“Membincang Postur Citra Perempuan Sunda (Nusantara): Mengayuh Cita di Antara Kultur Patriarki, Stigmatisasi, dan Emansipasi”
KitaBogor – Perempuan Sunda sejak masa primordial memiliki citra yang relatif egaliter dan terhormat. Dalam mitologi Sunda, Dewi Sri melambangkan kesuburan dan kekuatan pemelihara kehidupan, sementara tokoh seperti Dyiah Pitaloka Citraresmi dan Dayangsumbi merepresentasikan kehormatan, kecerdasan, dan keteguhan. Pepatah indung tunggul rahayu, bapa tangkal darajat menegaskan posisi ibu sebagai pusat harmoni keluarga dan masyarakat. Bahkan dalam sejarah Kerajaan Galunggung, perempuan dapat menjadi resi atau pemimpin spiritual, menunjukkan adanya elemen kesetaraan gender yang kini disebut sebagai “feminisme Sunda kuno”.
Namun, gelombang feodalisme Mataram, penyebaran Islam yang terkonstruksi secara patriarkis, serta masa kolonialisme telah menggeser citra tersebut. Perempuan semakin terkurung dalam ideal domestik macak, manak, masak (berhias, melahirkan, memasak), sementara laki-laki mendominasi ruang publik dan pengambilan keputusan. Patriarki ini terus bereproduksi hingga era kontemporer dalam bentuk kapitalis-patriarkal: perempuan Sunda dihadapkan pada beban ganda (domestik + publik), kesenjangan upah, kekerasan berbasis gender, serta stigmatisasi terhadap perempuan karir, seniman (sinden, penari), perokok, atau yang berani melanggar norma tradisional.
Di tengah arus globalisasi dan revolusi digital saat ini, citra perempuan Sunda semakin kompleks. Mojang Priangan — yang populer melalui lagu dan tari Jaipongan — digambarkan sebagai gadis ceria, anggun, berkebaya, stylish, dan adaptif. Namun di balik keceriaan tersebut, terdapat ketegangan hebat: tekanan standar kecantikan yang dipengaruhi K-pop dan media sosial (kulit putih, tubuh ideal, wajah “mancung”), ekspektasi masyarakat yang masih patriarkal. Sekaligus tuntutan emansipasi untuk berpendidikan tinggi, berkarier, dan berpolitik.
Kebutuhan kekinian yang mendesak adalah membangun citra ideal perempuan Sunda yang utuh dan berdaya. Bukan citra yang dikotomis (tradisional vs modern, domestik vs publik). Melainkan citra hibrida yang berakar pada nilai luhur Sunda — silih asah, silih asuh, silih asih — sekaligus mampu menjawab tantangan zaman:
Menghadapi stigma dan kekerasan berbasis gender yang masih tinggi di Jawa Barat.
Menyeimbangkan peran domestik dengan ambisi publik tanpa harus “memilih salah satu”.
Memanfaatkan media sosial dan seni kontemporer sebagai ruang resistensi sekaligus pelestarian identitas.
Mendorong kepemimpinan perempuan yang berbasis kearifan lokal, bukan sekadar meniru feminisme Barat.
Perempuan Sunda kini sedang “mengayuh cita” di lautan yang turbulen. Antara pelestarian budaya, tekanan patriarki yang masih kuat, stigmatisasi sosial, serta gelombang emansipasi yang tak terbendung. Diskusi ini menjadi sangat relevan untuk merumuskan postur citra perempuan Sunda yang tidak lagi menjadi korban konstruksi, melainkan subjek yang sadar, mandiri, dan tetap harmonis dengan nilai-nilai leluhur. (Ckr03)


