KitaBogor – Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial (DNIKS) melalui program DNIKS Gerak Inklusif 2026 mendukung peringatan World Cerebral Palsy Day 2026 yang diselenggarakan Rumah Cerebral Palsy (RCP) di Atrium Teras Kota Mall, Tangerang Selatan, Minggu (25/10).
Mengusung tema Unique and United, kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan interaksi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai Cerebral Palsy (CP), sekaligus memperkuat dukungan bagi anak dan keluarga yang mendampinginya.
Peringatan tersebut melibatkan anak-anak dengan Cerebral Palsy, orang tua, tenaga profesional, komunitas, serta mitra pendukung. Melalui kegiatan ini, para pihak mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif, baik dalam akses layanan kesehatan, pendidikan, maupun partisipasi sosial.
Kegiatan ini sejalan dengan DNIKS Gerak Inklusif 2026, kampanye yang berlangsung pada Oktober hingga Desember 2026. Program tersebut mengusung empat pilar, yakni kesehatan, pendidikan, budaya dan hiburan, serta perekonomian dan kewirausahaan.
Fatma Syaifullah Yusuf: Setiap Anak Berhak Mengembangkan Potensi
Peringatan World Cerebral Palsy Day 2026 dibuka oleh Fatma Syaifullah Yusuf, Penasihat Dharma Wanita Persatuan Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Dalam sambutannya, Fatma menekankan bahwa anak-anak dengan Cerebral Palsy memiliki hak yang sama untuk mendapatkan kasih sayang, perlindungan, pendidikan, layanan kesehatan, serta kesempatan mengembangkan potensi diri.
“Anak-anak dengan cerebral palsy memiliki cara yang berbeda dalam bergerak, berkomunikasi, atau menjalani keseharian. Namun, mereka memiliki hak yang sama untuk dicintai, dilindungi, belajar, bermain, bermimpi, dan juga menentukan masa depannya,” ujar Fatma.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan berkelanjutan yang tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Dukungan tersebut perlu diwujudkan melalui akses terhadap layanan kesehatan dan rehabilitasi, pendidikan inklusif, lingkungan yang aksesibel, serta kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Upaya tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, organisasi sosial, tenaga kesehatan, keluarga, dunia usaha, hingga komunitas dan masyarakat.
DNIKS Dorong Inklusi dalam Kehidupan Sehari-hari
Ketua Program DNIKS Gerak Inklusif 2026, RA. Loretta Kartikasari, SE., MM., M.I.Kom., PhD.C, mengatakan dukungan terhadap Rumah Cerebral Palsy merupakan bagian dari komitmen DNIKS untuk membangun gerakan inklusif yang berkelanjutan.
Menurut Loretta, inklusi tidak cukup diwujudkan dengan melibatkan penyandang disabilitas dalam sebuah kegiatan. Hal yang tidak kalah penting ialah memastikan mereka diterima, memperoleh dukungan sesuai kebutuhan, serta memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh dan berpartisipasi.
“Bagi DNIKS, inklusi bukan sekadar menghadirkan anak-anak penyandang disabilitas dalam sebuah kegiatan. Kita perlu memastikan bahwa mereka diterima, dihargai, mendapatkan dukungan sesuai kebutuhannya, dan memiliki kesempatan yang setara untuk tumbuh serta mengembangkan potensi. Keluarga juga harus menjadi bagian penting dari ekosistem dukungan tersebut,” ujar Loretta.
Ia menjelaskan, empat pilar DNIKS Gerak Inklusif 2026 saling berkaitan. Di bidang kesehatan, program mendorong perhatian terhadap kebutuhan layanan bagi penyandang disabilitas dan keluarga. Pada sektor pendidikan, fokusnya adalah memperluas akses pembelajaran dan pengembangan keterampilan.
Sementara itu, bidang budaya dan hiburan diharapkan membuka ruang bagi ekspresi, partisipasi, dan kebersamaan. Adapun pilar ekonomi dan kewirausahaan diarahkan untuk memperluas kesempatan membangun kemandirian bagi penyandang disabilitas dan keluarga.
Loretta menambahkan, program inklusif perlu dirancang dengan mendengarkan pengalaman langsung anak, orang tua, dan komunitas agar kebutuhan serta hambatan yang mereka hadapi dapat dikenali dengan lebih baik.
“Anak-anak dengan Cerebral Palsy tidak boleh hanya dilihat dari kondisi atau hambatan yang mereka alami. Mereka adalah individu yang memiliki kepribadian, potensi, keinginan, dan hak untuk menikmati kehidupan. Tugas kita bersama adalah membangun lingkungan yang mendukung, bukan membatasi kesempatan mereka,” katanya.
Rumah Cerebral Palsy Jadi Ruang Berbagi bagi Keluarga
Pendiri Rumah Cerebral Palsy, Iis R. Soelaeman, menyampaikan bahwa peringatan World Cerebral Palsy Day menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Cerebral Palsy kepada masyarakat luas sekaligus memperkuat dukungan bagi keluarga.
“Tujuannya adalah membangun kesadaran masyarakat umum tentang keberadaan kami. Kami harus mengenalkan siapa itu cerebral palsy dan seperti apa kondisi anak-anaknya,” ujar Iis.
Rumah Cerebral Palsy berkembang sebagai ruang bagi keluarga untuk berbagi pengalaman, memperoleh informasi, belajar, dan saling menguatkan. Dalam pendampingan anak, keluarga menghadapi beragam kebutuhan, termasuk terapi, alat bantu, pendampingan, dan dukungan kesejahteraan.
Kebutuhan perawatan yang berkelanjutan juga dapat menjadi tantangan, terutama bagi keluarga yang menghadapi keterbatasan finansial atau belum memperoleh akses layanan yang memadai.
Karena itu, dukungan terhadap Rumah Cerebral Palsy tidak hanya penting untuk pelaksanaan kegiatan peringatan, tetapi juga untuk memperkuat ekosistem pendampingan jangka panjang bagi anak dan keluarga.
Kolaborasi dengan DNIKS dan mitra lainnya diharapkan dapat memperluas akses terhadap informasi, layanan, serta kesempatan berpartisipasi bagi anak dengan Cerebral Palsy dan keluarganya.
Kolaborasi Lintas Organisasi Perkuat Gerakan Inklusif
DNIKS juga mengapresiasi kolaborasi dengan Rumah Cerebral Palsy dan Lions Club Jakarta Cosmopolitan dalam memperluas kepedulian dan partisipasi masyarakat.
Menurut Loretta, tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas membutuhkan kerja sama lintas organisasi. Pemerintah, organisasi sosial, komunitas, tenaga profesional, lembaga pendidikan, dan sektor swasta memiliki peran yang saling melengkapi.
Kolaborasi tersebut diharapkan berkembang melalui kegiatan edukasi, peningkatan kesadaran publik, penguatan dukungan bagi keluarga, serta program yang memberikan manfaat berkelanjutan.
Pelibatan organisasi yang berinteraksi langsung dengan keluarga juga penting agar program pemberdayaan disusun berdasarkan kebutuhan nyata, bukan hanya berdasarkan asumsi penyelenggara.
Mendorong Masyarakat yang Lebih Inklusif
Peringatan World Cerebral Palsy Day 2026 menjadi pengingat bahwa inklusi perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, fasilitas kesehatan, dan ruang publik hingga kesempatan sosial dan ekonomi.
Melalui DNIKS Gerak Inklusif 2026, DNIKS mengajak masyarakat untuk menghormati hak dan martabat anak dengan Cerebral Palsy. Serta mendukung mereka agar dapat mengembangkan potensi dan berpartisipasi secara setara.
Bersama Rumah Cerebral Palsy, Lions Club Jakarta Cosmopolitan, dan para mitra. DNIKS berharap semangat peringatan ini berlanjut menjadi gerakan nyata untuk memperkuat penghormatan, perlindungan, dan pemberdayaan penyandang disabilitas di Indonesia. (Hen)


