Home Lifestyle Memilih Bersuara Saat Diminta Bungkam, Belajar Berani dari Niken di Beautiful Pain

Memilih Bersuara Saat Diminta Bungkam, Belajar Berani dari Niken di Beautiful Pain

0
1
Memilih Bersuara Saat Diminta Bungkam, Belajar Berani dari Niken di Beautiful Pain

KitaBogor – Bagi penyintas kekerasan seksual atau pelecehan, tantangan tidak selalu berhenti setelah peristiwa terjadi. Setelahnya, mereka kerap harus menghadapi ketakutan untuk berbicara, mulai dari kekhawatiran akan dihakimi, disalahkan, hingga menghadapi stigma sosial.

Persoalan tersebut menjadi salah satu isu yang diangkat film drama terbaru Dapur Film, Beautiful Pain. Melalui karakter Niken yang diperankan Raihaanun, film ini menggambarkan perjuangan seorang perempuan untuk keluar dari luka masa lalu dan menemukan keberanian untuk bersuara.

Niken dan Keberanian Menolak Diam

Niken digambarkan sebagai perempuan yang tengah berusaha menata kembali kehidupannya setelah mengalami perceraian dari hubungan yang tidak sehat. Namun, ketika mencoba membuka lembaran baru, ia kembali menghadapi persoalan berupa pelecehan dan fitnah.

Dalam situasi tersebut, Niken dihadapkan pada pilihan untuk kembali diam atau memperjuangkan kebenaran. Film ini membawa dua gagasan utama, yakni Finding the Courage dan Speak Up, untuk menggambarkan proses Niken menghadapi ketakutan dan mengambil kembali kendali atas hidupnya.

Keputusan Niken untuk bersuara tidak hanya menjadi bentuk perlawanan terhadap persoalan yang dihadapinya. Langkah tersebut juga berkaitan dengan upayanya mempertahankan hak asuh kedua anaknya sekaligus memulihkan martabat dirinya.

Mengapa Keberanian untuk Bicara Penting?

Keberanian untuk bersuara dalam situasi kekerasan dan pelecehan dapat menjadi langkah penting bagi korban untuk mendapatkan kembali kendali atas dirinya.

1. Memutus manipulasi dan gaslighting

Pelaku kekerasan dapat membuat korban meragukan pengalaman dan penilaiannya sendiri. Dengan berbicara, korban memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman serta menegaskan kembali kebenaran yang dialaminya.

2. Mengubah luka menjadi kekuatan

Memendam pengalaman traumatis bukan berarti persoalan tersebut selesai. Mengakui rasa sakit dan berani mencari bantuan dapat menjadi bagian dari proses pemulihan.

3. Membuka akses terhadap dukungan

Ketika seseorang berani mengungkapkan pengalaman yang dialaminya, lingkungan di sekitarnya memiliki kesempatan untuk memberikan dukungan yang lebih tepat. Karena itu, korban membutuhkan support system yang aman dan tidak menghakimi.

4. Melindungi anak dan keluarga

Bagi Niken, keberanian berbicara juga berkaitan dengan upayanya melindungi kedua anaknya. Ia berusaha memastikan anak-anaknya tidak tumbuh dalam bayang-bayang fitnah dan persoalan yang tidak pernah diselesaikan.

Beautiful Pain Mengajak Penonton Lebih Berempati

Beautiful Pain disutradarai Dmaz Brodjonegoro dan diproduseri Hanung Bramantyo, dengan Nikita Mirzani sebagai Executive Producer.

Film ini dibintangi sejumlah aktor, di antaranya Raihaanun, Baim Wong, Jajang C. Noer, Sha Ine Febriyanti, Siti Fauziah, Tarra Budiman, Dimas Aditya, dan Nikita Mirzani.

Melalui perjalanan Niken, Beautiful Pain tidak hanya menghadirkan kisah tentang luka dan konflik, tetapi juga mengajak penonton melihat pentingnya empati terhadap korban. Pesan yang dibawa adalah agar masyarakat tidak terburu-buru menyalahkan korban, melainkan memberikan ruang aman untuk mendengar dan memahami pengalaman mereka.

Beautiful Pain dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026. Informasi terbaru mengenai film tersebut dapat diikuti melalui akun Instagram @filmbeautifulpain dan @dapurfilm. (Mur)

Previous articlePresiden FIFA Gianni Infantino Tiba di Indonesia, Saksikan Final FIFA ASEAN Cup 2026