Wednesday, 9 September 2026
Home Lifestyle Baby Udon dan Air Mata Denny Sumargo: Ketika Sebuah Cerita Menjadi Terlalu...

Baby Udon dan Air Mata Denny Sumargo: Ketika Sebuah Cerita Menjadi Terlalu Dekat

0
2
Baby Udon dan Air Mata Denny Sumargo: Ketika Sebuah Cerita Menjadi Terlalu Dekat

KitaBogor – Ada cerita yang selesai ketika kamera berhenti merekam. Namun ada pula cerita yang tetap tinggal, bahkan ketika proses produksi telah berakhir.

Bagi Denny Sumargo, Baby Udon tampaknya termasuk cerita yang kedua.

Sebagai aktor sekaligus produser, Densu mengaku telah menonton film tersebut sebanyak 27 kali dalam proses review. Ia ikut mengawal editing dan scoring musik, memastikan berbagai detail film berada dalam standar yang diinginkan.

Namun ada sesuatu yang tidak dapat dikendalikan oleh proses produksi: emosi.

Beberapa adegan masih membuatnya menangis, bahkan setelah berulang kali ditonton.

Pengalaman tersebut menjadi semakin unik karena Densu sendiri tampil sebagai salah satu karakter dalam film. Ketika Pras Teguh menyadari hal itu, Densu pun mengakui betapa dekatnya ia dengan karakter Hajime Kondoh yang diperankannya.

Kedekatan itu tidak berhenti di ruang editing.

Dalam press conference, Densu kembali menitikkan air mata ketika berbicara tentang perjalanan film tersebut. Oliv, sang istri sekaligus rekan produser, juga merasakan emosi serupa ketika mengenang kepercayaan Fanny Kondoh yang memberikan kisah keluarganya untuk diangkat ke layar lebar.

Kemudian datang pertemuan dengan penonton.

Dalam perjalanan promosi ke berbagai kota, Densu mendengar kisah-kisah pribadi orang yang merasa menemukan sebagian pengalaman hidup mereka di dalam Baby Udon.

Di Solo, seorang ibu membagikan cerita tentang kehilangan buah hati setelah perjalanan panjang menjalani program kehamilan. Bagi orang yang mendengarnya secara langsung, kisah tersebut bukan lagi sekadar bagian dari promosi film.

Ia adalah pengalaman hidup seseorang.

Densu memeluk ibu tersebut. Sebuah gestur sederhana ketika kata-kata mungkin tidak cukup untuk menggambarkan rasa kehilangan.

Dari ruang editing hingga pertemuan dengan penonton, Baby Udon perlahan menjadi lebih dari sebuah pekerjaan bagi Densu dan Oliv.

Film itu menjadi ruang pertemuan antara cerita di layar dan luka yang pernah dialami orang-orang di dunia nyata.

Kini Baby Udon telah hadir di bioskop Indonesia.

Barangkali, air mata Denny Sumargo yang berulang kali jatuh bukan sekadar ukuran keberhasilan sebuah adegan. Ia menjadi penanda bahwa sebuah cerita telah menemukan jalan menuju ruang emosional orang yang membuatnya—dan kemudian, kepada mereka yang menontonnya. (Mur)

Previous article86 Peserta Adu Kemampuan Matematika di Surabaya, Tiga Melaju ke Grand Final