KitaBogor – Puncak perayaan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544 menghadirkan sejarah baru bagi Kota Bogor. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor resmi meluncurkan Festival Helaran Pajajaran sebagai identitas budaya baru yang akan menjadi agenda tahunan dan digelar secara berkelanjutan pada tahun-tahun mendatang.
Festival yang berlangsung di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, Sabtu (27/6/2026) malam, berhasil menyedot perhatian ribuan warga. Sejak sore hari, masyarakat sudah memadati kawasan acara untuk menyaksikan rangkaian kirab budaya dan pertunjukan teatrikal yang mengangkat kejayaan Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Berbeda dari helaran budaya sebelumnya, Festival Helaran Pajajaran hadir dengan konsep teatrikal berjalan yang menceritakan perjalanan sejarah Prabu Siliwangi dan kebesaran Kerajaan Pakuan Pajajaran. Konsep tersebut dirancang tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi sekaligus penguatan identitas sejarah Kota Bogor.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengatakan bahwa perubahan nama dan konsep helaran merupakan bagian dari upaya membangun karakter masyarakat melalui sejarah, budaya, dan kearifan lokal.
“Tahun ini kita mulai dengan nama Festival Helaran Pajajaran yang akan dilaksanakan mulai tahun 2026 dan terus berlanjut ke masa mendatang. Kenapa Helaran Pajajaran? Karena kita sedang mengukir banyak sejarah baru. Saat ini kita sudah memiliki Museum Pajajaran dan ini menjadi bagian dari upaya membangun manusia Kota Bogor, bukan hanya membangun infrastruktur,” ujar Dedie Rachim.
Menurutnya, sebuah kota tidak cukup hanya berkembang melalui pembangunan fisik, tetapi juga harus mampu menjaga dan menghidupkan akar budaya yang menjadi identitas masyarakatnya.
“Festival ini menjadi identitas baru Kota Bogor sebagai kota yang memiliki keterkaitan sejarah kuat dengan Pakuan Pajajaran,” tambahnya.
Dedie menjelaskan, rangkaian Hari Jadi Bogor ke-544 sebenarnya telah dimulai sejak awal Juni melalui berbagai kegiatan. Mulai dari sidang paripurna, pameran seni, perlombaan, hingga kegiatan olahraga. Namun, Festival Helaran Pajajaran menjadi puncak perayaan yang paling dinantikan masyarakat.
Dalam festival tersebut, lebih dari 50 sanggar seni dan komunitas budaya terlibat menampilkan pertunjukan kolosal yang menggambarkan kejayaan Kerajaan Pajajaran. Beragam atraksi budaya dan seni tradisional ditampilkan sepanjang rute kirab, menciptakan suasana meriah sekaligus sarat makna sejarah.
Antusiasme masyarakat terlihat luar biasa. Sejak pukul 15.00 WIB, warga mulai memenuhi kawasan Jalan Jenderal Sudirman. Kepadatan semakin meningkat menjelang sore hari dan mencapai puncaknya sekitar pukul 17.30 WIB, jauh sebelum kirab budaya dimulai pada pukul 19.30 WIB.
Kemeriahan festival juga semakin terasa dengan kehadiran perwakilan dari enam kecamatan di Kota Bogor yang menampilkan kekhasan budaya masing-masing.
Kecamatan Bogor Tengah menghadirkan pertunjukan bernuansa budaya Tionghoa sebagai simbol keberagaman yang hidup di Kota Bogor. Sementara Kecamatan Bogor Timur tampil unik dengan kostum bernuansa putih dan biru langit serta membagikan jajanan pasar kepada para pengunjung.
Tak kalah menarik, perwakilan dari Bogor Barat, Bogor Selatan, Bogor Utara, dan Tanah Sareal turut menampilkan beragam atraksi budaya. Yang menggambarkan karakter dan potensi wilayah masing-masing.
Usai kirab budaya berakhir, seluruh peserta bersama jajaran Forkopimda Kota Bogor berkumpul di panggung utama. Untuk menyaksikan pertunjukan seni dan budaya yang berlangsung hingga malam hari.
Peluncuran Festival Helaran Pajajaran diharapkan menjadi tonggak baru dalam pelestarian budaya. Sekaligus memperkuat posisi Kota Bogor sebagai kota bersejarah yang memiliki hubungan erat dengan Kerajaan Pakuan Pajajaran.
Melalui festival ini, semangat “Bogor Nanjeur” tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur dan kemajuan kota. Tetapi juga melalui penguatan karakter masyarakat yang berakar pada nilai sejarah, budaya, dan warisan leluhur Sunda. (Mur)


