Home Nasional Pertanian Bukan Lagi Soal Cangkul, Generasi Muda Ditantang Ciptakan Inovasi Pangan

Pertanian Bukan Lagi Soal Cangkul, Generasi Muda Ditantang Ciptakan Inovasi Pangan

0
5
Pertanian Bukan Lagi Soal Cangkul, Generasi Muda Ditantang Ciptakan Inovasi Pangan

KitaBogor – Di tengah semakin banyak generasi muda yang bercita-cita menjadi kreator digital, profesional teknologi, atau pekerja sektor jasa, muncul pertanyaan penting: siapa yang akan menanam pangan Indonesia di masa depan?

Pertanyaan tersebut menjadi benang merah dalam Seminar Nasional bertajuk “Menggali Potensi Pemuda dalam Menjaga Kedaulatan Pangan” yang digelar di Aula Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana), Kupang.

Seminar mempertemukan akademisi, praktisi pangan, tokoh adat, pegiat pemberdayaan masyarakat, hingga mahasiswa untuk membahas masa depan sektor pertanian dan pangan Indonesia.

Menurut Prof. Dr. Ir. Doppy Roy Nendissa, M.P., CRA., CRP., C.SEPro, pertanian harus dipandang sebagai ruang inovasi, bukan sekadar pekerjaan tradisional.

“Pangan bukan sekadar beras, tetapi seluruh sumber nutrisi yang menopang kehidupan masyarakat. Karena itu sektor pangan akan selalu relevan,” ujarnya.

Ia mengajak mahasiswa agar tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu menciptakan peluang usaha berbasis potensi lokal.

“Jagung, sorgum, singkong, ubi, sagu, talas hingga kelor merupakan kekayaan yang harus diolah menjadi solusi ekonomi baru,” katanya.

Air Jadi Tantangan Terbesar Pertanian NTT

Praktisi pangan Dr. Laurensius Lehar menjelaskan sekitar 74 persen wilayah pertanian NTT merupakan lahan kering sehingga persoalan utama bukanlah keterbatasan lahan, melainkan ketersediaan air.

Menurutnya, peningkatan produksi harus didukung pengelolaan air yang baik, penggunaan benih unggul, teknologi budidaya, hingga pemupukan yang tepat.

“Masalah utama Timor bukan kekurangan lahan, tetapi ketidakpastian air,” tegasnya.

Pupuk Kini Lebih Mudah Diakses

Ketua Yayasan Kaya Tene Zainuddin Umar mengatakan pemerintah telah memangkas 145 regulasi pupuk bersubsidi melalui Perpres Nomor 6 Tahun 2025 dan Permentan Nomor 15 Tahun 2025.

Kini petani yang telah terdaftar dalam e-RDKK cukup menggunakan KTP untuk menebus pupuk bersubsidi melalui aplikasi i-Pubers.

Pada 2026 pemerintah mengalokasikan 9,8 juta ton pupuk bersubsidi, sedangkan untuk NTT mencapai sekitar 194 ribu ton.

Menurut Zainuddin, tantangan saat ini bukan lagi ketersediaan pupuk, melainkan pemerataan informasi kepada petani.

Ia juga menilai Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi salah satu penggerak penting. Dalam memperkuat distribusi pupuk, edukasi, hingga pemberdayaan petani di tingkat desa.

Seluruh narasumber sepakat bahwa menjaga kedaulatan pangan bukan hanya menjadi tanggung jawab petani. Tetapi seluruh masyarakat, terutama generasi muda yang akan menentukan masa depan pangan Indonesia. (Hen)

Previous articleDamkar Kabupaten Bogor Evakuasi Kukang Jawa yang Masuk Permukiman Warga di Tanjungsari
Next articleChupa Chups Perkuat Strategi Experiential Marketing Lewat Peluncuran Crazy Raffe di Dufan