Bunga Bangkai Segera Mekar di Kebun Raya Bogor, Momen Langka yang Ditunggu 12 Tahun

0
24
Bunga Bangkai Segera Mekar di Kebun Raya Bogor, Momen Langka yang Ditunggu 12 Tahun

KitaBogor – Fenomena langka kembali terjadi di Kebun Raya Bogor. Bunga bangkai raksasa Amorphophallus titanum atau titan arum diperkirakan akan mekar sempurna pada Selasa, 3 Februari 2026. Momen ini menjadi perhatian publik karena terakhir kali bunga bangkai di lokasi ini mekar pada 2014.

Berdasarkan pemantauan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), hingga Sabtu (31/1/2026) tinggi tanaman telah mencapai 120 cm dengan diameter kuncup sekitar 21 cm. Ukuran tersebut menandakan fase menuju mekar sempurna semakin dekat.

Kepala BRIN, Arif Satria, bahkan meninjau langsung perkembangan tanaman langka asal Sumatera ini. Ia menyebut, mekarnya bunga bangkai bisa menjadi sarana edukasi penting bagi masyarakat untuk mengenal kekayaan biodiversitas Indonesia.

Fenomena Langka dan Bernilai Ilmiah

Bunga bangkai Amorphophallus titanum dikenal sebagai salah satu bunga terbesar di dunia dengan aroma khas menyengat saat mekar. Tanaman ini merupakan spesies endemik Indonesia yang masuk kategori Endangered Species (terancam punah) dalam daftar merah IUCN.

Menurut data IUCN, jumlah individu dewasa bunga bangkai di alam diperkirakan kurang dari 1.000 tanaman. Ancaman utama datang dari perburuan, kerusakan habitat, serta alih fungsi hutan menjadi perkebunan.

Di Kebun Raya Bogor sendiri, terdapat sembilan jenis bunga bangkai yang dibudidayakan sejak 1992 sebagai bagian dari program konservasi nasional.

Arif menjelaskan, pola mekar bunga bangkai masih belum bisa diprediksi secara pasti. Kadang mekar tiap dua atau tiga tahun, namun bisa juga menunggu lebih lama seperti yang terjadi sejak 2014.

Edukasi Konservasi untuk Masyarakat

BRIN mengajak masyarakat, terutama pelajar, untuk menyaksikan langsung momen langka ini. Selain menarik, peristiwa ini bisa menjadi sarana belajar tentang pentingnya pelestarian tanaman langka.

Kebun Raya Bogor tidak hanya berfungsi sebagai tempat wisata, tetapi juga pusat penelitian dan konservasi. Pengembangan konsep wisata edukatif berbasis konservasi diharapkan mampu meningkatkan kepedulian publik terhadap lingkungan.

Menurut Arif, kemampuan Indonesia menjaga keanekaragaman hayati akan menentukan citra bangsa di mata dunia. Kekayaan biodiversitas merupakan aset besar yang harus dirawat dan dikelola secara berkelanjutan. (Mur)

Previous articleSaat Legenda Bertemu Legenda: Ramadan Penuh Rasa Chef William Wongso di ARYADUTA Menteng
Next articleJelang Ramadan, Muslim LifeFair Bekasi 2026 Jadi Tempat Keluarga Siapkan Hati dan Rumah Sekaligus