KitaBogor – Kecerdasan buatan generatif (GenAI) diperkirakan akan mengubah lanskap ketenagakerjaan di kawasan ASEAN dalam beberapa tahun ke depan. Namun, perubahan tersebut dipandang lebih sebagai proses transformasi pekerjaan daripada ancaman kehilangan lapangan kerja secara masif.
Kesimpulan tersebut disampaikan Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) melalui laporan terbaru mengenai dampak GenAI terhadap pasar kerja di sebelas negara anggota ASEAN.
Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa hampir 80 juta pekerja, atau sekitar 22,9 persen dari total tenaga kerja ASEAN, bekerja pada sektor yang memiliki tingkat paparan terhadap teknologi AI generatif.
Meski demikian, hanya sekitar 11,7 juta pekerja atau 3,3 persen dari keseluruhan angkatan kerja yang berada pada kelompok pekerjaan dengan tingkat paparan tertinggi. Sebaliknya, sekitar dua pertiga tenaga kerja ASEAN masih bekerja pada sektor yang belum terdampak secara langsung oleh AI.
Temuan ILO memperlihatkan bahwa Singapura menjadi negara dengan tingkat paparan tertinggi terhadap GenAI, diikuti Filipina, Indonesia, Vietnam, dan Thailand. Tingginya paparan tersebut berkaitan erat dengan dominasi sektor jasa modern dan teknologi informasi.
Laporan tersebut juga menegaskan bahwa hingga kini belum ditemukan indikasi terjadinya disrupsi besar berupa gelombang pemutusan hubungan kerja akibat AI. Adopsi GenAI masih berada pada tahap awal dan lebih banyak dimanfaatkan di sektor-sektor yang memiliki intensitas teknologi tinggi.
Di sisi lain, ILO mengingatkan adanya tantangan berupa kesenjangan kesiapan antarnegara ASEAN. Infrastruktur digital, kualitas sumber daya manusia, regulasi, hingga kemampuan perusahaan dalam mengadopsi AI masih sangat beragam.
Kajian ini juga menemukan adanya dimensi gender dalam transformasi AI. Perempuan memiliki peluang lebih besar dibanding laki-laki. Untuk bekerja pada profesi dengan tingkat paparan tinggi terhadap GenAI karena dominasi mereka di sektor administrasi dan pekerjaan profesional.
ILO mendorong negara-negara ASEAN untuk memperkuat tata kelola AI yang berorientasi pada manusia melalui peningkatan keterampilan tenaga kerja, investasi pendidikan, perlindungan sosial. Serta dukungan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah agar mampu memanfaatkan teknologi secara produktif.
“Memanfaatkan manfaat GenAI membutuhkan lebih dari sekadar akses terhadap teknologi. Peningkatan produktivitas bergantung pada investasi dalam modal manusia dan perlindungan sosial. Pada akhirnya, masa depan pasar kerja akan lebih ditentukan oleh pilihan kebijakan. Yang membangun kesiapan dan ketahanan pekerja, perusahaan, serta institusi dibandingkan hanya oleh tingkat paparan terhadap AI semata,” ujar Christian Viegelahn.
Menurut ILO, keberhasilan transformasi AI di kawasan ASEAN akan sangat ditentukan oleh kualitas kebijakan publik yang mampu memastikan inovasi teknologi berjalan beriringan dengan penciptaan pekerjaan yang layak, produktivitas yang meningkat, dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. (Mur)


