Pola Makan Berubah, Allianz Ungkap Lonjakan Penyakit Pasca Lebaran

0
2
Pola Makan Berubah, Allianz Ungkap Lonjakan Penyakit Pasca Lebaran

KitaBogorMomen Lebaran identik dengan sajian lezat seperti opor ayam, rendang, hingga aneka kue manis. Namun, di balik kebersamaan tersebut, perubahan pola makan setelah sebulan berpuasa kerap memicu gangguan kesehatan.

Data dari Allianz Indonesia menunjukkan adanya peningkatan klaim kesehatan pasca-Lebaran. Berdasarkan periode setelah Lebaran 2025 hingga tiga bulan berikutnya, terdapat tiga penyakit dengan jumlah klaim tertinggi, yakni Hipertensi sebanyak 718 kasus, sembelit 284 kasus, serta Gastritis sebanyak 141 kasus.

Selain itu, beberapa kondisi lain seperti diare, kolesterol tinggi, asam urat, dan gula darah tinggi juga tetap muncul meskipun dalam jumlah lebih rendah.

Menurut dr. Argie dari Allianz Life Indonesia, lonjakan ini berkaitan erat dengan perubahan pola konsumsi setelah Ramadan. Pola makan yang sebelumnya lebih teratur saat puasa berubah menjadi konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan garam dalam waktu singkat.

“Kondisi ini dapat mengganggu keseimbangan metabolisme tubuh dan memicu berbagai penyakit,” jelasnya.

Hipertensi, misalnya, sering dipicu oleh makanan tinggi garam dan lemak. Sementara gastritis atau maag dapat terjadi akibat pola makan yang tidak teratur. Konsumsi makanan dan minuman manis berlebih juga berisiko menyebabkan peningkatan gula darah.

Tak hanya itu, gangguan pencernaan seperti diare dan sembelit juga kerap terjadi, terutama akibat makanan kurang higienis atau rendah serat. Kondisi seperti kolesterol tinggi dan asam urat pun menjadi risiko tambahan, khususnya bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit.

Untuk mengembalikan kondisi tubuh, masyarakat disarankan mulai menerapkan pola hidup sehat. Beberapa langkah sederhana antara lain mengatur jadwal makan, mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak, memperbanyak serat, serta rutin berolahraga ringan.

“Momentum setelah Lebaran seharusnya menjadi titik awal untuk kembali membangun kebiasaan hidup sehat,” ujar dr. Argie.

Dengan menjaga pola hidup seimbang, masyarakat tidak hanya dapat meningkatkan kualitas kesehatan, tetapi juga menghindari risiko beban biaya pengobatan di masa depan. (Mur)

Previous articleIndonesia Fit Festival 2026 Siap Digelar di Agora Mall, Sajikan Urban Sport & Wellness Experience
Next articleRoyal Enfield Hadirkan Edisi Spesial Meteor 350 Sundowner Orange di Indonesia