KitaBogor – Utomo Charge+ memperkuat perannya dalam pengembangan infrastruktur kendaraan listrik melalui kolaborasi dengan BYD untuk mendukung pengembangan teknologi pengisian daya ultra cepat atau Flash Charging di Indonesia.
Kolaborasi ini menjadi bagian dari persiapan infrastruktur pengisian daya generasi berikutnya. Selain meningkatkan akses terhadap teknologi pengisian berkecepatan tinggi, pengembangannya membutuhkan kesiapan jaringan listrik, manajemen energi, dan sistem operasional yang mampu mendukung kebutuhan daya besar.
BYD memperkenalkan teknologi Flash Charging dengan kemampuan pengisian daya hingga 1.500 kW melalui satu konektor. Menurut BYD, kendaraan kompatibel yang menggunakan Blade Battery generasi kedua dapat mengisi daya dari 10 persen menjadi 70 persen dalam sekitar lima menit, serta mencapai 97 persen dalam sembilan menit pada kondisi pengujian tertentu.
Teknologi tersebut berpotensi memangkas waktu pengisian kendaraan listrik secara signifikan. Meski demikian, hasil pengisian aktual dapat dipengaruhi oleh kompatibilitas kendaraan, kondisi baterai, suhu, serta kesiapan fasilitas dan pasokan listrik.
BYD juga menyampaikan target pengembangan hingga 100 fasilitas Flash Charging di Indonesia pada akhir 2026. Target ini menjadi salah satu pendorong bagi pelaku industri untuk mempersiapkan infrastruktur pendukung, termasuk kapasitas kelistrikan dan sistem pengelolaan energi.
Utomo Charge+ Siapkan Infrastruktur Pengisian Daya Generasi Baru
Bagi Utomo Charge+, kerja sama dengan BYD merupakan bagian dari upaya menyiapkan infrastruktur yang dapat mengikuti perkembangan teknologi kendaraan listrik.
Perusahaan yang bergerak dalam pengembangan dan pengoperasian Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) ini. Mengembangkan jaringan charging hub dengan mempertimbangkan lokasi strategis, integrasi kelistrikan, distribusi daya, keandalan operasional, dan kenyamanan pengguna.
Teknologi pengisian berdaya tinggi juga membuka peluang integrasi dengan sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS). Serta manajemen energi untuk mengoptimalkan penggunaan daya.
Business Unit Head Utomo Charge+, Mas Dwi Lestari, mengatakan. Bahwa perkembangan teknologi pengisian daya menuntut operator untuk memperhatikan lebih dari sekadar jumlah unit pengisi daya.
“Ke depan, daya saing infrastruktur pengisian tidak hanya ditentukan oleh jumlah charger, tetapi juga oleh kecepatan, keandalan, efisiensi energi, dan kemampuan memberikan pengalaman pengisian yang semakin praktis bagi pengguna,” ujar Mas Dwi Lestari dalam media gathering.
Ia menambahkan, kolaborasi dengan BYD merupakan bagian dari persiapan Utomo Charge+ untuk menghadirkan jaringan pengisian yang lebih luas, berkualitas, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
ASPELUSI: Kesiapan Energi Jadi Kunci
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengisian Listrik Indonesia (ASPELUSI), Anthony Utomo, menilai teknologi Flash Charging berpotensi meningkatkan penerimaan kendaraan listrik sekaligus membuka peluang investasi baru di sektor infrastruktur energi.
Menurutnya, waktu pengisian masih menjadi salah satu pertimbangan masyarakat ketika memutuskan beralih dari kendaraan berbahan bakar konvensional ke kendaraan listrik.
“Ketika waktu pengisian semakin mendekati pengalaman pengisian bahan bakar konvensional, maka salah satu hambatan psikologis utama masyarakat untuk beralih ke kendaraan listrik juga akan semakin berkurang,” kata Anthony.
Namun, ia mengingatkan bahwa pengembangan teknologi pengisian berdaya tinggi harus diikuti kesiapan infrastruktur energi. Hal tersebut mencakup kapasitas jaringan listrik, sistem manajemen energi, penyimpanan energi, dan model investasi yang berkelanjutan.
Anthony juga menekankan pentingnya kolaborasi antara produsen kendaraan, operator SPKLU, penyedia teknologi, PLN, pemerintah, dan investor.
Menurutnya, SPKLU perlu dipandang sebagai bagian dari infrastruktur energi strategis, bukan sekadar fasilitas pendukung kendaraan listrik. Perencanaan lokasi, pemilihan teknologi, dan kelayakan ekonomi menjadi faktor penting agar pengembangan jaringan dapat memberikan manfaat bagi pengguna sekaligus berkelanjutan bagi operator dan investor.
ASPELUSI, lanjut Anthony, mendorong kerangka regulasi yang mendukung inovasi, kemudahan investasi, dan pengembangan fasilitas pengisian daya berkapasitas tinggi.
Buka Peluang Investasi dan Kemitraan
Perkembangan pengisian daya ultra cepat berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap lokasi strategis, kapasitas kelistrikan yang memadai, serta sistem pengelolaan energi yang lebih efisien.
Utomo Charge+ melihat kondisi ini sebagai peluang untuk memperluas kemitraan dengan pemilik lahan, pengelola properti, kawasan komersial, pengembang, perusahaan transportasi, dan investor infrastruktur.
Pengembangan charging hub ke depan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kendaraan listrik saat ini. Sekaligus mempertimbangkan kesiapan teknologi, fleksibilitas kapasitas, efisiensi investasi, dan potensi pertumbuhan permintaan jangka panjang.
“Kami percaya bahwa pengembangan infrastruktur kendaraan listrik merupakan peluang kolaborasi jangka panjang. Utomo Charge+ membuka kesempatan bagi pemilik lahan, pengelola properti, dan mitra investasi. Untuk bersama-sama membangun jaringan pengisian daya yang berkelanjutan dan memiliki nilai ekonomi,” ujar Mas Dwi Lestari.
Dari pihak BYD, Business Development Mega Dealer BYD Haka Auto, Achmad Rosyadi, menyebut. Kolaborasi dengan operator infrastruktur sebagai salah satu upaya memperluas akses masyarakat terhadap teknologi pengisian daya terbaru.
“Melalui kerja sama dengan mitra strategis seperti Utomo Charge+. Kami berharap dapat memperluas jangkauan layanan pengisian daya dan memberikan pengalaman yang semakin baik. Bagi pengguna kendaraan listrik di Indonesia,” kata Achmad.
Kolaborasi Utomo Charge+ dan BYD menjadi bagian dari perkembangan ekosistem kendaraan listrik nasional. Keberhasilan teknologi pengisian ultra cepat nantinya tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perangkat, tetapi juga oleh kesiapan pasokan listrik, jaringan fasilitas, investasi, dan kemudahan akses bagi pengguna. (Hen)


