Kitabogor – Hujan yang turun di Estádio da Luz seolah menjadi pertanda bahwa malam itu tidak akan berjalan mudah bagi Real Madrid. Lapangan licin, tempo cepat, dan tekanan suporter tuan rumah menciptakan suasana panas sejak peluit awal dibunyikan.
Madrid mencoba mengambil kendali sejak menit pertama. Penguasaan bola menjadi senjata utama, dengan Kylian Mbappé dan Rodrygo aktif bergerak di sisi kanan untuk membongkar pertahanan Benfica. Namun tuan rumah tampil disiplin. Garis pertahanan rapat, jarak antarlini terjaga, dan setiap peluang Madrid dipaksa berakhir dengan duel fisik.
Laga sempat diwarnai kontroversi ketika Benfica mendapatkan penalti di menit ke-18. Namun setelah tinjauan VAR, keputusan tersebut dibatalkan. Momen itu menjadi peringatan bahwa pertandingan akan berjalan ketat hingga akhir.
Kebuntuan akhirnya pecah di menit ke-30. Umpan silang dari sisi kanan disambut sempurna oleh sundulan Mbappé. Gol tersebut membawa Madrid unggul dan memberi harapan bahwa laga bisa dikendalikan. Namun Benfica tidak panik. Mereka tetap setia pada rencana permainan.
Respons tuan rumah datang cepat. Enam menit berselang, Benfica mencuri bola di tengah lapangan dan melancarkan serangan balik cepat. Andreas Schjelderup menyelesaikan peluang dengan dingin, mengubah skor menjadi imbang dan menghidupkan kembali atmosfer stadion.
Tekanan Benfica berlanjut hingga akhir babak pertama. Pada menit 45+5, Pavlidis mengeksekusi penalti dengan tenang dan membawa Benfica unggul 2–1 saat turun minum. Madrid mulai terlihat kesulitan menjaga ritme di tengah intensitas permainan lawan.
Memasuki babak kedua, Madrid meningkatkan tekanan. Bola lebih sering berada di area pertahanan Benfica. Namun efektivitas kembali menjadi pembeda. Serangan cepat Benfica di menit ke-54 berbuah gol ketiga, membuat tugas Madrid semakin berat.
Mbappé kembali muncul sebagai harapan. Empat menit kemudian, ia mencetak gol keduanya dan memperkecil ketertinggalan. Pertandingan pun terbuka. Madrid menekan tanpa henti, sementara Benfica bertahan dengan disiplin dan cermat mengatur tempo.
Tensi memuncak di menit-menit akhir. Pelanggaran demi pelanggaran terjadi, emosi pemain memanas. Situasi semakin sulit bagi Madrid ketika Raul Asencio dan Rodrygo harus meninggalkan lapangan akibat kartu kuning kedua. Dengan sembilan pemain, Madrid praktis kehilangan kendali.
Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan Benfica. Di menit 90+8, Anatoliy Trubin yang ikut maju ke kotak penalti menyundul bola dan memastikan kemenangan 4–2 bagi tuan rumah.
Peluit panjang menutup laga penuh drama di Lisbon. Benfica tampil lebih efektif, sementara Madrid harus menerima kekalahan meski Mbappé mencetak dua gol. Bagi Los Blancos, hasil ini tetap cukup untuk mengamankan tiket ke fase play-off knock-out Liga Champions—namun juga menjadi pengingat bahwa tantangan sesungguhnya masih menanti di depan. (Mur)


