Wednesday, 2 September 2026
Home Nasional Buku ‘Mengintip Sepotong Surga’ Ungkap Kisah Ekspedisi Puncak Trikora Papua

Buku ‘Mengintip Sepotong Surga’ Ungkap Kisah Ekspedisi Puncak Trikora Papua

0
3
Buku ‘Mengintip Sepotong Surga’ Ungkap Kisah Ekspedisi Puncak Trikora Papua

KitaBogor – Kisah perjalanan menembus medan berat menuju Puncak Trikora Papua dituangkan dalam sebuah buku berjudul Mengintip Sepotong Surga. Buku karya Juvensius atau yang dikenal dengan nama Foxs Explore tersebut resmi diluncurkan di Alenia Papua Coffee & Kitchen Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Peluncuran buku dirangkai dengan diskusi interaktif yang menghadirkan Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI Christian Natalie dan pemimpin ekspedisi Ruslan Budiarto. Diskusi dipandu moderator Harun Mahbub Billah.

Buku Mengintip Sepotong Surga berisi catatan perjalanan ekspedisi selama 10 hari menuju Puncak Trikora Papua yang dilakukan Juvensius pada 2024.

Juvensius mengatakan buku tersebut diharapkan dapat memperkaya literasi masyarakat mengenai dunia pendakian, khususnya pengalaman menjelajahi salah satu kawasan pegunungan paling menantang di Indonesia.

Menariknya, perjalanan Juvensius di dunia pendakian sebenarnya baru dimulai beberapa tahun sebelumnya. Pria kelahiran Pemangkat, Kalimantan Barat, tersebut tumbuh di lingkungan yang tidak dekat dengan kawasan pegunungan.

“Bahkan saya baru tahu kalau gunung baru bisa didaki ketika saya sudah ada di Jawa, ketika sedang berwisata ke Gunung Bromo,” ujarnya.

Pengalaman tersebut justru memunculkan rasa penasaran terhadap dunia pendakian. Setelah berhasil mencapai puncak Gunung Semeru pada 2018, kecintaannya terhadap gunung semakin tumbuh.

Sejak saat itu, Juvensius terus menjelajahi berbagai gunung di Indonesia maupun luar negeri. Hingga kini, lebih dari 20 gunung telah didakinya.

Puncak Trikora kemudian menjadi perjalanan yang mendorongnya menuangkan pengalaman pendakian dalam bentuk tulisan.

Menurut Juvensius, ekspedisi tersebut membutuhkan persiapan fisik dan mental yang serius. Ia bahkan mempersiapkan kondisi fisiknya selama enam bulan sebelum keberangkatan.

“Untuk latihan fisik saya sudah siapkan enam bulan sebelum berangkat, karena saya tidak ingin merepotkan orang-orang di sana ketika pendakian,” kata Juvensius.

Dalam buku tersebut, pembaca diajak mengikuti perjalanan mulai dari menjelajahi Kota Wamena, menghadapi berbagai tantangan menuju Puncak Trikora, hingga perjalanan turun dan kembali dengan selamat.

Catatan perjalanan dikemas menggunakan bahasa populer dan dilengkapi sejumlah foto yang merekam suasana ekspedisi.

Buku Mengintip Sepotong Surga dapat dibeli melalui bio link Instagram @Foxs.explore. Sebagian hasil penjualan buku akan didonasikan kepada Sahabat Kasih Pedalaman dan Yayasan Sisi Baik.

Puncak Trikora dan Kekayaan Alam Papua

Puncak Trikora atau Ettiakup memiliki ketinggian sekitar 4.751 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan termasuk salah satu puncak tertinggi di Indonesia.

Kawasan ini dikenal memiliki tingkat kesulitan tinggi untuk didaki. Kondisi medan yang berat serta cuaca ekstrem menjadi tantangan tersendiri bagi para pendaki.

Puncak Trikora berada di Papua Pegunungan, tepatnya dalam zona inti kawasan Taman Nasional Lorentz. Kawasan tersebut merupakan Situs Warisan Alam Dunia UNESCO sekaligus Warisan Alam ASEAN.

Taman Nasional Lorentz memiliki bentang alam yang sangat luas, mulai dari kawasan pegunungan hingga wilayah pesisir Laut Arafura. Kawasan ini juga dikenal sebagai salah satu wilayah tropis yang memiliki gletser.

Secara historis, gunung tersebut pernah dikenal dengan nama Puncak Wilhelmina atau Wilhelmina Top. Nama tersebut diberikan dalam ekspedisi yang dipimpin Dr. H.A. Lorentz pada 1909, mengambil nama Ratu Wilhelmina dari Belanda.

Pada 1963, pemerintah Indonesia mengganti nama tersebut menjadi Puncak Trikora. Nama Trikora merujuk pada Tri Komando Rakyat yang dicanangkan Presiden Soekarno pada 19 Desember 1961.

Menjaga Papua sebagai Warisan Alam

Dalam diskusi peluncuran buku, Manajer Program Kehutanan Yayasan KEHATI Christian Natalie menyoroti pentingnya menjaga kawasan pegunungan Papua.

Menurutnya, bentang alam Papua menyimpan keanekaragaman hayati yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Ia menggambarkan hutan Papua seperti supermarket alami yang menyediakan berbagai sumber obat-obatan dan bahan pangan.

Namun, kekayaan tersebut menghadapi ancaman kerusakan lingkungan.

“Hutan kita tidak sedang baik-baik saja,” kata Christian.

Ia mengapresiasi berbagai pihak yang terus berupaya menjaga keberlanjutan lingkungan melalui berbagai cara, termasuk melalui karya literasi.

Christian menilai buku Mengintip Sepotong Surga tidak sekadar menjadi catatan perjalanan seorang pendaki, tetapi juga dapat menjadi media edukasi mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

“Buku ini bukan sekadar catatan perjalanan, ini aksi nyata memberi edukasi untuk aksi-aksi keberlanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, pemimpin ekspedisi Ruslan Budiarto mengatakan kawasan pegunungan Papua menyimpan kekayaan alam yang sangat beragam, mulai dari bentang batuan, flora dan fauna, hingga kearifan lokal masyarakat.

“Jangan lupa gletser di daerah tropis. Jadi benar itu judulnya mengintip sepotong surga,” katanya.

Ruslan yang telah mengikuti berbagai ekspedisi di pegunungan Papua, termasuk perjalanan bersama tim dan ekspedisi solo, menilai kekayaan alam Papua dapat memberikan manfaat ekonomi jika dikelola secara berkelanjutan.

Menurutnya, potensi wisata dan jasa lingkungan dapat menjadi sumber pemasukan tanpa harus mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

“Tak perlu menyedot emas dari perut buminya,” tegas Ruslan.

Moderator Harun Mahbub Billah menilai penerbitan buku tersebut menjadi referensi penting sekaligus bentuk kampanye untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian alam Papua.

Ia mengingatkan bahwa Papua merupakan salah satu benteng terakhir hutan Indonesia yang perlu dijaga bersama.

“Konon katanya hutan Jawa dan Sumatera adalah hutan kemarin, hutan Kalimantan adalah hutan hari ini, dan hutan Papua adalah hutan esok hari. Jangan sampai benteng terakhir ini rusak karena keserakahan manusia,” ujar Harun. (Hen)

Previous articleTrio GJLS Jadi Petugas Damkar di Film GJLS: Berapi-Api, Tayang 5 November 2026
Next article5 Manfaat Traveling yang Bisa Membentuk Karakter Jadi Lebih Kuat dan Mandiri