KitaBogor – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bogor kembali menjadi sorotan. Sebanyak 20 siswa SMP Negeri 2 Cisarua dilaporkan mengalami mual, muntah-muntah, pusing hingga nyeri perut setelah menyantap menu MBG pada Rabu (21/10/2026).
Gejala tersebut dialami para siswa setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan melalui program MBG di sekolah. Kondisi sejumlah siswa kemudian memerlukan penanganan medis dan sebagian di antaranya dibawa ke Rumah Sakit Paru Goenawan (RSPG) Cisarua.
Pihak sekolah yang mengetahui adanya kejadian tersebut langsung melakukan koordinasi dan melaporkannya kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Bogor, Ajat Rochmat Jatnika, mengatakan dirinya baru menerima informasi mengenai kejadian tersebut setelah adanya laporan resmi. Ia kemudian meminta Dinkes Kabupaten Bogor bergerak cepat menangani para siswa yang mengalami keluhan kesehatan.
Selain memastikan kondisi para korban, Dinkes juga diminta mengambil sampel makanan yang dikonsumsi para siswa untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penyebab munculnya gejala yang dialami para siswa. Dengan demikian, dugaan keracunan makanan masih menunggu hasil pemeriksaan dan belum dapat dipastikan sebagai penyebab kejadian.
Sebagai langkah antisipasi, distribusi MBG di SMP Negeri 2 Cisarua untuk sementara dihentikan hingga hasil pemeriksaan laboratorium diketahui dan penyebab kejadian dapat dipastikan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. Fusia, membenarkan pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan RSPG Cisarua terkait penanganan siswa yang mengalami keluhan kesehatan.
“Kami sedang berkoordinasi dengan RSPG Cisarua,” kata dr. Fusia.
Sementara itu, pendataan terhadap jumlah siswa yang mengalami gejala masih terus dilakukan. Dinkes Kabupaten Bogor juga terus memantau kondisi para siswa yang mendapatkan perawatan medis.
Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan nantinya diharapkan dapat memberikan kepastian mengenai penyebab kejadian. Sekaligus menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan dan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG di sekolah tersebut. (Eff)


