KitaBogor – Di tengah tantangan ketahanan pangan dan tingginya angka susut pangan, sebuah kabar optimistis datang dari Badan Pangan Nasional (Bapanas). Dalam kurun waktu hanya tiga bulan, capaian pangan terselamatkan melonjak hingga delapan kali lipat, membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Melalui Gerakan Selamatkan Pangan (GSP) dan kampanye Stop Boros Pangan, Bapanas terus mendorong perubahan perilaku sekaligus memperkuat upaya pencegahan kerawanan pangan. Hingga November 2025, program ini telah berhasil menyelamatkan 224 ton pangan dan menjangkau lebih dari 456 ribu penerima manfaat di 17 provinsi.
Namun, capaian tersebut bukan akhir. Berkat sinergi yang semakin kuat dengan pelaku usaha, akademisi, dan berbagai mitra strategis, pada minggu ketiga Januari 2026 jumlah pangan yang berhasil diselamatkan melonjak drastis menjadi 1.900 ton, dengan penerima manfaat mencapai 2,9 juta orang. Jumlah pendonor pangan berlebih pun meningkat menjadi 70 pelaku usaha.
Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci utama keberhasilan ini. Dalam Gathering Civitas Akademika Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University di Bogor. Ia menyampaikan pentingnya peran akademisi dalam memastikan ketersediaan pangan sekaligus kualitas konsumsi masyarakat.
Menurut Nita, pengelolaan pangan agar tidak terbuang sia-sia merupakan bagian penting dari ketahanan pangan berkelanjutan. Keilmuan yang dikembangkan di perguruan tinggi, khususnya di bidang pangan dan gizi. Dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung kebijakan dan implementasi di lapangan.
Sejalan dengan itu, Dekan FEMA IPB Sofyan Sjaf menekankan bahwa isu pangan bersifat kompleks dan membutuhkan pendekatan lintas disiplin. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan mitra pembangunan diharapkan terus diperkuat demi menjawab tantangan pangan nasional secara berkelanjutan. (Hen)


