Home Lokal Dari Bogor Menuju Dunia, Gatut Susanta Perjuangkan Golok sebagai Warisan Budaya

Dari Bogor Menuju Dunia, Gatut Susanta Perjuangkan Golok sebagai Warisan Budaya

0
1
Dari Bogor Menuju Dunia, Gatut Susanta Perjuangkan Golok sebagai Warisan Budaya

KitaBogor – Ada benda-benda yang menyimpan makna jauh melampaui bentuk fisiknya. Di dalamnya tersimpan sejarah, pengetahuan, estetika, filosofi, dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam kebudayaan Nusantara, golok merupakan salah satu pusaka yang memiliki lapisan makna tersebut.

Di tengah modernisasi dan perubahan cara generasi muda memandang warisan leluhur, Gatut Susanta memilih mengambil bagian dalam upaya merawat ingatan budaya itu. Bersama komunitas pelestari golok dan pedang dari berbagai daerah, ia membangun gerakan yang dikenal dengan gagasan Golok Road to UNESCO.

Gagasan tersebut menguat setelah Gatut mengunjungi perpustakaan UNESCO di Paris pada 2024. Pengalaman itu mendorongnya untuk memperluas perjuangan pelestarian golok, bukan hanya sebagai benda tradisional, melainkan sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, filosofi, keterampilan, dan tradisi yang hidup di tengah masyarakat.

Perjalanan menuju pengakuan UNESCO bukan sekadar upaya mendapatkan perhatian dunia. Lebih dari itu, gerakan ini menjadi ikhtiar untuk mendokumentasikan sejarah, menggali pengetahuan para empu dan sesepuh, memperkuat penelitian, membangun jejaring kebudayaan, serta memperkenalkan kembali golok kepada generasi muda.

Bagi Gatut, pusaka tidak cukup hanya disimpan atau dipamerkan. Makna dan pengetahuan yang menyertainya harus terus dipelajari, dicatat, dan diwariskan.

Merawat pusaka melalui dokumentasi

Salah satu langkah penting Gatut dalam mendokumentasikan warisan golok adalah menerbitkan buku Golok antara Pesona dan Legenda, kemudian disusul Pesona Golok Pasundan. Kedua buku tersebut menjadi bagian dari upaya mencatat sejarah, keberagaman bentuk, dan filosofi golok, khususnya yang berkembang di wilayah Pasundan.

Penyusunan buku dilakukan melalui proses panjang, mulai dari silaturahmi, penelusuran informasi, hingga mengunjungi berbagai daerah untuk bertemu para pelestari dan sesepuh. Gatut menyebut sembilan profesor dari tiga wilayah, yakni Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, turut memberikan dukungan terhadap penerbitan bukunya.

Ia berharap dokumentasi tersebut dapat menjadi referensi dalam memperkuat upaya pengusulan golok sebagai warisan budaya takbenda UNESCO. Selain buku, sosialisasi juga dilakukan melalui pameran, kegiatan pendidikan di sekolah, serta kunjungan ke perguruan tinggi.

Dalam pemberitaan BarayaNews mengenai peluncuran buku Pesona Golok Pasundan, Gatut menjelaskan pentingnya menggali pengetahuan langsung dari masyarakat.

“Kami berkunjung ke kampung-kampung, bertemu para sepuh untuk menggali filosofi di balik golok Pasundan yang berbeda-beda di masing-masing daerah.”

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya mengandalkan koleksi benda. Pengetahuan yang hidup di tengah masyarakat, termasuk cerita, filosofi, teknik pembuatan, dan tradisi penggunaannya, juga perlu didokumentasikan sebelum tergerus perubahan zaman.

Mengubah cara pandang terhadap golok

Salah satu tantangan dalam pelestarian golok adalah cara masyarakat memandang benda tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari, golok kerap dipahami sebatas alat potong atau perkakas. Padahal, perjalanan sejarah dan nilai budayanya jauh lebih luas.

Dalam kegiatan Mahakarya Pusaka Nusantara di Botani Square, Kota Bogor, pada Agustus 2025, Gatut menjelaskan bahwa salah satu tujuan kegiatan tersebut adalah memperkenalkan golok kepada generasi muda.

“Jadi kalau orang denger golok apa yang ada di otak kita? Itu pasti hanya alat potong pemecah kelapa, daging.”

Pernyataan itu menjadi pengingat bahwa pemahaman terhadap pusaka perlu diperluas. Golok tidak hanya dapat dilihat dari fungsi praktisnya, tetapi juga dari sejarah, keterampilan para pembuatnya, estetika, simbol, dan identitas budaya yang melekat.

Melalui gerakan Golok Road to UNESCO, Gatut ingin mengajak masyarakat melihat golok secara lebih utuh. Bukan hanya sebagai benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, melainkan sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan masyarakat Nusantara.

Dari komunitas menuju jejaring kebudayaan

Perjuangan pelestarian budaya tidak dapat dilakukan seorang diri. Dibutuhkan keterlibatan komunitas, pemerintah, akademisi, dan masyarakat dari berbagai daerah.

Dalam kegiatan Mahakarya Pusaka Nusantara, komunitas pencinta pusaka dan pelestari tosan aji dari berbagai wilayah turut dilibatkan. Gatut juga mendorong kerja sama antara Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta sebagai wilayah yang memiliki keterkaitan sejarah dan tradisi dengan golok.

Kolaborasi lintas wilayah tersebut penting untuk membangun narasi bersama. Perjuangan ini bukan tentang satu daerah atau satu komunitas yang mengklaim kepemilikan, melainkan bagaimana kekayaan tradisi yang berkembang di berbagai wilayah dapat didokumentasikan dan diperkenalkan secara terpadu.

Pemerintah Kota Bogor juga mencatat upaya Gatut dalam mendorong sinergi tiga wilayah tersebut. Melalui berbagai kegiatan, gagasan Golok Road to UNESCO terus diperkenalkan kepada komunitas dan masyarakat luas.

Golok Goes to Campus, membawa pusaka ke ruang akademik

Selain melalui pameran dan pertemuan komunitas, Gatut membawa pelestarian golok ke lingkungan perguruan tinggi.

Pada November 2025, ia menjalin kerja sama dengan Universitas Taman Siswa Yogyakarta. Selanjutnya, pada Januari 2026, sinergi dilakukan bersama Universitas Pakuan Bogor melalui program Golok Goes to Campus yang melibatkan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya.

Program tersebut diarahkan untuk memperkuat kajian, dokumentasi, dan edukasi mengenai golok sebagai warisan budaya.

Upaya itu kemudian diwujudkan melalui kegiatan Munggahan dan Sarasehan Pelestari Golok pada 14 Februari 2026. Dalam kegiatan tersebut, sekitar 300 koleksi golok dari berbagai periode sejarah dipamerkan untuk memperlihatkan keberagaman dan perjalanan panjang tradisi golok di Nusantara.

Keterlibatan kampus menjadi bagian penting dalam gerakan ini. Sebab, pelestarian warisan budaya membutuhkan penelitian dan dokumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus ruang pembelajaran bagi generasi muda.

Dengan demikian, Golok Road to UNESCO tidak hanya bergerak melalui pameran, tetapi juga membangun literasi dan pengetahuan kebudayaan melalui lingkungan akademik.

Dari Bogor menuju Kementerian Kebudayaan

Perjalanan tersebut kemudian dibawa ke tingkat nasional. Pada 28 Januari 2026, Ki Gatut Susanta bersama para pelestari golok mempresentasikan program Golok Road to UNESCO kepada Kementerian Kebudayaan.

Dalam pertemuan itu, dipaparkan sejumlah langkah yang telah dirintis, mulai dari koordinasi lintas institusi hingga sosialisasi kepada komunitas budaya di Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta. Program Golok Goes to Campus juga menjadi bagian dari strategi memperkuat kajian dan edukasi.

Gatut memandang perjuangan menuju pengakuan UNESCO sebagai proses panjang yang harus dimulai dengan langkah nyata. Dalam pemberitaan Radar Bogor pada 28 Januari 2026, ia menyampaikan:

“Pejuang tidak tahu kapan akan merdeka, tapi yang jelas perjuangan sudah mulai dan ada titik awalnya bukan hanya bermimpi.”

Kalimat tersebut menggambarkan semangat yang mendasari gerakan ini. Ada tahapan yang harus dilalui, dokumen yang perlu disiapkan, penelitian yang perlu diperkuat, dan jejaring yang harus terus dibangun. Pengakuan internasional bukan sesuatu yang dapat diperoleh secara instan.

Menyatukan tiga wilayah kebudayaan

Pada Juni 2026, dalam momentum Hari Jadi Bogor, digelar Temu Rasa Pelestari Golok sebagai bagian dari kegiatan Mahakarya Pesona Pusaka Nusantara di Pasar Gembrong. Kegiatan tersebut diikuti para pelestari tosan aji dari sembilan provinsi.

Dalam kesempatan itu, Gatut menyoroti pentingnya penguatan pengakuan di tingkat nasional terhadap berbagai jenis golok dari sejumlah wilayah.

“Saat ini merasa tenang karena golok yang telah disahkan secara nasional Banten 4 jenis Golok, Jawa Barat 2 jenis Golok dan Betawi 1 jenis Golok,” ujarnya.

Ia berharap pengakuan tersebut dapat menjadi modal untuk memperkuat langkah bersama menuju UNESCO.

“Semoga dengan modal golok dari 3 provinsi ini bisa menjadi kekuatan kita untuk mendorong golok bisa segera diusulkan ke UNESCO dan bisa segera disahkan.”

Pernyataan itu memperlihatkan bahwa gerakan Golok Road to UNESCO telah berkembang menjadi agenda kebudayaan lintas wilayah. Sosialisasi juga direncanakan menjangkau daerah di luar tiga wilayah tersebut, termasuk Yogyakarta dan Jawa Timur.

Dari alat kehidupan menjadi pusaka budaya

Dalam berbagai kegiatan pameran, Gatut juga menjelaskan perubahan fungsi golok seiring perjalanan masyarakat. Pada masa lalu, golok menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk untuk mendukung kebutuhan pangan. Dalam perkembangannya, golok juga memiliki fungsi pertahanan dan kemudian semakin dipahami sebagai pusaka budaya.

“Golok dulu menjadi alat ketahanan pangan, kemudian alat pertahanan, dan sekarang menjadi pusaka.”

Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa nilai sebuah benda budaya dapat berkembang mengikuti perubahan zaman. Fungsi praktisnya mungkin berubah, tetapi pengetahuan, keterampilan, dan nilai sejarah yang melekat tetap penting untuk dipelajari.

Dalam konteks ini, golok menjadi penanda hubungan antara manusia, lingkungan, tradisi, dan sejarah masyarakat yang mewariskannya.

Membawa perjuangan kepada generasi muda

Bagi Gatut, salah satu tujuan utama dari pameran, sarasehan, penerbitan buku, dan program kampus adalah memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda.

Tradisi tidak akan bertahan jika hanya dikenang oleh generasi yang lebih tua. Pengetahuan tentang pusaka perlu disampaikan melalui cara yang relevan dengan perkembangan zaman, mulai dari pendidikan, penelitian, pameran, literasi, seni, hingga ruang dialog.

Karena itu, gerakan ini juga diarahkan pada kegiatan kreatif, seperti festival seni kreasi silat golok dan peragaan busana bertema golok. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi anak muda untuk mengenal pusaka melalui berbagai ekspresi kebudayaan.

Dukungan terhadap upaya tersebut juga datang dari Pemerintah Kota Bogor. Dalam kegiatan Lebaran Golok di Setu Babakan, Kampung Betawi, pada April 2026, Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim yang juga menjadi penasihat gerakan golok menekankan bahwa golok memiliki akar sejarah serta nilai filosofis, historis, dan estetika.

Ia juga mengingatkan pentingnya literasi budaya agar warisan tersebut tidak hanya dilestarikan, tetapi dipahami oleh generasi penerus.

Memperjuangkan pengakuan, menjaga makna

Perjalanan menuju UNESCO pada akhirnya bukan hanya tentang memperoleh pengakuan internasional. Lebih jauh, proses tersebut menjadi kesempatan untuk mendokumentasikan, meneliti, melestarikan, dan menghidupkan kembali pengetahuan budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

Gatut menyebut berbagai dokumen dan kelengkapan administrasi telah diserahkan serta presentasi telah dilakukan. Namun, perjuangan masih membutuhkan penguatan dokumentasi, penelitian, koordinasi, dan keterlibatan masyarakat.

Pemerintah Kota Bogor juga telah memberikan dukungan melalui berbagai kegiatan pameran dan sarasehan, termasuk yang berlangsung di Universitas Pakuan, Botani Square, BCC, dan Lippo Mall.

Yang diperjuangkan sesungguhnya bukan sekadar sebuah benda.

Yang diperjuangkan adalah ingatan tentang para pembuatnya, para sesepuh yang mewariskan pengetahuan, masyarakat yang hidup bersama tradisi, serta filosofi dan estetika yang berkembang di dalamnya.

Pada titik inilah pelestarian pusaka memiliki makna yang lebih luas: menjaga hubungan masyarakat dengan sejarah dan identitas budayanya sendiri.

Dari Bogor untuk Indonesia, dari Indonesia untuk dunia

Kiprah Gatut Susanta memperlihatkan bahwa gerakan kebudayaan dapat berawal dari kegelisahan sederhana: jangan sampai sesuatu yang menjadi bagian dari sejarah bangsa justru tidak lagi dikenal oleh generasi berikutnya.

Dari kegelisahan itu lahir dokumentasi, Dari dokumentasi terbit buku, Dari buku tumbuh diskusi, Dari diskusi berkembang jejaring. Selanjutnya, kerja sama dengan kampus, pemerintah, komunitas, dan lembaga kebudayaan memperluas gerakan tersebut.

Rangkaian proses itulah yang kemudian membentuk cita-cita Golok Road to UNESCO.

Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim menyebut Gatut sebagai tokoh Bogor yang menggagas gerakan tersebut dan konsisten menyuarakan pentingnya pelestarian budaya lokal.

“Beliau punya keinginan yang gigih dan tulus dengan segala daya upaya. Insyaallah Pemkot Bogor akan membersamai beliau sampai ke UNESCO, dari Bogor untuk Indonesia dan dari Bogor untuk dunia.”

Perjalanan ini tentu masih panjang. Namun, keberhasilannya tidak semata-mata diukur dari pengakuan internasional. Hal yang tidak kalah penting adalah sejauh mana masyarakat mengenali sejarah golok, memahami nilai yang terkandung di dalamnya, dan mewariskan pengetahuan tersebut kepada generasi mendatang.

Gatut Susanta telah memilih untuk berjalan di jalur itu. Melalui dokumentasi, pendidikan, kolaborasi, dan kegiatan kebudayaan, ia berupaya menjaga agar pusaka tidak kehilangan maknanya.

Maka, Golok Road to UNESCO bukan sekadar perjalanan sebuah pusaka menuju pengakuan dunia. Ia adalah perjalanan masyarakat untuk kembali mengenali, memahami, dan merawat warisan budayanya sendiri. (Ckr03/red)

Previous articlePanasonic Hadirkan Teknologi Grooming untuk Sempurnakan Koleksi Othman di JFW 2027