KitaBogor – Upaya mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak tidak hanya membutuhkan peran pemerintah, tetapi juga keterlibatan masyarakat di lingkungan terdekat. Karena itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menegaskan pentingnya peran kader Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) dan relawan Sahabat Perempuan dan Anak (SAPA).
Hal tersebut disampaikan Menteri PPPA saat bersilaturahmi secara virtual dengan lebih dari 420 peserta pada Senin (10/8/2026). Peserta terdiri atas pimpinan tinggi madya dan pratama di lingkungan Kementerian PPPA, kepala dinas yang membidangi pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak (P3A) tingkat provinsi serta kabupaten/kota, hingga kader PATBM dan relawan SAPA dari berbagai daerah di Indonesia.
Menurut Arifah, kader PATBM dan relawan SAPA memiliki posisi strategis karena berada dekat dengan masyarakat. Kedekatan tersebut menjadi modal penting untuk memberikan pemahaman, membangun kesadaran, sekaligus mencegah kekerasan sejak dari lingkungan paling dekat dengan perempuan dan anak.
“Kami yakin keberadaan para kader PATBM dan juga kader SAPA ini mempunyai posisi yang sangat penting dan strategis di lingkungan masing-masing,” ungkapnya.
PATBM Dorong Lingkungan yang Lebih Aman bagi Anak
Menteri PPPA menjelaskan, PATBM telah diinisiasi sejak 2016 sebagai gerakan yang tumbuh dari masyarakat. Program tersebut diarahkan untuk memperkuat perlindungan anak di lingkungan tempat mereka tumbuh dan berkembang.
Dalam pelaksanaannya, kader PATBM menjalankan tiga peran utama. Pertama, membantu anak mengenali hak-haknya sekaligus memahami cara melindungi diri. Kedua, memperkuat kemampuan keluarga dan orang tua agar dapat memberikan pengasuhan yang aman dan nyaman.
Ketiga, membangun masyarakat yang memiliki norma, kepedulian, dan sikap tegas untuk menolak segala bentuk kekerasan terhadap anak.
Peran tersebut dinilai penting karena masyarakat merupakan lingkungan pertama yang dapat melihat perubahan maupun potensi persoalan yang dialami anak.
Karena itu, kader PATBM dan relawan SAPA diharapkan mampu membantu masyarakat mengenali serta mendeteksi potensi kekerasan sejak dini. Ketika kekerasan terjadi, masyarakat juga perlu mengetahui langkah yang harus dilakukan, memiliki keberanian untuk melapor atau berbicara, serta mengetahui jejaring layanan yang dapat memberikan pertolongan kepada korban.
“Keberadaan teman-teman kader PATBM ini dan juga relawan SAPA menjadi kekuatan di tingkat masyarakat untuk melakukan pencegahan-pencegahan, baik kekerasan terhadap perempuan maupun anak,” tegas Arifah.
Keluarga Menjadi Bagian Penting Pencegahan Kekerasan
Arifah juga mengapresiasi para kader dan relawan yang selama ini hadir langsung memberikan layanan kepada masyarakat. Ia menyadari bahwa setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda sehingga upaya perlindungan perempuan dan anak tidak selalu mudah dilakukan.
Meski demikian, kerja para kader diharapkan mampu membawa perubahan di lingkungan masing-masing.
Ia berharap PATBM dan SAPA terus menjadi gerakan yang hidup serta berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Keaktifan kader dan relawan diharapkan dapat memperkuat norma antikekerasan, meningkatkan kualitas pengasuhan keluarga, memberdayakan anak, serta membuat masyarakat lebih responsif ketika melihat adanya kekerasan.
Menurut Arifah, keluarga juga memiliki posisi penting dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak.
“Kunci terpenting bagaimana ini bisa dilakukan adalah ketika keluarga memiliki kekuatan, kemampuan untuk menguatkan keluarganya masing-masing,” tambahnya.
Dorong Berbagi Praktik Baik dari Berbagai Daerah
Dalam pertemuan tersebut, Menteri PPPA turut mendorong kader dan relawan untuk saling berbagi praktik baik (best practice) yang telah dilakukan di daerah masing-masing.
Pertukaran pengalaman dinilai dapat membantu menemukan pendekatan yang lebih sesuai dengan kondisi masyarakat. Dengan demikian, pelayanan dan pendampingan kepada masyarakat dapat terus diperbaiki.
Menteri PPPA meyakini kekerasan terhadap perempuan dan anak, baik kekerasan fisik maupun bentuk kekerasan lainnya, dapat diantisipasi melalui kerja bersama.
Pencegahan membutuhkan pemahaman, kesadaran, keberanian untuk bertindak, serta keterlibatan berbagai elemen masyarakat.
“Sekali lagi, saya bahagia sekali hari ini bertemu dengan kader-kader hebat yang selama ini sudah berkhidmat mengabdikan dirinya untuk bangsa dan negara di daerahnya masing-masing,” ujarnya.
Melalui penguatan PATBM dan SAPA, upaya perlindungan perempuan dan anak diharapkan tidak hanya berhenti pada penanganan ketika kekerasan terjadi. Lebih jauh, gerakan di tingkat masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan yang aman, responsif, dan memiliki budaya antikekerasan. (Mur)


