Konservasi Keempat Mangrove Jakarta Impact dan Digital...

Pulau Tidung Jadi Lokasi Aksi Konservasi Keempat Mangrove Jakarta Impact dan Digital Edge Indonesia

0
2
Pulau Tidung Jadi Lokasi Aksi Konservasi Keempat Mangrove Jakarta Impact dan Digital Edge Indonesia

KitaBogor – Upaya menjaga ekosistem pesisir kembali dilakukan di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, Jakarta. Mangrove Jakarta Impact bersama Digital Edge Indonesia menggelar kegiatan konservasi untuk keempat kalinya dengan menggabungkan sejumlah aksi lingkungan, mulai dari penanaman mangrove, restorasi terumbu karang, pelepasan ikan hingga pembersihan pantai.

Kegiatan yang berlangsung pada Senin (21/9/2026) tersebut menargetkan penanaman sebanyak 5.000 bibit mangrove dan 500 terumbu karang. Selain itu, peserta juga terlibat dalam pelepasan ikan serta Beach Cleanup Day yang berhasil mengumpulkan sekitar 300 kilogram sampah dari kawasan pesisir.

Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menambah vegetasi pesisir maupun memulihkan ekosistem laut. Peserta juga diajak melihat keterkaitan antara kondisi mangrove, terumbu karang, kebersihan pantai, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir.

Menghubungkan Tiga Ekosistem Pesisir

Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga kawasan pesisir, sementara terumbu karang menjadi salah satu habitat bagi berbagai biota laut. Keduanya juga berhubungan dengan kondisi perairan dan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya.

Karena itu, kegiatan konservasi di Pulau Tidung dirancang tidak hanya dalam bentuk penanaman. Pelepasan ikan menjadi bagian dari upaya memperhatikan keanekaragaman hayati perairan, sedangkan pembersihan pantai memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai persoalan sampah pesisir.

Pendekatan tersebut membuat peserta dapat melihat bahwa persoalan lingkungan di wilayah pesisir tidak berdiri sendiri. Kerusakan atau pencemaran pada satu bagian ekosistem dapat berpengaruh terhadap bagian lainnya.

Founder Mangrove Jakarta Impact, Paundra Hanutama, mengatakan kegiatan konservasi perlu dilakukan secara konsisten dan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

“Kegiatan keempat bersama Digital Edge Indonesia ini menunjukkan bahwa konservasi membutuhkan komitmen dan kesinambungan. Kita tidak hanya berbicara tentang menanam 5.000 mangrove atau 500 terumbu karang, tetapi juga bagaimana memastikan setiap aksi memiliki nilai edukasi dan membangun kepedulian masyarakat,” ujar Paundra.

Menurut dia, ketika mangrove, terumbu karang, dan kebersihan pantai dijaga secara bersama, upaya tersebut dapat menjadi bagian dari membangun lingkungan yang lebih sehat untuk generasi mendatang.

Ia juga menilai keterlibatan perusahaan, komunitas, dan masyarakat menjadi bagian penting untuk memperluas dampak program konservasi. Edukasi, pemantauan, dan tanggung jawab bersama diperlukan agar manfaat kegiatan dapat terus dirasakan setelah aksi lapangan selesai.

Perusahaan Terlibat Langsung dalam Aksi Lingkungan

Kolaborasi tersebut juga menjadi bentuk keterlibatan perusahaan dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan pesisir.

Chief Sustainability Officer Digital Edge Indonesia, Andrew Rigoli, mengatakan keberlanjutan tidak cukup hanya dibicarakan melalui kebijakan, tetapi juga membutuhkan aksi nyata dan kemitraan dalam jangka panjang.

“Sustainability is about taking meaningful action and building long-term partnerships that create positive impact,” kata Andrew.

Ia mengatakan kolaborasi dengan Mangrove Jakarta Impact diarahkan untuk mendukung perlindungan ekosistem pesisir sekaligus mendorong karyawan dan mitra perusahaan ikut terlibat dalam kegiatan lingkungan.

Menurut Andrew, pelaksanaan kegiatan keempat ini menjadi bagian dari upaya menjadikan prinsip keberlanjutan sebagai bagian dari keterlibatan perusahaan dengan masyarakat dan lingkungan.

Kumpulkan 300 Kilogram Sampah

Selain penanaman mangrove dan terumbu karang, Beach Cleanup Day menjadi salah satu kegiatan yang mendapat perhatian dalam aksi konservasi tersebut.

Dari kegiatan pembersihan pantai, sekitar 300 kilogram sampah berhasil dikumpulkan. Jumlah tersebut sekaligus menunjukkan bahwa persoalan sampah di kawasan pesisir masih membutuhkan perhatian dan penanganan secara berkelanjutan.

Sampah yang berada di pantai tidak hanya mengganggu kondisi lingkungan. Tetapi juga berpotensi memberikan dampak terhadap biota laut apabila tidak dikelola dengan baik.

Bagi peserta, kegiatan bersih pantai memberikan pengalaman langsung. Bahwa menjaga ekosistem pesisir tidak hanya berkaitan dengan menanam pohon atau memulihkan terumbu karang. Kebiasaan mengurangi dan mengelola sampah juga menjadi bagian penting dari upaya konservasi.

Konservasi Membutuhkan Keberlanjutan

Memasuki pelaksanaan keempat, kolaborasi Mangrove Jakarta Impact dan Digital Edge Indonesia menunjukkan adanya upaya membangun program lingkungan secara berkelanjutan.

Target 5.000 bibit mangrove, 500 terumbu karang, pelepasan ikan, serta pengumpulan 300 kilogram sampah menjadi rangkaian aksi yang menyatukan pemulihan ekosistem dengan edukasi lingkungan.

Namun, keberhasilan konservasi tidak berhenti ketika kegiatan lapangan selesai. Pemeliharaan, pemantauan, dan evaluasi kondisi ekosistem menjadi bagian penting untuk memastikan hasil penanaman dan restorasi dapat berkembang dalam jangka panjang.

Melalui kolaborasi antara perusahaan, komunitas, dan masyarakat, program konservasi di kawasan pesisir diharapkan dapat terus berkembang sesuai dengan kebutuhan lingkungan dan masyarakat setempat.

Pada akhirnya, menjaga Pulau Tidung dan kawasan pesisir bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak. Konsistensi dan keterlibatan bersama menjadi kunci agar upaya menjaga ekosistem mangrove, laut, dan pantai dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang. (Hen)

Previous articleWCD Jawa Barat 2026 Dorong Pemuda Bergerak Lewat Talkshow “Trash to Action”
Next articleGrand Dafam Braga Bandung Dorong Kepedulian Lingkungan lewat Pemilahan Sampah