KitaBogor – Sawit Academy Eps. USU yang diselenggarakan oleh PT Hai Sawit Indonesia dan didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menghadirkan ruang diskusi terbuka yang melibatkan mahasiswa sebagai bagian penting dalam literasi sawit berbasis data.
Dalam sesi bertajuk “Perspektif dan Peran Generasi Muda Akademik dalam Literasi Sawit di Kehidupan Sehari-hari”. Mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara (USU), Enjel Silvia, menegaskan bahwa kelapa sawit merupakan komoditas strategis penggerak ekonomi nasional.
Ia memaparkan bahwa nilai ekspor sawit Indonesia meningkat signifikan, dari sekitar US$1 miliar pada tahun 2000 menjadi sekitar US$31 miliar pada 2023. Menurutnya, sawit bukan sekadar bahan baku minyak goreng. Melainkan komoditas serbaguna yang diolah menjadi berbagai produk turunan seperti gliserin, asam lemak, hingga fatty alcohol untuk kebutuhan industri pangan, kosmetik, dan sektor lainnya.
Meski demikian, Enjel juga menyoroti isu lingkungan yang kerap dikaitkan dengan industri sawit, khususnya deforestasi. Ia menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak dapat disederhanakan.
Berdasarkan data periode 1990–2018, sekitar 62 persen lahan sawit berasal dari lahan terdegradasi, 37 persen dari lahan pertanian dan perkebunan, serta kurang dari 1 persen dari hutan yang belum terganggu. Sementara dalam periode 2000–2022, ketika luas kebun sawit meningkat, kontribusinya terhadap deforestasi disebut sekitar 15 persen.
Menurutnya, hubungan antara sawit dan deforestasi bersifat kompleks dan perlu dipahami secara komprehensif. Mahasiswa, katanya, harus bersikap kritis dan objektif—tidak mudah percaya narasi sepihak, namun juga tidak menutup mata terhadap tantangan lingkungan.
Kegiatan yang didukung BPDP ini menegaskan bahwa literasi sawit perlu dibangun dari ruang kampus. Masa depan sawit Indonesia, pada akhirnya, sangat ditentukan oleh generasi muda yang berbasis data, kritis, dan bertanggung jawab. (Hen)


