KitaBogor – Trailer film terkadang memberikan cukup banyak petunjuk untuk membuat penonton merasa sudah mengetahui jalan cerita. Namun, kesan tersebut justru ingin dipatahkan oleh film Lobang Buaya garapan sutradara Hanung Bramantyo.
Film produksi Adhya Pictures dan Dapur Film tersebut menggelar Gala Premiere di Epicentrum XXI, Jakarta. Sejumlah pemain utama, termasuk Baskara Mahendra, Carissa Perusset, Anya Zen, dan Mathias Muchus, turut hadir dalam acara tersebut.
Menjelang penayangannya di bioskop Indonesia, film ini menawarkan perpaduan horor, misteri, dan fiksi sejarah melalui kisah investigasi seorang perwira muda yang berusaha mengungkap rangkaian pembunuhan misterius di Desa Lobang Buaya.
Bagi penonton yang merasa sudah mengetahui siapa dalang di balik seluruh kejadian hanya berdasarkan trailer, film ini masih menyimpan sejumlah kejutan.
Teror yang Datang Setiap Tanggal 30
Cerita Lobang Buaya mengambil latar satu tahun sebelum peristiwa 1965. Namun, film ini merupakan karya fiksi yang menggunakan konteks sejarah sebagai bagian dari latar ceritanya.
Tokoh utama dalam film adalah Letnan Soegeng, yang diperankan Baskara Mahendra. Ia ditugaskan ke Desa Lobang Buaya untuk menyelidiki kasus kriminal yang melibatkan sejumlah tokoh penting di wilayah tersebut.
Penyelidikan semakin rumit setelah satu per satu orang berpengaruh ditemukan meninggal dunia dengan luka yang memiliki pola tertentu.
Ada satu hal yang membuat kasus tersebut semakin misterius. Pembunuhan selalu terjadi tepat pada tanggal 30 setiap bulan.
Pola tersebut membuat warga desa hidup dalam ketakutan. Ketika tanggal 30 semakin dekat, pertanyaan mengenai siapa korban berikutnya dan siapa sebenarnya pelaku di balik rangkaian pembunuhan menjadi semakin sulit dijawab.
Hanung Tegaskan Film sebagai Karya Fiksi
Penggunaan latar sejarah dalam film membuat Hanung Bramantyo memberikan penjelasan mengenai batas antara cerita fiksi dan peristiwa sejarah.
Hanung memahami bahwa pendekatan horor dalam cerita yang bersinggungan dengan konteks sejarah 1965 dapat menimbulkan beragam pandangan. Karena itu, ia menegaskan bahwa Lobang Buaya tidak dibuat sebagai penceritaan ulang tragedi 30 September 1965.
Dalam kesempatan tersebut, Hanung mengatakan bahwa unsur horor digunakan sebagai bahasa sinematik untuk menggambarkan dendam dan trauma dalam dunia fiksi yang dibangun film.
“Saya memahami jika ada orang yang merasa pendekatan horor tidak tepat. Itu adalah pandangan yang sah. Tetapi saya berharap pilihan genre tidak otomatis dianggap sebagai bukti bahwa pembuat film tidak memiliki empati. Bagi saya, empati terhadap sejarah bukan hanya soal memilih genre yang dianggap serius,” ujar Hanung.
Ia menambahkan bahwa film tersebut dibuat untuk bercerita mengenai bagaimana dendam dan kekuasaan dapat meninggalkan dampak panjang.
“Saya membuat film ini bukan untuk menertawakan tragedi. Saya membuatnya untuk bercerita tentang bagaimana dendam dan kekuasaan dapat meninggalkan teror yang jauh lebih panjang daripada kehidupan orang-orang yang menciptakannya,” katanya.
Menurut Hanung, ketika cerita memasuki konteks 30 September 1965, penonton diharapkan menyadari adanya batas antara dunia fiksi film dan tragedi sejarah yang menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia.
Baskara Mahendra Ikut Terkecoh
Misteri yang dibangun dalam film ternyata juga menjadi tantangan bagi Baskara Mahendra ketika memerankan Letnan Soegeng.
Baskara harus membawa karakternya masuk ke Indonesia pada era 1960-an sekaligus mengikuti alur investigasi yang memiliki sejumlah perubahan arah.
Ia mengaku tidak mudah mengetahui siapa sebenarnya dalang di balik rangkaian kejadian tersebut, bahkan ketika dirinya sudah terlibat langsung dalam proses produksi.
“Memerankan Soegeng benar-benar pengalaman yang sangat unik bagi saya. Di film ini saya harus bermain peran di latar yang tidak familiar dengan saya, yaitu Indonesia tahun 1960-an, dan mengikuti investigasi Soegeng dengan banyaknya plot twist di film ini adalah pengalaman yang seru banget, bahkan saya yang ikut main filmnya nggak bisa nebak siapa dalangnya,” tutur Baskara.
Pengakuan tersebut menggambarkan bagaimana cerita sengaja dirancang untuk membuat karakter maupun penonton mempertanyakan setiap petunjuk yang muncul.
Setiap tokoh yang hadir memiliki hubungan dengan lingkungan Desa Lobang Buaya. Dari tokoh masyarakat, aparat, pejabat lokal, hingga warga desa, masing-masing memiliki sisi cerita yang perlahan terbuka sepanjang penyelidikan Soegeng.
Siap Hadir di Bioskop
Setelah menggelar Gala Premiere, Lobang Buaya dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 1 Oktober 2026.
Film ini akan hadir di jaringan XXI, CGV, Cinepolis, dan bioskop lainnya di Indonesia.
Bagi penonton yang ingin mengikuti misteri yang dibangun Hanung Bramantyo, perjalanan Letnan Soegeng akan menjadi kunci untuk mengungkap rangkaian pembunuhan yang terjadi setiap tanggal 30.
Informasi mengenai film dan konten terbaru dapat diikuti melalui akun media sosial resmi @filmlobangbuaya, @adhyapictures, dan @dapurfilm. (Mur)


