Sunday, 20 September 2026

    Dari Tantangan Industri Jadi Prototipe, Mahasiswa UI Unjuk Inovasi di Hackathon 2026

    0
    2
    Dari Tantangan Industri Jadi Prototipe, Mahasiswa UI Unjuk Inovasi di Hackathon 2026

    KitaBogor – Bagi mahasiswa, belajar teknologi tidak selalu harus berhenti di ruang kelas. Tantangan dari dunia industri bisa menjadi ruang lain untuk menguji pengetahuan sekaligus belajar memahami persoalan yang terjadi di lapangan.

    Hal tersebut terlihat dalam Hackathon UI 2026 yang digelar Universitas Indonesia pada 17–18 September 2026 di Ballroom Hotel RA Suites Simatupang, Jakarta.

    Sebanyak 30 tim mahasiswa UI mengikuti ajang yang mengusung tema “Securing the Digital Frontier & Automating the Future Supply Chain”.

    Tema tersebut membawa peserta pada dua isu yang semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari dan dunia usaha, yaitu keamanan digital serta perkembangan otomasi dalam rantai pasok.

    Bukan Sekadar Adu Ide

    Ada perbedaan antara memiliki ide dan mampu membuat ide tersebut bekerja.

    Karena itu, peserta Hackathon UI 2026 tidak hanya diminta mempresentasikan gagasan. Mereka harus memahami tantangan yang diberikan, menyusun solusi, mengembangkan prototipe atau minimum viable product (MVP), kemudian mempresentasikan hasilnya.

    Proses tersebut membuat mahasiswa berhadapan dengan persoalan yang lebih konkret.

    Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Kemahasiswaan dan Alumni UI, Prof. Dr. Hamdi Muluk, M.Si., Psikolog, mengatakan tema yang diangkat tidak terlepas dari perkembangan AI yang semakin luas digunakan.

    “Tema ini dipilih karena perkembangan teknologi termasuk munculnya AI (kecerdasan artifisial) yang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Perkembangan teknologi AI tidak dapat dipisahkan dari keamanan data yang sangat penting,” ujar Hamdi saat ditemui di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

    Menurutnya, perkembangan AI juga membawa perhatian baru terhadap bagaimana data digunakan dan dilindungi.

    Belajar dari Persoalan Dunia Industri

    Hackathon kali ini juga mencoba mendekatkan mahasiswa dengan dunia industri.

    Lima mitra ikut terlibat, yakni PT IDSurvey, PT Sucofindo, PT Paragon Technology and Innovation, BNI Ventures, dan PT Aplikanusa Lintasarta.

    Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi UI, Chairul Hudaya, Ph.D., mengatakan keterlibatan perusahaan diarahkan agar solusi yang dikembangkan mahasiswa memiliki keterkaitan dengan kebutuhan nyata.

    “Keterlibatan industri dalam Hackathon UI 2026 kami dorong untuk memastikan kompetisi ini menghasilkan real impact. Dari 30 tim yang mengikuti kompetisi, kami berharap akan muncul solusi yang benar-benar dapat menjawab kebutuhan dan persoalan yang dihadapi oleh mitra industri,” kata Chairul.

    Bagi mahasiswa, pola seperti ini memberikan pengalaman yang berbeda. Mereka tidak hanya memikirkan apakah sebuah teknologi bisa dibuat, tetapi juga mempertimbangkan siapa yang akan menggunakannya dan persoalan apa yang hendak diselesaikan.

    146 Mahasiswa Belajar Memecahkan Masalah

    Sebanyak 146 mahasiswa mengikuti rangkaian pengembangan solusi selama dua hari.

    Dari sebuah tantangan, mereka harus bergerak menuju ide, kemudian prototipe dan solusi yang dapat dipresentasikan.

    Di dalam proses tersebut, kemampuan teknis berjalan beriringan dengan kemampuan bekerja sama, mengatur waktu dan memahami kebutuhan pengguna.

    Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses belajar mahasiswa sebelum memasuki dunia profesional yang memiliki persoalan dan tuntutan berbeda-beda.

    Ketika Inovasi Bisa Dilanjutkan

    Salah satu hal yang juga menarik dari Hackathon UI 2026 adalah adanya peluang bagi solusi yang dihasilkan untuk dikembangkan setelah kompetisi selesai.

    UI memberikan hadiah dengan nilai total ratusan juta rupiah bagi tim-tim terbaik. Peserta juga memiliki kesempatan memperoleh Golden Ticket untuk mengikuti program UI INCUBATE.

    Dengan adanya jalur lanjutan tersebut, prototipe yang dibuat selama hackathon memiliki kesempatan untuk dikembangkan lebih jauh.

    Bagi mahasiswa, pengalaman ini menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu selesai ketika presentasi berakhir. Sebuah gagasan masih membutuhkan pengujian, pengembangan, dan kolaborasi agar dapat menjadi solusi yang benar-benar digunakan.

    Pada akhirnya, Hackathon UI 2026 menjadi ruang pertemuan antara kreativitas mahasiswa dan persoalan dunia industri. Dari ruang tersebut, mahasiswa belajar bahwa teknologi bukan hanya soal membuat sesuatu yang baru, tetapi juga tentang memahami masalah dan mencari cara agar solusi yang dibuat memiliki manfaat. (Hen)

    Previous articleHUT ke-25 Demokrat, Turnamen Padel Jadi Ajang Olahraga dan Silaturahmi