KitaBogor – Sepanjang Jalan Surya Kencana, suasana malam itu terasa begitu hidup. Warna-warni lampion bergantung indah, denting tambur barongsai menggema, dan ribuan warga tumpah ruah menyaksikan puncak perayaan Bogor Street Festival Cap Go Meh 2026.
Sekitar 20 kelompok penampil ambil bagian, termasuk 12 barongsai yang meliuk energik di tengah jalan. Tak hanya itu, sanggar-sanggar budaya tradisional, marawis, hingga 500 pelaku UMKM turut memeriahkan acara. Anak-anak, remaja, hingga orang tua larut dalam suasana penuh semangat dan kebersamaan.
Acara dibuka oleh PPI Kota Bogor dengan kirab Bendera Merah Putih, dilanjutkan Liong Merah Putih sepanjang 50 meter yang diiringi tim qasidah. Mojang Jajaka Kota Bogor dan Komunitas Lengser Ambu Bogor pun ikut tampil, disusul drumband dan tarian dari berbagai sanggar Sunda. Harmoni budaya terasa begitu kental.
Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menyebut, ada banyak kota di Indonesia yang merayakan Cap Go Meh dengan meriah, seperti Surabaya, Bandung, Manado, hingga Bekasi. Namun, menurutnya, yang terbesar ada di Singkawang dan Kota Bogor.
“Tahun ini terasa berbeda. Bukan hanya kolaborasinya, tapi juga toleransinya, karena bertepatan dengan bulan Ramadan,” ujar Bima.
Panitia bahkan menyesuaikan rangkaian acara dengan suasana Ramadan. Setelah warga menunaikan salat tarawih, pawai kembali digelar dengan sentuhan nuansa Islami yang menyatu indah dengan tradisi Cap Go Meh. Inilah wajah khas Kota Bogor—keberagaman yang dirayakan dengan saling menghormati.
Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim pun menyampaikan rasa syukurnya. Perayaan ini telah berlangsung 24 kali (total 27 kali, dengan tiga kali sempat tertunda), menjadi bukti komitmen masyarakat dalam menjaga toleransi dan mempererat silaturahmi antarumat beragama.
Di tengah berbagai tantangan zaman, Cap Go Meh di Bogor kembali membuktikan satu hal sederhana: perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dirayakan bersama. (Mur)


