Home Bisnis dan Keuangan Harga Ayam dan Telur Peternak Naik, Program MBG Dorong Stabilitas Pangan

Harga Ayam dan Telur Peternak Naik, Program MBG Dorong Stabilitas Pangan

0
3
Harga Ayam dan Telur di Tingkat Peternak Mulai Naik, Program MBG Dinilai Jadi Pendorong Utama

KitaBogor Harga ayam broiler dan telur ayam di tingkat peternak mulai menunjukkan tren positif setelah sempat mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai kembali bergulirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan permintaan sekaligus membantu menjaga stabilitas harga di tingkat produsen.

Sebelumnya, harga produk unggas sempat mengalami penurunan akibat melemahnya permintaan masyarakat. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya momen bulan Suro di Jawa serta penghentian sementara Program MBG selama masa libur sekolah.

Anggota Gabungan Peternak Rakyat Solo Raya, Parjuni, mengatakan penurunan permintaan membuat harga telur sempat berada di kisaran Rp17.000 hingga Rp18.000 per kilogram. Namun dalam beberapa pekan terakhir harga mulai berangsur naik menjadi sekitar Rp20.000 hingga Rp21.000 per kilogram.

“Memang karena kemarin momen bulan Suro dan Program MBG sempat berhenti saat libur sekolah, sehingga permintaan masyarakat ikut turun. Namun sekarang mulai terlihat adanya pertumbuhan harga,” ujar Parjuni dalam dialog televisi yang dikutip di Jakarta, Jumat (17/7/2026).

Meski demikian, ia berharap pemerintah terus memberikan dukungan kepada peternak, salah satunya melalui pengguliran kembali bantuan pangan berupa telur ayam dan daging ayam karkas sebagaimana pernah dilakukan sebelumnya.

Program Bantuan Dinilai Efektif

Pada 2023 hingga 2024, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional menugaskan ID FOOD untuk menyalurkan bantuan pangan dalam rangka percepatan penurunan stunting kepada 1,4 juta keluarga penerima manfaat.

Setiap keluarga menerima 1 kilogram daging ayam dan 10 butir telur setiap bulan selama tiga bulan.

Program tersebut juga memberikan dampak positif bagi peternak rakyat karena melibatkan 8.778 peternak, terdiri atas 6.895 peternak ayam petelur dan 1.883 peternak ayam broiler dari berbagai daerah.

Parjuni menilai pola bantuan serupa masih relevan untuk menjaga keseimbangan pasokan sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak.

Bapanas: Harga Mulai Bergerak Positif

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan pemerintah masih menunggu keputusan Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) terkait kemungkinan penyaluran kembali bantuan pangan berupa telur dan daging ayam.

“Belum ada keputusan Rakortas. Jika nanti diputuskan, tentu akan kami laksanakan,” katanya.

Meski demikian, Ketut memastikan kondisi pasar saat ini menunjukkan perkembangan yang semakin baik.

Menurutnya, kembali beroperasinya Program MBG setelah masa libur sekolah mulai meningkatkan serapan produk peternak sehingga harga perlahan mengalami pemulihan.

“MBG memiliki pengaruh terhadap permintaan. Setelah melewati bulan Suro dan sekolah kembali berjalan, harga mulai bergerak naik. Kami berharap peternak dapat menikmati harga yang mendekati harga acuan,” jelasnya.

Harga Ayam Broiler Naik Lebih dari 5 Persen

Data Badan Pangan Nasional menunjukkan harga ayam broiler hidup di tingkat peternak mengalami kenaikan 5,53 persen dalam satu pekan terakhir.

Jika pada pekan sebelumnya harga rata-rata nasional masih berada di Rp20.878 per kilogram. Pada 16 Juli 2026 meningkat menjadi Rp22.032 per kilogram.

Harga terendah tercatat di Sumatera Selatan sebesar Rp19.500 per kilogram. Sedangkan harga tertinggi berada di Provinsi Riau yang mencapai Rp26.000 per kilogram.

Sementara itu, harga ayam ras di tingkat konsumen juga mengalami kenaikan, meski masih berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp40.000 per kilogram.

Harga Telur Ikut Menguat

Pergerakan positif juga terjadi pada komoditas telur ayam.

Rata-rata harga telur di tingkat peternak secara nasional meningkat 2,2 persen dalam sepekan, dari Rp22.495 per kilogram menjadi Rp22.989 per kilogram.

Di Sulawesi Utara, harga telur bahkan telah mencapai Rp27.067 per kilogram, melampaui Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram.

Sebaliknya, harga di Banten masih berada pada kisaran Rp21.250 per kilogram, sehingga masih berada di bawah HAP.

Di tingkat konsumen, rata-rata harga telur ayam nasional tercatat Rp27.798 per kilogram, masih lebih rendah dibandingkan HAP sebesar Rp30.000 per kilogram.

Kementan: MBG Dorong Ekonomi Peternak

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, menilai Program MBG telah memberikan harapan baru bagi peternak unggas.

Menurutnya, kembali beroperasinya dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) meningkatkan kebutuhan bahan pangan, termasuk telur dan daging ayam.

“Untuk ayam di tingkat peternak saat ini sudah sekitar Rp22.000 per kilogram sesuai target. Sedangkan telur juga berada di kisaran Rp22.000. Kembalinya dapur-dapur SPPG akan meningkatkan serapan hasil peternak,” ujarnya.

Ia menambahkan, setiap dapur MBG membutuhkan sekitar 1,86 ton telur setiap bulan. Sehingga program tersebut memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi peternak rakyat.

Melalui peningkatan permintaan yang lebih stabil, pemerintah berharap harga ayam dan telur terus bergerak menuju Harga Acuan Pembelian. Sehingga kesejahteraan peternak dapat semakin terjaga sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan nasional. (Hen)

Previous articleDari Ruang Belajar hingga Pusat Terapi, MIND ID Wujudkan Pendidikan Inklusif di Berbagai Daerah
Next articleNobar Final Spain vs Argentina di De Margo, Ada Live DJ hingga Voucher Hotel Gratis