KitaBogor – Program Kampung Mandiri Gelari Pelangi yang digerakkan Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kota Bogor mulai memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi keluarga.
Salah satu manfaat program tersebut dirasakan Mak Tirah, warga Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pengupas bawang untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Mak Tirah mulai menjalani pekerjaan tersebut setelah kondisi kesehatan suaminya menurun dan kerap mengalami sakit. Kondisi itu mendorongnya untuk mengambil peran lebih besar dalam membantu perekonomian keluarga.
Melalui program TP PKK Kota Bogor, Mak Tirah kini memperoleh bantuan berupa alat dan perlengkapan untuk mendukung aktivitasnya sebagai pengupas bawang.
Bantuan tersebut membuat pekerjaannya menjadi lebih ringan karena sebelumnya ia harus membawa dan menyediakan sendiri peralatan yang digunakan untuk bekerja.
“Alhamdulillah membantu banget ini buat emak. Karena kan untuk mengupas bawang ini emak bawa sendiri alat-alatnya. Jadi dengan ada bantuan ini emak gak harus beli, tapi bisa pakai ini,” ujar Mak Tirah, Kamis (27/8/2026).
Tidak hanya mendukung aktivitas ekonomi, program tersebut juga memberikan perhatian terhadap kondisi keluarga. Suami Mak Tirah yang kerap sakit mendapatkan pemantauan dari puskesmas maupun posyandu, terutama berkaitan dengan layanan bagi lanjut usia.
Di lingkungan Kampung Mandiri Bantarjati, TP PKK Kota Bogor juga menghadirkan sejumlah kegiatan pendukung, seperti pojok baca bagi anak-anak dan pelatihan keterampilan bagi ibu-ibu.
Yantie Rachim Dorong Perempuan Perkuat Keluarga
Ketua TP PKK Kota Bogor, Yantie Rachim, turun langsung mengunjungi Kampung Mandiri di Kelurahan Bantarjati.
Dalam kunjungan tersebut, Yantie menyapa para ibu sekaligus mendorong agar perempuan semakin berperan dalam membangun ketahanan keluarga.
Menurutnya, peran perempuan tidak hanya berkaitan dengan aktivitas ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek pendidikan anak, pemenuhan gizi dan penguatan keluarga.
Kegiatan tersebut juga diisi dengan berbagai sosialisasi mengenai peran pemerintah dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan perempuan dan keluarga.
Kampung Mandiri Kelurahan Bantarjati dibangun melalui kolaborasi berbagai pihak dengan semangat “Bersinergi, Berinovasi, Berdaya, Mandiri, Sejahtera.”
Yantie menilai penguatan masyarakat di tingkat kelurahan menjadi salah satu fondasi penting bagi pembangunan Kota Bogor.
“Saya mendukung penuh program ini, program yang sangat keren untuk menguatkan ekonomi keluarga lewat UMKM, meningkatkan keterampilan warga lewat pelatihan dan membangun ketahanan keluarga menuju kesejahteraan. Karena saya percaya, kalau kelurahannya kuat, maka kotanya pun akan kuat,” ujar Yantie.
Warga Dikenalkan Identitas Kependudukan Digital
Dalam kunjungan tersebut, masyarakat juga mendapatkan sosialisasi mengenai Identitas Kependudukan Digital (IKD) yang menjadi bagian dari transformasi administrasi kependudukan dari e-KTP menuju layanan digital.
Sosialisasi disampaikan Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) dan Pemanfaatan Data Disdukcapil Kota Bogor, Ruly Hasanul Basri.
Menurut Ruly, data kependudukan digital nantinya dapat dimanfaatkan untuk mendukung layanan perlindungan sosial yang lebih akurat melalui kolaborasi antara Disdukcapil dan Dinas Sosial Kota Bogor.
Masyarakat nantinya dapat mengusulkan perubahan desil untuk mengajukan bantuan secara mandiri maupun melalui agen atau kader yang berada di wilayah.
Ruly menjelaskan, sistem tersebut memungkinkan pembaruan informasi masyarakat dilakukan berdasarkan kondisi aktual, termasuk melalui proses pemindaian wajah yang terhubung dengan data kependudukan.
“Jadi ke depan masyarakat dapat mengusulkan perubahan desil untuk mengajukan permohonan bantuan. Jadi nanti bisa dilakukan secara mandiri atau melalui agen-agen dari dinas yang mencakup peran para kader di wilayah,” jelasnya.
Menurutnya, sistem berbasis data tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi kesalahan, manipulasi maupun ketidaktepatan dalam penyaluran bantuan.
“Sehingga sudah tidak ada lagi tipu-tipu, manipulasi data ataupun karena kedekatan, karena semua akan sesuai dengan kondisi real,” sambung Ruly.
Meski demikian, pembaruan desil tetap akan mempertimbangkan berbagai variabel yang menjadi dasar penentuan desil.
Dengan pembaruan data yang lebih akurat, pemerintah berharap bantuan sosial dapat diberikan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan sehingga manfaat program perlindungan sosial dapat semakin tepat sasaran. (Mur)


