Wednesday, 12 August 2026
Home Lokal SNT 7 Bogor Beri Ruang Anak Kembangkan Talenta, dari Sains hingga Seni

SNT 7 Bogor Beri Ruang Anak Kembangkan Talenta, dari Sains hingga Seni

0
3
SNT 7 Bogor Beri Ruang Anak Kembangkan Talenta, dari Sains hingga Seni

KitaBogor Potensi anak tidak selalu langsung terlihat melalui medali atau piala. Ada anak yang menunjukkan bakatnya lewat rasa ingin tahu, kegemaran memahami cara kerja sesuatu, hingga ketertarikan pada sains dan teknologi.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) 7 Bogor dalam mengembangkan potensi murid sejak dini.

Salah satu cerita datang dari Misel, murid kelas VII yang menjadi bagian dari angkatan pertama SNT 7 Bogor. Pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (10/8/2026), Misel sudah membawa cita-cita yang cukup spesifik, yakni menjadi seorang peneliti.

Misel memiliki ketertarikan pada berbagai bidang, mulai dari fisika, sains, komputer, coding, kecerdasan artifisial atau AI, hingga bahasa Inggris.

Meski belum pernah berdiri di podium untuk menerima medali dari sebuah perlombaan, kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti mengembangkan diri.

“Saya sekolah di sini karena ingin memiliki fasilitas yang lebih baik, mengejar akademik saya, dan meningkatkan diri ke tingkat yang baru,” ujar Misel.

Bagi Misel, lingkungan sekolah baru menjadi kesempatan untuk mengenali lebih jauh kemampuan yang dimiliki sekaligus mencoba berbagai bidang yang selama ini menarik perhatiannya.

Ia ingin memperdalam pengetahuan di bidang sains dan komputer sekaligus memperluas wawasan. Dalam jangka panjang, Misel bercita-cita menjadi peneliti yang mempelajari makhluk hidup dan sejarah.

“Saya ingin menjadi anak yang lebih berprestasi lagi, memiliki banyak kemampuan, dan ingin membahagiakan orang tua saya,” katanya.

Potensi Anak Tidak Hanya Diukur dari Prestasi

Cerita Misel menjadi gambaran bahwa talenta seorang murid tidak selalu dapat dilihat dari prestasi yang telah diraih.

Rasa ingin tahu, ketertarikan terhadap suatu bidang, serta kemauan untuk terus belajar juga dapat menjadi pintu masuk untuk menemukan potensi yang sebelumnya belum terlihat.

Kepala SNT 7 Bogor, Fitriyani, mengatakan pemetaan awal terhadap murid angkatan pertama menunjukkan adanya keberagaman kemampuan yang cukup kuat.

Potensi tersebut tersebar di berbagai bidang, mulai dari bahasa, sains, olahraga hingga seni.

Sejumlah murid diketahui telah memiliki kemampuan bahasa Inggris dan Arab, mengikuti olimpiade, serta mengembangkan talenta di bidang seni. Bahkan, terdapat murid yang memiliki pengalaman seni tari hingga pernah mewakili Indonesia dalam ajang internasional.

“Dalam kondisi awal, kami sudah melihat begitu banyak potensi bakat dan minat yang sangat luar biasa. Ada anak-anak yang potensinya di bahasa, sains, hingga seni,” tutur Fitriyani.

Keragaman tersebut menjadi modal bagi SNT 7 Bogor untuk membangun pola pembelajaran yang tidak menyeragamkan perkembangan setiap murid.

Setiap anak diarahkan agar memiliki ruang untuk mengeksplorasi bidang yang sesuai dengan minat dan kekuatannya.

“SNT, salah satunya SNT 7 Bogor, akan didesain untuk memfasilitasi seluruh potensi bakat dan minat,” ujarnya.

Menurut Fitriyani, proses tersebut tidak berhenti pada tahap mengenali talenta. Para murid nantinya juga memperoleh pendampingan agar kemampuan yang dimiliki dapat berkembang secara bertahap melalui pembelajaran maupun berbagai aktivitas pengembangan diri.

Fasilitas Sekolah Jadi Ruang Mengasah Kemampuan

Pengembangan potensi murid juga didukung oleh fasilitas yang tersedia di lingkungan sekolah.

Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) SNT 7 Bogor, Muharsyad Al Azip, mengatakan fasilitas seperti lapangan futsal sintetis dapat dimanfaatkan murid secara rutin melalui kegiatan ekstrakurikuler.

Dengan demikian, fasilitas sekolah tidak hanya menjadi pelengkap lingkungan pendidikan, tetapi juga dapat menjadi ruang praktik bagi murid untuk mengasah keterampilan sekaligus menemukan bidang yang mereka minati.

Pendekatan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bidang. Murid diberikan kesempatan untuk mencoba, mengevaluasi kemampuan, kemudian menentukan bidang yang ingin mereka tekuni lebih serius.

Namun, pengembangan talenta di SNT 7 Bogor tidak berdiri sendiri. Kemampuan akademik dan berbagai potensi murid juga diarahkan untuk berjalan beriringan dengan pembentukan karakter.

Fitriyani menegaskan, kecakapan akademik dan prestasi perlu dilengkapi dengan karakter yang kuat agar murid memiliki bekal yang lebih utuh dalam menghadapi tantangan masa depan.

“Karena ketika pintar saja, tapi karakternya tidak kita asah, itu menjadi sesuatu yang sangat perlu kita pertimbangkan. Jadi karakter itu pun menjadi bagian dari visi besar Sekolah Nasional Terintegrasi di seluruh Indonesia,” katanya.

SNT Dorong Ekosistem Pendidikan yang Terintegrasi

Konsep tersebut sejalan dengan gagasan Sekolah Nasional Terintegrasi yang tidak menempatkan pendidikan hanya sebagai proses belajar di dalam kelas.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, mengatakan integrasi dalam SNT mencakup keseluruhan ekosistem pendidikan yang mendukung perkembangan murid.

“Jadi yang diintegrasikan bukan hanya jenjang dan bangunannya, tetapi juga pembelajaran, pengembangan guru, pembinaan karakter, pengembangan talenta, pemanfaatan fasilitas, dan penjaminan mutu. Dengan demikian perkembangan murid dapat didampingi secara lebih utuh dan berkelanjutan,” ujar Abdul Mu’ti di SNT 7 Bogor, Senin (10/8/2026).

Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan SNT tidak hanya diukur berdasarkan nilai akademik.

Sekolah juga diharapkan mampu membantu murid mengenali kekuatan dirinya, mengembangkan talenta, membangun karakter, serta memperoleh pengalaman yang relevan dengan cita-cita mereka.

Bagi Misel, perjalanan tersebut baru saja dimulai.

Ketertarikannya pada sains, komputer, AI, dan berbagai bidang pengetahuan kini mendapat ruang yang lebih luas untuk berkembang.

Dari seorang murid yang datang membawa rasa ingin tahu, SNT 7 Bogor berupaya membantu setiap anak menemukan arah dan kekuatannya.

Sebab, sebelum seorang anak menjadi peneliti, atlet, seniman, maupun profesional di masa depan, mereka terlebih dahulu membutuhkan kesempatan untuk mencoba, belajar, dan menemukan bidang yang benar-benar menjadi kekuatannya. (Mur)

Previous articleVokasi UI Gelar Pengmas di Bogor, Lansia Dibekali Pengetahuan Cegah Neuropati Sensoris
Next articleCegah Kekerasan Sejak Dini, Menteri PPPA Perkuat Peran PATBM dan SAPA