KitaBogor – Di antara deretan peserta berusia 20 hingga 30 tahun, seorang remaja 14 tahun berdiri tenang menggenggam mikrofon. Wajahnya muda, tapi sorot matanya penuh keyakinan. Saat nada pertama keluar, ruangan hening.
Tak banyak yang menyangka, gadis belia itu datang dari Indonesia — dan ia pulang membawa kemenangan.
Dialah Rhania Aurelie Ade Putri W, penyanyi muda berbakat yang kembali mengharumkan nama Tanah Air dengan meraih Second Place Vocal Folk Song and Music Theater Class di ajang HKYPA Hong Kong International Youth Performance Art Festival and Music Competition, yang digelar pada 6–8 Februari 2026.
Prestasi ini terasa istimewa karena Rhania menjadi peserta termuda di kategori FMT 2 Senior Class. Ia harus bersaing dengan penyanyi yang secara usia, jam terbang, dan pengalaman jauh di atasnya. Namun keberanian dan kematangan vokalnya justru membuatnya bersinar.
Bagi Rhania, panggung bukan tempat untuk takut. Itu adalah ruang untuk bercerita.
Perjalanan menuju Hong Kong bukan cerita instan. Ada latihan panjang, pengorbanan waktu bermain, dan disiplin yang dijalani setiap hari. Sejak kecil, Rhania telah membangun mimpinya sedikit demi sedikit.
Ia ditempa di NTS (Nilam Topodade Student & Community) Vocal Jakarta, di bawah arahan Nilam Topodade dan Rudy Lamando. Di sana, ia tidak hanya belajar teknik vokal, tetapi juga mental bertanding—bagaimana berdiri tegak, menguasai panggung, dan percaya pada diri sendiri.
Langkah internasionalnya dimulai dari Bali International Choir Festival 2023, di mana ia meraih Silver Medal di tengah persaingan peserta dari 13 negara. Setahun kemudian, ia kembali menyabet Silver Medal di International Bandung Choral Festival 2024.
Namanya semakin diperhitungkan saat meraih Gold Medal dan peringkat pertama di Asia Art Festival Singapore 2025. Lalu, ia menyapu kemenangan di FIMO HKYPA Indonesia Medan 2025 dengan dua gelar juara sekaligus.
Namun, yang membuat kisahnya semakin hangat, Rhania tetaplah remaja biasa yang tekun belajar di sekolah. Ia tercatat sebagai siswi SMP Global Prestasi School Kalimalang, meraih nilai ijazah tertinggi saat kelulusan SD, aktif di OSIS, dan dinobatkan sebagai Siswi Berprestasi 2025.
Seni dan pendidikan berjalan berdampingan dalam hidupnya.
Kini langkahnya belum berhenti. Setelah menyabet Diamond Award di Indonesia pada Januari 2026, Rhania bersiap kembali ke panggung internasional IWMF Bangkok pada April 2026.
Bagi banyak anak seusianya, mimpi mungkin masih sebatas angan. Tapi bagi Rhania, mimpi adalah sesuatu yang dikejar setiap hari.
Dari ruang latihan sederhana hingga panggung dunia, ia membuktikan satu hal: usia bukan batasan untuk bersinar.
Dan dari Hong Kong, suara kecil dari Indonesia itu terdengar lantang. (Hen)


