Indonesia Tak Boleh Hanya Jadi Pasar, Komdigi Soroti Kedaulatan Data dan AI

0
4
Indonesia Tak Boleh Hanya Jadi Pasar, Komdigi Soroti Kedaulatan Data dan AI

Kitabogor – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa data dan konten digital masyarakat Indonesia kini menjadi fondasi penting dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) global. Karena itu, negara harus memastikan hak, nilai ekonomi, dan kedaulatannya tidak hilang di tengah derasnya arus transformasi digital.

Menurut Nezar, data bukan lagi sekadar informasi pribadi, melainkan bahan baku utama teknologi AI. Setiap aktivitas digital—mulai dari lokasi, percakapan, hingga unggahan media sosial—menjadi jejak yang diproses dalam skala besar untuk membangun model bisnis dan sistem kecerdasan buatan bernilai tinggi.

“Platform global seperti Google, Meta, dan TikTok mengumpulkan dan mengolah data dalam skala besar. Data tersebut kemudian dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi berbasis big data dan kecerdasan buatan,” ujarnya dalam forum Indonesia–Finland Roundtable on Data Sovereignty and Cyber Resilience di Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026).

Ia mengingatkan bahwa persoalan tidak berhenti pada perlindungan data pribadi. Konten publik seperti karya jurnalistik dan tulisan akademik juga berpotensi digunakan untuk melatih mesin AI tanpa mekanisme yang transparan dan adil. Nezar mencontohkan langkah The New York Times yang membatasi akses kontennya karena digunakan untuk melatih sistem AI seperti OpenAI. Sengketa tersebut menegaskan bahwa gaya penulisan dan konten berita memiliki nilai ekonomi serta hak kekayaan intelektual.

Karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital tengah meninjau ulang kerangka regulasi nasional agar mampu menjawab tantangan AI dan ekonomi data. Pemerintah juga mempelajari praktik Uni Eropa yang menempatkan perlindungan hak warga sebagai prioritas dalam tata kelola digital.

Selain kedaulatan data, aspek ketahanan siber juga menjadi perhatian utama. Regulasi khusus tengah disiapkan untuk melindungi arsitektur digital nasional dari ancaman siber yang terus berkembang.

“Negara yang mampu mengelola dan mengendalikan data akan memiliki posisi tawar lebih kuat dalam ekonomi digital global. Kita tidak boleh hanya menjadi pasar,” tegas Nezar. (Mur)

Previous articleEskalasi Timur Tengah, Indonesia Tawarkan Mediasi Iran dan Amerika Serikat
Next articleIsuzu Siapkan Jurus Baru di Tengah Tekanan Ekonomi Global