KitaBogor – Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin berkembang dari teknologi eksperimental menjadi bagian dari aktivitas bisnis sehari-hari. Bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), perkembangan tersebut membuka peluang untuk meningkatkan produktivitas, memperluas jangkauan pasar, hingga menjangkau konsumen di tingkat internasional.
Namun, agar manfaat AI dapat dirasakan secara lebih luas, akses terhadap teknologi dan kemampuan untuk memanfaatkannya masih perlu terus diperkuat.
Kementerian Perdagangan sebelumnya mendorong pelaku UMKM untuk memanfaatkan AI dalam pemasaran digital, mulai dari riset pasar, pembuatan konten, penyusunan strategi iklan, hingga komunikasi dengan calon pembeli internasional. Dorongan tersebut disampaikan Menteri Perdagangan Budi Santoso saat membuka pendampingan “Gapai Pasar Global dengan AI” di Jakarta pada 9 September 2026.
Di sisi lain, pemerintah juga menekankan pentingnya penggunaan AI secara bertanggung jawab. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) tengah memperkuat tata kelola AI melalui penyusunan Peta Jalan AI Nasional 2026–2029 dan regulasi etika AI, dengan perhatian pada aspek kemanusiaan, transparansi, akuntabilitas, keamanan, serta pelindungan data pribadi.
Melihat perkembangan tersebut, Exabytes Indonesia mendorong terciptanya ekosistem AI yang lebih inklusif agar teknologi tidak hanya tersedia bagi perusahaan besar, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara praktis oleh UMKM.
“AI semakin dekat dengan UMKM Indonesia, terlihat dari semakin banyaknya penggunaan AI untuk desain, konten, dan pemasaran. Namun, adopsinya masih belum merata. Pemerintah menyebut lebih dari 90% UMKM belum memanfaatkan AI secara optimal, sementara 72,78% penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Tantangannya sekarang bukan lagi apakah UMKM bisa mengakses AI, tetapi sejauh mana AI dapat membantu mereka bekerja lebih efektif, menghemat biaya, dan meningkatkan omzet,” ujar Indra Hartawan, VP & Country Manager Exabytes Indonesia.
Data BPS menunjukkan 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024, meningkat dari 69,21 persen pada 2023. Angka tersebut menunjukkan semakin luasnya basis masyarakat yang terhubung dengan ekosistem digital.
Dari Sekadar Online Menjadi AI-Ready
Menurut Exabytes, perjalanan transformasi digital UMKM tidak berhenti ketika sebuah bisnis telah memiliki akun media sosial atau website. Tahap berikutnya adalah membangun fondasi digital yang memungkinkan teknologi dimanfaatkan secara lebih produktif.
AI dapat digunakan untuk berbagai aktivitas bisnis, mulai dari menghasilkan ide dan konten pemasaran, membantu membangun website, mendukung optimasi mesin pencari, hingga membantu proses bisnis sehari-hari.
Namun, teknologi tersebut perlu ditempatkan sebagai enabler, bukan sebagai pengganti manusia dalam mengambil keputusan.
Pandangan ini sejalan dengan arah pemerintah yang mendorong pengembangan AI yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Komdigi menempatkan pengawasan manusia, transparansi, akuntabilitas, keamanan, dan pelindungan data pribadi sebagai bagian penting dalam tata kelola AI.
“Bagi kami, menjadi AI-ready bukan berarti setiap bisnis harus menjadi perusahaan teknologi atau memiliki tim AI sendiri. Yang lebih penting adalah memahami di mana AI benar-benar dapat memberikan dampak bagi bisnis, memiliki fondasi digital yang memadai, dan tetap memastikan manusia memegang kendali atas keputusan yang dibuat,” tambah Indra.
Mendorong AI yang Praktis dan Terjangkau bagi UMKM
Sebagai penyedia solusi digital, Exabytes melihat salah satu tantangan dalam adopsi AI adalah kesenjangan. Antara ketersediaan teknologi dan kemampuan pelaku usaha untuk mengubah teknologi tersebut menjadi manfaat nyata bagi bisnis.
Karena itu, pendekatan terhadap AI bagi UMKM dinilai perlu dibuat lebih sederhana dan relevan dengan kebutuhan sehari-hari. Alih-alih memperkenalkan AI hanya sebagai teknologi yang kompleks, pelaku usaha perlu memahami bagaimana teknologi tersebut dapat membantu menyelesaikan persoalan bisnis yang konkret.
Exabytes juga terus mengembangkan solusi yang mengintegrasikan kemampuan AI ke dalam kebutuhan digital bisnis, sehingga pelaku usaha dapat memanfaatkan teknologi tanpa harus memiliki keahlian teknis yang mendalam.
“Digitalisasi UMKM tidak seharusnya menciptakan kesenjangan baru. Ketika teknologi berkembang semakin cepat, kita perlu memastikan bahwa pelaku usaha kecil juga memiliki kesempatan untuk ikut berkembang. Peran penyedia teknologi bukan hanya menyediakan tools. Tetapi juga membantu menjembatani pemahaman agar teknologi tersebut benar-benar dapat digunakan dan memberikan nilai,” jelas Indra.
AI sebagai Alat Pemberdayaan, Bukan Pengganti Manusia
Exabytes melihat masa depan AI di Indonesia perlu dibangun melalui kolaborasi antara pemerintah, penyedia teknologi, pelaku industri, komunitas, dan pelaku usaha.
Dengan semakin banyak UMKM memahami cara memanfaatkan AI secara tepat. Teknologi tersebut berpotensi membantu bisnis lokal meningkatkan efisiensi, memperluas jangkauan pemasaran. Serta membuka peluang memasuki pasar yang lebih luas.
Namun, peningkatan adopsi AI perlu berjalan beriringan dengan penguatan literasi digital, keamanan data, serta penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
“Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadikan AI sebagai alat pemberdayaan bagi jutaan pelaku usaha. Kami ingin menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Bukan hanya dengan menyediakan teknologi. Tetapi dengan membantu lebih banyak bisnis Indonesia memahami bagaimana AI bisa digunakan untuk kebutuhan nyata. Mudah diakses, dan memberikan manfaat bagi bisnis mereka. Pada akhirnya, teknologi yang baik adalah teknologi yang mampu memberikan nilai tambah pada proses bisnis. Tanpa menghilangkan nilai unik yang menjadi kekuatan utama bisnis tersebut,” tutup Indra. (Mur)


