Home Event Setelah Delapan Tahun, RUCI Art Wall Kembali Hadir, 21 Seniman Terpilih dari...

Setelah Delapan Tahun, RUCI Art Wall Kembali Hadir, 21 Seniman Terpilih dari Lebih 300 Proposal

0
5
Setelah Delapan Tahun, RUCI Art Wall Kembali Hadir, 21 Seniman Terpilih dari Lebih 300 Proposal

KitaBogor – Setelah vakum selama delapan tahun, RUCI Art Space kembali menghadirkan RUCI Art Wall (RAW) Vol. 2, pameran kelompok yang menjadi ruang pertemuan bagi generasi baru seniman Indonesia.

Sebanyak 21 seniman terpilih akan menampilkan karya mereka dalam pameran yang berlangsung pada 9 Agustus hingga 27 September 2026 di RUCI Art Space, Jakarta. Mereka terpilih setelah melalui proses kurasi dari lebih dari 300 proposal yang masuk melalui program open submission.

Bagi RUCI Art Space, angka tersebut bukan sekadar statistik. Antusiasme ratusan seniman menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap ruang untuk memperkenalkan karya, membangun percakapan, dan memulai perjalanan berpameran masih begitu besar.

RAW pertama kali diperkenalkan pada November 2018 dengan gagasan sederhana, yakni memberikan kesempatan kepada seniman yang sedang membangun praktiknya untuk bertemu langsung dengan publik melalui ekosistem galeri seni rupa.

Setelah delapan tahun, gagasan tersebut kembali dihidupkan melalui RAW Vol. 2.

“RAW Vol. 2 mempertemukan dua bentuk ‘kemudaan’: mereka yang masih muda secara usia, dan mereka yang mungkin telah lama berkarya namun baru memulai perjalanan berpamerannya. Yang kami lihat bukan sekadar perbedaan medium atau pendekatan visual, tetapi keberanian untuk mengangkat pengalaman yang paling dekat dengan diri mereka sendiri,” ujar Rio Pasaribu, Gallery Director dan Co-Founder RUCI Art Space.

Dari Musik, Keluarga hingga Ingatan

Tidak ada satu cerita besar yang menjadi batasan bagi seluruh karya dalam RAW Vol. 2.

Sebaliknya, pameran ini menghadirkan beragam pengalaman personal yang kemudian diterjemahkan ke dalam karya seni. Musik, keluarga, identitas, ingatan, konsumsi, tubuh, hingga pengalaman tumbuh dewasa menjadi sejumlah gagasan yang muncul dari karya para seniman.

Salah satu karya hadir dari Elfa Zulham, yang selama ini dikenal sebagai pemain drum jazz Indonesia dan pernah menjadi bagian dari perjalanan kelompok seperti Tomorrow People Ensemble dan Batavia Collective.

Dalam pameran ini, kedekatannya dengan musik jazz diterjemahkan ke dalam medium lukisan.

Zulham menghadirkan figur musisi legendaris seperti Billie Holiday dan Miles Davis dalam visual yang tidak biasa. Kedua figur tersebut ditampilkan mengenakan jersey basket dan dilukis di atas lembaran partitur musik dari karya mereka.

Pertemuan antara jazz, budaya populer, dan seni rupa tersebut menjadi bentuk penghormatan personal Zulham terhadap para musisi yang memiliki pengaruh dalam perjalanan musikalnya.

Cerita lain datang dari Rosa Guerinoni yang menggunakan kayu reklamasi dari rumah-rumah tua sebagai bidang lukis.

Bagi Rosa, material tersebut bukan sekadar media untuk berkarya. Kayu membawa jejak waktu dan kehidupan yang pernah melekat padanya.

“Setiap panel membawa jejak kehidupan sebelumnya. Lapisan cat, goresan, dan bekas perjalanan waktu menjadi bagian dari karya itu sendiri,” ujar Rosa.

Rosa sebelumnya menempuh pendidikan classical sculpture di Academy of Fine Arts di Florence, Italia. Dalam praktik seninya, ia mengeksplorasi hubungan antara material, figur manusia, identitas, dan memori.

Sementara itu, Labaika Adkha Maharani menghadirkan karya patung resin berjudul Belajar dari Yang Kecil.

Figur dalam karya tersebut tampak mengulurkan kedua tangan seolah menawarkan sesuatu yang tidak terlihat. Bukan benda, melainkan pengalaman-pengalaman sederhana yang perlahan sering ditinggalkan ketika seseorang tumbuh dewasa.

Melalui gestur yang sederhana, karya tersebut mengajak pengunjung kembali memperhatikan hal-hal kecil yang mungkin terlihat sepele, tetapi sebenarnya ikut membentuk cara seseorang memahami kehidupan.

21 Seniman, 21 Cara Melihat Dunia

RAW Vol. 2 tidak mencoba memaksa seluruh karya berada dalam satu tema atau narasi.

Justru keberagaman menjadi bagian penting dari pameran ini.

Sebanyak 21 seniman menghadirkan perspektif masing-masing melalui medium, pengalaman, dan pendekatan visual yang berbeda.

Para seniman tersebut adalah Alfan Manthovani, Anady Aria, Anzi Matta, Bismar Siagian, Elfa Zulham, Jerojerrr, Fitra Rahardjo, Gusti Kade, Iqbal Dwi Priatna, Jaz Abraham Pratama, Labaika Adkha Maharani, Lowpop, M. Rizky Aditya, Raymond Gandayuwana, R. Dewa, Rosa Guerinoni, MivetBoi, Shavira Mada, Suwandi Waeng, Svkmatra, dan Trio Muharam.

Melalui pendekatan tersebut, pengunjung tidak hanya diajak melihat karya, tetapi juga menemukan beragam cara seniman memaknai pengalaman sehari-hari.

Membuka Pintu bagi Seniman Baru

Bagi RUCI Art Space, RAW juga memiliki misi yang lebih luas.

Program open submission menjadi salah satu cara untuk membuka akses bagi seniman yang belum banyak mendapatkan kesempatan untuk tampil di ruang galeri.

“Jumlah proposal yang kami terima menunjukkan bahwa begitu banyak seniman memiliki karya dan gagasan yang ingin mereka sampaikan, tetapi belum tentu memiliki ruang untuk memperlihatkannya,” kata Neysa Soediro, Marketing Director RUCI Art Space.

Menurutnya, semakin banyak ruang yang terbuka bagi seniman akan semakin banyak pula kesempatan bagi karya dan gagasan baru untuk bertemu dengan publik.

Pada akhirnya, RAW bukan hanya tentang memperkenalkan nama-nama baru.

Pameran ini menjadi sebuah titik awal. Tempat sebuah karya pertama kali bertemu dengan penonton, percakapan mulai terbentuk, dan perjalanan seorang seniman dapat berkembang menuju tahap berikutnya.

RUCI Art Wall Vol. 2 berlangsung pada 9 Agustus hingga 27 September 2026 di RUCI Art Space, Jakarta. (Mur)

Previous articleBawa Budaya Bogor ke Eropa, Rudy Susmanto Lepas Kontingen ke Hungaria dan Serbia
Next articleThe Late Shift, Teman Menikmati Malam di Rooms Inc d’Botanica