KitaBogor – Indonesia Health Development Center (IHDC) memperingatkan Indonesia berpotensi menghadapi Silent Cognitive Burden atau beban kognitif senyap, yaitu penurunan kemampuan perkembangan otak anak yang terjadi secara perlahan akibat berbagai masalah kesehatan yang selama ini belum mendapat perhatian optimal dalam kebijakan publik.
Temuan tersebut disampaikan dalam Seri Kajian Strategis IHDC Nomor 4 yang dipimpin Direktur Eksekutif IHDC, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, melalui kajian berbasis rapid review berbagai penelitian internasional dan divalidasi bersama para pakar kesehatan, pendidikan, psikologi, hingga kebijakan publik.
IHDC mengidentifikasi empat faktor utama yang memiliki hubungan kuat terhadap perkembangan kemampuan kognitif anak usia sekolah. Yakni gangguan refraksi mata yang tidak dikoreksi, defisiensi zat besi, kekurangan protein, serta gangguan perilaku.
Berdasarkan estimasi kajian IHDC, lebih dari 8 juta anak Indonesia diperkirakan mengalami gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi, sementara lebih dari 7 juta balita mengalami defisiensi zat besi. Selain itu, data Kementerian Kesehatan menunjukkan lebih dari 300 ribu anak usia sekolah mengalami gangguan perilaku cemas.
Ketua Dewan Pembina IHDC sekaligus Menteri Kesehatan RI periode 2014–2019, Prof. Nila F. Moeloek, mengatakan persoalan tersebut tidak hanya berdampak terhadap kesehatan individu, tetapi juga berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Menurutnya, dampak yang muncul bukan sekadar menurunnya prestasi belajar, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, kreativitas, daya inovasi, hingga kesiapan menghadapi tantangan masa depan.
IHDC juga memperkenalkan konsep Cognitive and Future Imaginative Capacity. Yakni kapasitas neurokognitif yang memungkinkan anak mampu belajar secara optimal, berpikir kritis, memecahkan masalah, berinovasi, dan membangun orientasi masa depan.
Direktur Eksekutif IHDC, Dr. Ray Wagiu Basrowi, menilai. Pembangunan anak Indonesia perlu bergeser dari sekadar mencegah penyakit menuju penguatan kapasitas perkembangan otak sejak dini.
Dalam kajian tersebut, gangguan refraksi mata yang tidak terkoreksi menjadi prioritas utama. Karena prevalensinya tinggi, berdampak langsung terhadap proses belajar, namun relatif mudah diintervensi melalui skrining dan penggunaan kacamata.
IHDC juga mendorong penguatan program pencegahan anemia defisiensi besi, peningkatan kualitas gizi anak sekolah. Serta deteksi dini gangguan perilaku sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. (Hen)


