KitaBogor – Merawat orang dengan demensia bukan hanya soal memastikan kebutuhan orang yang dirawat terpenuhi. Kondisi dan kesehatan orang yang merawat atau caregiver juga menjadi bagian penting dari keselamatan perawatan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan risiko kelelahan fisik dan emosional berkepanjangan atau burnout pada caregiver, terutama dari Generasi Y dan Z yang dalam banyak kasus berada pada posisi sandwich generation.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mengatakan pesan Hari Keselamatan Pasien Sedunia yang diperingati setiap 17 September, yakni safe care always, relevan dengan upaya menjaga kesehatan caregiver.
“Keselamatan pasien atau keselamatan orang yang dirawat itu dimulai dari keselamatan caregiver. Caregiver yang sehat adalah fondasi dari perawatan yang aman,” ujar Imran dalam webinar mengenai pencegahan burnout pada caregiver demensia Generasi Y dan Z di Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Indonesia Memasuki Fase Penduduk Menua
Imran mengatakan Indonesia saat ini mulai memasuki fase penduduk menua. Hampir 12 persen penduduk Indonesia berusia di atas 60 tahun dan proporsi tersebut diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 20 persen pada 2045.
Seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, perhatian terhadap demensia juga semakin penting. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 57 juta orang yang hidup dengan demensia di dunia, dengan hampir 10 juta kasus baru setiap tahun.
Di Indonesia, jumlah orang dengan demensia diproyeksikan mencapai sekitar 4 juta orang pada 2050.
Imran menegaskan, demensia bukan merupakan bagian normal dari proses penuaan. Kondisi tersebut berkaitan dengan kerusakan sel otak, dengan penyakit Alzheimer sebagai salah satu penyebab yang paling umum.
“Demensia ini bukan bagian normal dari penuaan. Ya, sekali lagi saya sampaikan demensia itu bukan atau tidak normal,” tegasnya.
Beban Caregiver Tidak Selalu Terlihat
Dampak demensia, kata Imran, tidak hanya dirasakan oleh orang yang mengalaminya. Keluarga dan caregiver juga menghadapi berbagai tantangan dalam proses perawatan.
Caregiver dapat berhadapan dengan perubahan fungsi kognitif, perilaku, dan emosi orang yang dirawat. Mereka juga perlu memastikan keselamatan, membantu mengakses layanan kesehatan, hingga mengambil keputusan mengenai perawatan.
Tantangan tersebut dapat menjadi semakin kompleks bagi Generasi Y dan Z yang berada dalam posisi sandwich generation. Di satu sisi mereka harus merawat orang tua, sementara di sisi lain masih menghadapi tuntutan pekerjaan, membangun keluarga, dan memenuhi kebutuhan hidup.
“Mereka dapat harus merawat orang tua dengan demensia di tengah tuntutan pekerjaan, membangun keluarga, dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya,” ungkap Imran.
Menurut dia, beban caregiver sering kali tidak terlihat. Kelelahan dan stres dapat dianggap sebagai konsekuensi dari tanggung jawab merawat anggota keluarga.
Akibatnya, kebutuhan untuk menjaga kesehatan diri sendiri justru sering ditempatkan di urutan terakhir.
“Padahal hal ini bila berlangsung terus-menerus kondisi ini bisa berujung pada burnout. Dan ketika caregiver-nya ini burnout, maka keselamatan pasien atau keselamatan orang yang dirawatnya itu juga ikut terancam,” ujarnya.
Burnout Perlu Diwaspadai Sejak Dini
Imran juga menyinggung pengalaman Kemenkes ketika melakukan skrining kesehatan jiwa terhadap orang tua anak penyandang disabilitas dalam kegiatan tahun sebelumnya.
Saat itu, hasil skrining menunjukkan hampir 90 persen orang tua yang mengikuti skrining memiliki potensi masalah kesehatan mental.
Imran menegaskan, hasil tersebut merupakan hasil skrining yang menunjukkan adanya potensi masalah dan bukan diagnosis kesehatan mental. Meski demikian, temuan itu menunjukkan bahwa orang yang menjalankan peran sebagai caregiver juga memiliki potensi menghadapi masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian.
Karena itu, Kemenkes mendorong caregiver Generasi Y dan Z untuk tidak menunggu sampai kelelahan menjadi semakin berat.
Tiga Pesan untuk Caregiver
Imran menyampaikan tiga pesan utama bagi caregiver yang merawat orang dengan demensia.
Pertama, menjaga keselamatan diri sebagai bagian dari keselamatan orang yang dirawat.
Caregiver perlu mengenali dan tidak mengabaikan tanda-tanda burnout. Menjaga waktu istirahat, melakukan aktivitas fisik, serta mendapatkan dukungan emosional menjadi bagian dari upaya menjaga kondisi diri.
“Jangan abaikan tanda-tanda burnout,” pesannya.
Kedua, membangun jejaring dukungan.
Perawatan sebaiknya tidak menjadi tanggung jawab satu orang. Keluarga, komunitas, tenaga kesehatan, hingga teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu membagi beban perawatan.
“Dukungan sosial bukan sekadar bantuan, tetapi ini adalah mekanisme keselamatan yang melindungi caregiver juga pasiennya,” katanya.
Ketiga, melakukan deteksi dini.
Deteksi tidak hanya diperlukan untuk melihat perubahan kondisi kognitif pada lansia, tetapi juga untuk mengenali tanda-tanda kelelahan pada diri caregiver.
Dengan deteksi lebih awal, dukungan dapat diberikan sebelum kondisi berkembang menjadi masalah yang lebih berat.
Keselamatan Pasien Dimulai dari Orang yang Merawat
Imran menekankan bahwa keselamatan pasien tidak semata-mata berkaitan dengan prosedur medis. Keselamatan juga dibangun melalui budaya peduli yang memperhatikan kondisi orang yang memberikan perawatan.
“Dan jika mereka sehat (caregiver), kuat, dan didukung, maka perawatan akan lebih aman, lebih manusiawi, dan lebih bermutu,” ujarnya.
Menurut Imran, edukasi mengenai peran dan kebutuhan caregiver perlu menjadi bagian dari penguatan dukungan bagi orang dengan demensia, keluarga, dan masyarakat.
Dengan demikian, perhatian terhadap demensia tidak hanya berhenti pada pertanyaan mengenai kebutuhan orang yang mengalami kondisi tersebut, tetapi juga mencakup kebutuhan orang yang setiap hari mendampinginya.
“Dengan begitu kita tidak hanya bertanya apa yang dibutuhkan orang dengan demensia tetapi juga apa yang dibutuhkan orang yang merawatnya. Caregiver sehat, perawatan pun selamat,” tutupnya. (Mur)


