Home Lokal Membincang Urgensi Pancasila, Komunitas Bogor Serukan Penguatan Moral Bangsa

Membincang Urgensi Pancasila, Komunitas Bogor Serukan Penguatan Moral Bangsa

0
10
Membincang Urgensi Pancasila, Komunitas Bogor Serukan Penguatan Moral Bangsa

KitaBogor Nilai-nilai Pancasila dinilai perlu kembali dibumikan di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi bangsa saat ini. Seruan tersebut mengemuka dalam Lingkar Diskusi Budaya Sawala Dasa Wacana (Sawala) ke-13 yang berlangsung di Kompleks Edukasi Putra Bangsa, Kampung Pasirangin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Rabu (10/6/2026).

Mengangkat tema “Membincang Urgensi Pancasila dalam Mempersatukan Bangsa”, forum yang dihadiri pegiat seni, budayawan, pendidik, tokoh masyarakat, dan aktivis sosial itu menjadi ruang refleksi bersama mengenai posisi Pancasila di tengah kehidupan berbangsa saat ini.

Sekitar 20 peserta dari berbagai komunitas hadir dalam suasana diskusi yang berlangsung santai namun penuh makna. Berbagai pandangan muncul terkait tantangan yang dihadapi bangsa, mulai dari menguatnya polarisasi sosial, menurunnya keteladanan publik, hingga pengaruh derasnya arus informasi di era digital.

Tuan rumah Sawala, Heri Cokro, membuka diskusi dengan menyoroti fenomena sosial yang menurutnya menunjukkan semakin melemahnya implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa seharusnya tidak berhenti sebagai simbol atau slogan, melainkan hadir dalam perilaku masyarakat maupun para penyelenggara negara.

“Berbagai persoalan seperti korupsi, intoleransi, konflik sosial, kekerasan, hingga munculnya wacana separatisme menjadi pertanyaan bersama, sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dan dijalankan dalam kehidupan berbangsa,” ujarnya.

Ketuhanan Menjadi Fondasi Utama

Pada sesi pemaparan, tokoh sosial-ekonomi sekaligus praktisi pendidikan asal Cijeruk, Ajat Sudarjat, mengajak peserta memahami kembali makna filosofis lambang Garuda Pancasila.

Ia menjelaskan bahwa simbol bintang yang mewakili sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, berada pada posisi sentral yang menerangi nilai-nilai kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial.

“Para pendiri bangsa telah merancang Pancasila dengan sangat mendalam. Ketuhanan menjadi sumber cahaya yang menerangi seluruh sila lainnya. Jika nilai-nilai ini dijalankan secara utuh, maka kesejahteraan dan kemajuan bangsa dapat terwujud,” katanya.

Krisis Keteladanan Jadi Sorotan

Sementara itu, tokoh Persatuan Pencak Silat Seluruh Indonesia (PPSI) Kabupaten Bogor, Wayan Sarjana atau Kang Wayan, menilai bahwa salah satu tantangan terbesar saat ini adalah minimnya keteladanan dari para pemimpin.

Menurutnya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan potensi sumber daya manusia yang besar. Namun, berbagai persoalan kebangsaan masih muncul karena kepentingan kelompok kerap lebih dominan dibanding kepentingan bersama.

“Kita terlalu sering melihat persaingan antarkelompok dibandingkan semangat kolaborasi. Padahal Pancasila mengajarkan persatuan dan gotong royong untuk kemajuan bersama,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Pancasila harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar menjadi slogan yang diucapkan pada momen-momen seremonial.

Tantangan Baru di Era Digital

Pemerhati sejarah Rahmat Iskandar mengingatkan bahwa perjalanan Pancasila dalam sejarah Indonesia juga mengalami berbagai dinamika.

Ia menyinggung masa ketika Pancasila dipahami secara sangat formal melalui Pendidikan Moral Pancasila (PMP) dan Penataran P4. Bahkan cenderung disakralkan dalam satu tafsir tertentu.

Menurut Rahmat, tantangan saat ini justru berbeda. Generasi muda hidup di tengah derasnya arus informasi digital yang sering kali menghadirkan narasi parsial dan berpotensi mengaburkan pemahaman utuh mengenai nilai-nilai kebangsaan.

“Generasi Z menghadapi tantangan baru karena informasi datang begitu cepat dan masif. Di sinilah pentingnya menghadirkan kembali pemahaman Pancasila yang relevan dengan perkembangan zaman,” katanya.

Pancasila Sejalan dengan Nilai Keagamaan

Dalam sesi diskusi, Ustaz Ahmad Taviv Budiman menegaskan bahwa Pancasila tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama, termasuk Islam.

Menurutnya, para ulama memiliki peran penting dalam proses lahirnya Pancasila dan menerima dasar negara tersebut sebagai kesepakatan bersama bangsa Indonesia.

“Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila sejalan dengan ajaran Islam maupun nilai keagamaan lainnya. Karena itu, tidak ada alasan mempertentangkan keduanya,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Yanyan, mantan instruktur Penataran P4. Yang menekankan bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi landasan lahirnya kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.

Pendidikan Karakter Perlu Dukungan Lingkungan

Pegiat lingkungan dan pendidik, Sutanandika, menilai pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Pancasila menghadapi tantangan besar karena minimnya figur teladan di ruang publik.

Menurutnya, masyarakat, terutama generasi muda, lebih banyak menyaksikan contoh perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan di sekolah.

“Kita mengalami krisis keteladanan. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat. Ketika contoh yang mereka temui sehari-hari tidak sejalan dengan nilai Pancasila, proses pendidikan karakter menjadi jauh lebih sulit,” katanya.

Pandangan tersebut diamini oleh budayawan Ki Odoy serta para pendidik dari komunitas Bogor Wanita Berkebaya dan Daya Putra Bangsa. Yang menyoroti pentingnya sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial dalam membentuk karakter generasi muda.

Wayang Cepot Tutup Diskusi Kebangsaan

Menjelang akhir acara, suasana diskusi berubah lebih santai. Ketika Ki Dalang Ceceng Arifin menyampaikan pesan-pesan kebangsaan melalui tokoh wayang golek Si Cepot. Dengan gaya humor khas Sunda, pesan mengenai persatuan, gotong royong, dan cinta tanah air disampaikan secara ringan namun mengena.

Kegiatan kemudian ditutup dengan menyanyikan lagu “Garuda Pancasila” bersama-sama sebagai simbol komitmen menjaga nilai-nilai kebangsaan.

Melalui Sawala Dasa Wacana ke-13 ini, para peserta sepakat bahwa Pancasila perlu terus dihidupkan dalam ruang keluarga, sekolah, komunitas, dan kehidupan sosial. Agar tetap menjadi pedoman moral sekaligus perekat bangsa di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks. (Ckr03)

Previous articleNobar Piala Dunia 2026 di De Margo Jakarta, Nikmati Pizza, Diskon dan Promo Hotel
Next articleYantie Rachim Dorong Peningkatan Partisipasi PAUD Lewat Kampanye “Ayo Sekolah ke PAUD” di Kota Bogor