Thursday, 3 September 2026
Home Lifestyle Purwacarita Borobudur Hadir di Galeri Indonesia Kaya, Jelajah Sejarah dengan Ethical AI

Purwacarita Borobudur Hadir di Galeri Indonesia Kaya, Jelajah Sejarah dengan Ethical AI

0
6
Purwacarita Borobudur Hadir di Galeri Indonesia Kaya, Jelajah Sejarah dengan Ethical AI

KitaBogor – Galeri Indonesia Kaya kembali menghadirkan pengalaman imersif yang memadukan sejarah, budaya, dan teknologi. Kali ini, melalui Purwacarita Borobudur: Jelajah Sejarah dalam Ruang dan Rasa, masyarakat diajak menelusuri kisah di balik penciptaan Candi Borobudur melalui delapan pengalaman interaktif berbasis Ethical AI.

Purwacarita Borobudur mulai dapat dinikmati masyarakat pada 1 September 2026 di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, dan terbuka secara gratis.

Program ini menjadi bagian dari upaya Galeri Indonesia Kaya menghadirkan kekayaan budaya Indonesia melalui pendekatan yang lebih interaktif dan dekat dengan generasi masa kini.

“Sebagai ruang publik edutainment yang memadukan edukasi, teknologi digital, dan inovasi, Galeri Indonesia Kaya berkomitmen memperkenalkan dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia dengan cara menyenangkan dan kekinian,” ujar Program Director Galeri Indonesia Kaya, Renitasari Adrian.

Menurut Renitasari, melalui Purwacarita Borobudur, sejarah tidak hanya disampaikan melalui bacaan, tetapi juga dapat dieksplorasi dan dirasakan melalui pengalaman imersif.

Menelusuri Kisah Borobudur

Purwacarita Borobudur mengajak pengunjung mengenal sejumlah kisah yang berkaitan dengan sejarah dan relief Candi Borobudur. Salah satunya adalah asal mula Kāmulan i Bhūmisambhāra sebagaimana disebut dalam prasasti kuno.

Pengunjung juga dapat mengikuti kisah hukum sebab-akibat atau karma melalui relief Karmawibhangga serta cerita Pangeran Sudhana dan Putri Manohara melalui relief Avadana.

Dua tokoh dari Wangsa Sailendra, yakni Raja Samaratungga dan Putri Pramodhawardhani, turut dihadirkan untuk membawa pengunjung memahami kehidupan, visi pembangunan, hingga peresmian Candi Borobudur.

Pengalaman tersebut diperkaya dengan proyeksi visual dan teater imersif yang menerjemahkan relief-relief batu Borobudur menjadi rangkaian adegan yang dapat disaksikan dan dieksplorasi pengunjung.

Delapan Pengalaman Interaktif

Sebagai satu perjalanan, Purwacarita Borobudur menghadirkan delapan fitur yang membawa pengunjung mengenal Borobudur dari berbagai perspektif.

Pertama, Sapa Borobudur, yang menjadi pengantar mengenai lanskap dan latar zaman berdirinya Borobudur.

Kedua, Karmawibhangga dan Avadana, yang menghadirkan kisah dari kedua relief tersebut dalam format teater imersif.

Ketiga, Batu Carita, yang memungkinkan pengunjung berinteraksi dengan empat tokoh, yaitu Raja Samaratungga, Putri Pramodhawardhani, Sudhana, dan Manohara.

Keempat, Mandala, yang mengajak pengunjung menjelajahi Borobudur melalui gawai sekaligus menapaki kembali rute sakral peziarah purba dari Candi Mendut dan Candi Pawon menuju Stupa Induk Borobudur.

Kelima, Jelajah Borobudur, yang menghadirkan petualangan menuju Borobudur dan sejumlah candi di sekitarnya.

Keenam, Buku Carita, yang mengisahkan perjalanan Putri Pramodhawardhani dalam memahami tujuan sang ayah, Raja Samaratungga, membangun Borobudur.

Ketujuh, Harmoni Borobudur, yang menghadirkan gambaran alam sekitar Borobudur pada masa lalu. Pengunjung juga dapat berinteraksi dengan representasi satwa seperti burung merak, rusa Jawa, dan gajah melalui sensor gerak.

Kedelapan, Asal Mula Borobudur The Movie, yang menjadi sajian utama di Auditorium Galeri Indonesia Kaya dan membawa pengunjung lebih dekat dengan kisah penciptaan Borobudur serta relief-reliefnya.

Ethical AI Berpijak pada Riset Sejarah

Teknologi kecerdasan buatan dalam Purwacarita Borobudur ditempatkan sebagai alat bantu visualisasi, bukan sebagai pengganti fakta sejarah.

Pengembangan karya ini menjadikan riset dan fakta sejarah yang telah tervalidasi sebagai dasar utama. Data dan narasi yang bersumber dari prasasti, termasuk Prasasti Karangtengah (824 M) dan Prasasti Tri Tepusan (842 M). Serta penggambaran busana dan artefak melalui proses kurasi dan penyuntingan.

Setiap naskah, visual, detail busana, dan arsitektur yang ditampilkan juga melalui validasi akademik Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada serta validasi profesional Museum dan Cagar Budaya. Tim kreatif juga melakukan kunjungan lapangan ke Borobudur sebagai salah satu rujukan visual.

Founder dan CEO Curaweda, Azhar Muhammad Fuad, mengatakan. Teknologi dalam karya ini diposisikan sebagai alat untuk memperkuat riset dan menghadirkan sejarah dalam bentuk yang lebih mudah diakses generasi muda.

“AI kami perlakukan sebagai kuas, sementara kanvasnya tetap fakta sejarah yang telah divalidasi para ahli,” ujar Azhar.

Kurator dari Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Dr. Sri Margana, M.Phil., menambahkan. Bahwa penggunaan teknologi digital tetap membutuhkan disiplin sejarah agar konteks dan nuansa sejarah tidak hilang.

“Teknologi digital memiliki potensi besar untuk mendekatkan sejarah kepada publik. Selama teknologi mengikuti disiplin sejarah, bukan sejarah yang mengikuti tuntutan teknologi,” ujarnya.

Purwacarita Borobudur merupakan hasil kolaborasi Galeri Indonesia Kaya, Curaweda, dan Bening Digital Indonesia. Kolaborasi lintas disiplin tersebut mempertemukan perspektif budaya, riset, teknologi, serta pengembangan bisnis untuk menghadirkan pengalaman sejarah yang lebih interaktif.

Melalui Purwacarita Borobudur, kisah tentang salah satu warisan budaya Indonesia tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai pengetahuan masa lalu. Tetapi juga dihadirkan sebagai pengalaman yang dapat dijelajahi, dirasakan, dan dipahami melalui medium teknologi. (Mur)

Previous articlePemkot Bogor Siapkan Zona PKL Sementara di Taman Heulang, Data 202 Pedagang Divalidasi
Next articleMekari Sign Perkuat Infrastruktur Digital Agreement Enterprise dengan Workflow Terintegrasi