KitaBogor – Pemerintah Kota Bogor resmi melangkah lebih jauh dalam pengelolaan sampah dengan menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di kawasan Galuga.
Tak berhenti di situ, dalam waktu sekitar tujuh minggu ke depan, Pemkot juga menargetkan penandatanganan PKS untuk proyek PSEL kedua di Kayumanis.
Wali Kota Dedie A. Rachim menyebut langkah ini sebagai lompatan besar dalam upaya penanganan sampah di Kota Bogor.
“Insyaallah kita akan memiliki dua PSEL. Ini momentum penting agar pengelolaan sampah bisa dilakukan dari hulu hingga hilir,” ujarnya.
Dari Tumpukan Sampah Jadi Energi
Selama ini, pengelolaan sampah di Bogor masih didominasi metode konvensional—dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang terbuka. Cara ini dinilai berdampak pada pencemaran lingkungan, penurunan kualitas lahan, hingga polusi udara.
Dengan hadirnya PSEL, sampah tidak lagi sekadar dibuang, tetapi akan diolah menjadi energi listrik yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Program ini juga sejalan dengan kebijakan nasional dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.
Kapasitas Besar, Dampak Lebih Luas
PSEL Galuga direncanakan memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.500 ton sampah per hari, dengan sekitar 500 ton berasal dari Kota Bogor.
Sementara itu, PSEL Kayumanis akan memiliki kapasitas sekitar 1.000 ton per hari, dengan kontribusi sampah dari Kota Bogor dalam jumlah yang sama.
Kehadiran dua fasilitas ini diharapkan mampu mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir sekaligus meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah di kota.
Target Infrastruktur Rampung Mei 2026
Dedie menegaskan bahwa pembangunan PSEL menjadi tanggung jawab bersama seluruh jajaran pemerintah daerah. Ia juga mendorong percepatan persiapan, khususnya akses menuju lokasi proyek.
“Kita targetkan akses sudah siap pada Mei 2026 agar pembangunan berjalan lancar,” tegasnya.
Langkah Menuju Kota Lebih Bersih
Dengan adanya dua PSEL, Kota Bogor diharapkan mampu bertransformasi menuju sistem pengelolaan sampah modern yang lebih ramah lingkungan.
Langkah ini bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga bagian dari upaya jangka panjang untuk menciptakan kota yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. (Mur)


