KitaBogor – Paundra Hanutama resmi meraih gelar master keduanya setelah menyelesaikan program Master of Science in Sustainability Management di Schiller International University, Paris, melalui Global Citizen Scholarship. Pencapaian ini menjadi bagian dari perjalanan akademik Paundra dalam memperkuat kompetensi di bidang keberlanjutan. Sekaligus mendukung pengabdiannya dalam konservasi mangrove di Indonesia. Setelah menyelesaikan studi di Paris, ia memilih kembali memfokuskan diri pada berbagai kegiatan di Indonesia melalui Mangrove Jakarta.
Dengan perhatian pada konservasi ekosistem pesisir, edukasi lingkungan, pemberdayaan generasi muda, dan sustainable entrepreneurship. Pengalaman belajar di lingkungan internasional memberikan perspektif baru mengenai bagaimana sustainability dapat diterapkan melalui kolaborasi, inovasi, dan pendekatan berbasis masyarakat. Ilmu dan pengalaman tersebut kini ingin diterjemahkan menjadi aksi yang relevan dengan kebutuhan lingkungan dan masyarakat Indonesia.
Dikenal sebagai “Bapak Mangrove Milenial Indonesia”, Paundra selama ini aktif membangun gerakan konservasi. Sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam isu lingkungan. Melalui program Duta Mangrove Indonesia, ia membuka ruang bagi anak muda untuk berperan sebagai edukator dan penggerak kampanye pelestarian mangrove. Komitmen tersebut kemudian diperluas melalui Mangrove Impact Fellowship.
Sebuah program yang mempertemukan generasi muda dari berbagai negara untuk belajar dan terlibat langsung dalam konservasi mangrove di Indonesia. Program tersebut berhasil menghadirkan delegasi anak muda dari 14 negara. Sekaligus membangun jejaring internasional yang mempertemukan berbagai perspektif mengenai lingkungan dan keberlanjutan. Bagi Paundra, keterlibatan generasi muda merupakan elemen penting untuk memastikan gerakan konservasi dapat terus berkembang lintas generasi.
“Meraih master kedua melalui Global Citizen Scholarship merupakan sebuah pencapaian yang sangat berarti bagi saya. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana ilmu yang saya dapatkan dapat saya bawa kembali ke Indonesia. Saya belajar bahwa sustainability membutuhkan kolaborasi antara pengetahuan, aksi, inovasi, dan entrepreneurship. Karena itu, setelah menyelesaikan studi di Paris, saya ingin terus mengembangkan program yang tidak hanya menanam mangrove. Tetapi juga membangun pengetahuan, kapasitas, dan peluang bagi masyarakat serta generasi muda,” ujar Paundra Hanutama.
Menurutnya, pendidikan merupakan salah satu instrumen penting untuk memperkuat gerakan lingkungan. Karena dapat melahirkan individu yang memiliki kemampuan untuk menciptakan solusi. Ia berharap pengalaman akademik di tingkat internasional dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan gerakan konservasi mangrove di Indonesia.
Perjalanan akademik Paundra juga berlanjut melalui pendidikan doktoral di Universitas Ciputra, Surabaya. Dalam program Doctor of Management (Entrepreneurship) yang sedang ditempuh sejak 2025.
Penelitian yang dikembangkan berfokus pada innovation, entrepreneurial orientation, and market acceptance of mangrove-based products. Dengan perhatian pada sustainability, SME resilience, dan ecosystem strategy. Fokus penelitian tersebut berangkat dari kebutuhan untuk mengembangkan pendekatan yang mampu menghubungkan pelestarian mangrove dengan penguatan ekonomi masyarakat pesisir.
Paundra melihat bahwa inovasi produk berbasis mangrove memiliki peluang untuk menjadi bagian dari ekonomi berkelanjutan apabila dikembangkan dengan memperhatikan aspek ekologis dan kebutuhan pasar. Melalui penelitian tersebut, ia ingin memperkuat pemahaman mengenai bagaimana konservasi, inovasi, kewirausahaan, dan ketahanan UMKM dapat berjalan secara terintegrasi.
Sepulang dari Paris, Paundra akan terus memperkuat program Mangrove Jakarta dengan empat fokus utama. Yaitu konservasi, edukasi, young people empowerment, dan sustainable entrepreneurship. Ia ingin menciptakan lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk belajar melalui pengalaman langsung, mulai dari penanaman mangrove, edukasi lingkungan, fellowship, penelitian, kampanye, hingga pengembangan produk berbasis mangrove.
“Saya tidak ingin anak muda hanya menjadi peserta dalam kegiatan lingkungan. Saya ingin mereka menjadi bagian dari proses, belajar, menciptakan inovasi, membangun entrepreneurship, dan pada akhirnya menjadi pemimpin yang mampu membawa isu lingkungan ke level yang lebih besar,” ungkap Paundra. Menurutnya, masa depan konservasi akan sangat ditentukan oleh kemampuan generasi muda dalam menggabungkan kepedulian terhadap lingkungan dengan inovasi dan kemampuan menciptakan peluang. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari visi Paundra untuk membangun gerakan konservasi yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi.
Dengan gelar master keduanya, pengalaman internasional, jejaring dari 14 negara, serta perjalanan doktoral yang sedang berlangsung, Paundra Hanutama memasuki fase baru dalam perjalanan pengabdiannya di Indonesia. Ia berkomitmen untuk terus menggunakan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh untuk memperkuat konservasi mangrove sekaligus membangun kapasitas masyarakat dan generasi muda.
Melalui Mangrove Jakarta, berbagai program akan terus dikembangkan dengan pendekatan yang menghubungkan konservasi, pendidikan, pemberdayaan, inovasi, dan kewirausahaan. “Bagi saya, kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan studi di Paris adalah bagian dari komitmen untuk mengabdikan ilmu yang saya miliki. Saya ingin terus menanam mangrove, tetapi pada saat yang sama juga menanam pengetahuan, menanam keberanian untuk berinovasi, dan menanam semangat entrepreneurship di kalangan anak muda Indonesia,” tutup Paundra. Ia berharap perjalanan tersebut dapat menjadi inspirasi bahwa pendidikan global dapat menjadi modal untuk kembali dan memberikan dampak nyata bagi Indonesia. (Hen)


