Saturday, 22 August 2026
Home Event Festival Kopi Legendaris Hidupkan Kembali Jejak Panjang Kopi di Kota Bogor

Festival Kopi Legendaris Hidupkan Kembali Jejak Panjang Kopi di Kota Bogor

0
2
Festival Kopi Legendaris Hidupkan Kembali Jejak Panjang Kopi di Kota Bogor

KitaBogor – Secangkir kopi di Kota Bogor ternyata menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar tren menikmati minuman kekinian. Kota hujan ini memiliki jejak sejarah penting dalam perjalanan kopi di Indonesia.

Sejarah tersebut kembali diangkat melalui Festival Kopi Legendaris yang digelar di Lapangan Sempur, Jumat (21/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Festival Merah Putih (FMP) sekaligus momentum untuk memperkuat identitas Bogor sebagai City of Gastronomy.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim, didampingi Ketua TP PKK Kota Bogor Yantie Rachim, hadir membuka langsung festival yang mempertemukan pelaku usaha kopi, produk kuliner, dan masyarakat.

Dedie mengatakan, perjalanan kopi di Bogor memiliki akar sejarah yang kuat. Menurutnya, kopi pertama kali mendarat di Bogor pada 1817 dan kemudian berkembang menjadi bagian dari kehidupan serta budaya masyarakat.

“Jadi memang Bogor itu punya sejarah lekat tentang kopi. Kalau sekarang ada namanya Festival Kopi Legendaris, itu juga tidak lepas dari sejarah,” kata Dedie.

Ia mencontohkan Bah Sipit, salah satu merek kopi legendaris di Kota Bogor yang telah hadir sejak 1925 dan dianggap sebagai salah satu pelopor perkopian di Bogor.

Jejak sejarah kopi tersebut juga tidak bisa dipisahkan dari perkembangan tanaman kopi pada masa kolonial. Proses aklimatisasi atau adaptasi tanaman kopi pernah dilakukan di Bogor, termasuk di kawasan yang kini dikenal sebagai Kebun Raya Bogor.

Warisan sejarah itu kemudian berkembang menjadi ekosistem kopi yang semakin beragam. Mulai dari produksi biji kopi, kedai, produk olahan, hingga berbagai festival yang mempertemukan pelaku usaha dengan masyarakat.

Bagi Dedie, perkembangan tersebut menjadi modal penting bagi Bogor untuk memperkuat posisinya sebagai kota gastronomi.

“Di Bogor itu ada beberapa merek kopi yang sudah terkenal dan menjadi bagian dari gastronomi. Kopi itu kan bagian dari sebuah identitas kota terkait dengan gastronomi,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Ketua Forum Bogor Kota Gastronomi, Haidhar Wurjanto. Menurutnya, kopi memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif dan gastronomi di Kota Bogor.

Ia menyebut sekitar 80 persen ekonomi kreatif ditopang sektor makanan dan minuman atau F&B, termasuk di dalamnya industri kopi.

“Hampir semua tempat di Bogor itu pasti ada kopinya. Jadi dampaknya besar,” kata Haidhar.

Menurutnya, kekuatan kopi Bogor bukan hanya terletak pada banyaknya produk yang tersedia, tetapi juga pada beragam cara masyarakat menikmati kopi.

Kopi bisa hadir dalam bentuk bubuk, espresso, campuran susu, gula aren, maupun disajikan sebagai espresso tanpa tambahan. Keragaman tersebut menjadi bagian dari pengalaman gastronomi yang dapat diperkenalkan kepada wisatawan.

“Ada jenis-jenisnya dan ada cara minum yang unik dari daerah tertentu. Kita semua bisa kenalkan dan masing-masing mereferensikan, dan itu ada di Bogor,” ujarnya.

Festival Kopi Legendaris pun menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kembali cerita tersebut kepada masyarakat.

Lebih dari sekadar festival kuliner, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa budaya kopi Bogor memiliki sejarah panjang yang dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari identitas kota dan perjalanan Bogor menuju City of Gastronomy. (Mur)

Previous articleDuta Mangrove Indonesia 2027 Buka Pendaftaran, Ajak Anak Muda Jadi Penjaga Lingkungan
Next articleRumput Laut dan Agar-agar Indonesia Berpeluang Kuasai Pasar AS Setelah Bebas Tarif Tambahan