KitaBogor – Pagi yang basah tak menyurutkan semangat warga Sukasari RT 01/RW 02, Kelurahan Sukasari, Kec. Bogor Timur, Kota Bogor, untuk bergotong royong membersihkan bantaran Kali Ciliwung, Rabu (22/4/2026). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati Hari Bumi 2026 dengan melibatkan berbagai komunitas pegiat seni dan budaya.
Sejak pukul 08.00 WIB, warga bersama komunitas tampak guyub memunguti sampah plastik di sepanjang bantaran kali. Suasana penuh keakraban dan tawa mewarnai aksi kerja bakti tersebut, mencerminkan kepedulian bersama terhadap lingkungan.
Sejumlah tokoh dan perwakilan komunitas turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Ketua RW 01 Ayi Makmun, Ketua RT setempat Sholeh dan Sadat serta Ketua DKM Masjid Al-Huda Sukasari Ust. Julianto. Selain itu, kegiatan juga didukung oleh berbagai komunitas seperti Anak Muda Bilangan Siliwangi (Ambisi), Bogor Leum-Punk Club, Sambu Street, The Siekil, Rancage, Satgas Naturalisasi Ciliwung, LSM Pakuan Padjajaran, Sanggar Jangkar Jiwa, hingga Komunitas Penyanyi Jalanan (KPJ) Bogor yang menjadi motor penggerak kegiatan.

Acara diawali dengan doa bersama yang dipandu Ketua DKM Masjid Al-Huda, kemudian dilanjutkan dengan aksi bersih lingkungan. Kegiatan ditutup dengan pementasan happening art bertajuk “Satu Bumi Untuk Semua” yang dibawakan oleh Heri Cokro, Nizar ‘Keling’, Rian ‘Dugong’ Firmansyah, Roy ‘gimbal’ dan para seniman pinggiran lainnya.
Dalam sambutannya, Ketua KPJ Merdeka Bogor, Tohir Kulikulo, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga ruang kolaborasi antara seniman dan masyarakat.
“Hari Bumi seharusnya menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran bersama menjaga kelestarian bumi. Kami mungkin tidak memiliki banyak hal, tetapi kami punya semangat berkarya dan berbuat. Melalui kerja bakti dan seni, kami mencoba memberi edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Heri Cokro menjelaskan bahwa happening art yang ditampilkan merupakan bentuk refleksi atas kondisi lingkungan saat ini. Ia menegaskan bahwa kerusakan alam merupakan cerminan dari perilaku manusia.
“Lingkungan yang rusak adalah cermin rusaknya manusia. Bumi mampu mencukupi kebutuhan semua orang, tetapi tidak akan pernah cukup untuk memenuhi kerakusan manusia,” ungkapnya.
Melalui pertunjukan tersebut, para seniman menggambarkan berbagai persoalan lingkungan seperti pemanasan global, eksploitasi sumber daya alam, deforestasi, hingga konflik perebutan energi yang berdampak pada kerusakan ekosistem dan bencana berkelanjutan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan makan siang bersama menggunakan menu tradisional sederhana yang semakin mempererat kebersamaan antar peserta. Dalam sesi foto bersama, peserta menyuarakan pesan kuat: “Satu bumi untuk semua, kita kuat karena bumi kita.” (Ckr03)


