KitaBogor – Kampus atau tepatnya Civitas Universitas Djuanda (Unida) Bogor bangga akan penemuan bahan bakar merah putih Bobibos yang berbahan baku dari jerami.
Apalagi, Mulyadi yang merupakan Komisaris Utama PT. Inti Sinergi Formula sebagai penemu bahan bakar Bobibos. Kata Ketua Umum Yayasan Pusat Studi Pengembangan Islam Amaliyah Indonesia Unida, Prof. Dr. Uman Suherman AS, M.Pd. Selain warga asli Jonggol, Kabupaten Bogor juga merupakan seorang Dosen di Unida, yang beralamat di Ciawi, Kabupaten Bogor.
“Kami bangga penemuan bahan bakar merah putih Bobibos oleh putra terbaik Unida Mulyadi, beliau sosok yang memiliki integrittas dan bagaimana keilimuan dan pengabdian kebijakan publik terintegrasi dengan baik hingga memihak dan kepentingan masyarakat luas,” kata Prof. Dr. Uman Suherman AS, M.Pd kepada wartawan, Senin, 30 Maret 2026.
Uman Suherman mengharapkan, penemuan bahan bakar nabati Bobibos oleh Mulyadi maupun PT. Inti Sinergi Formula bisa disambut baik oleh pemerintah pusat.
Apalagi, sebelumnya penemuan bahan bakar merah putih Bobibos juga membuat dua negara lain tertarik untuk memproduksi Bobibos di negara mereka yaitu Norwegia dan Timor Leste.
“Bahkan, di Negara Timor Leste, dalam waktu dekat akan Perdana Menterinya yaity Xanana Gusmao akan melaunching bahan bakar nabati Bobibos. Apa yang dilakukan salah satu Dosen Unida yaiyu Mulyadi, setidaknya memiliki prestasi di tingkat nasional atau bahkan di Asia Tenggara,” tutur Uman Suherman.
Bambang Widjojanto, Dosen Fakultas Unida dan juga merupakan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2011 -2015 menegaskan. Kehadiran bahan bakar nabati Bobibos adalah solusi dari kenaikan harga dan potensi kelangkaaan bahan bakar minyak (BBM).
“Geopolitik intermasional yang terjadi saat ini, membuat harga BBM naik atau bahkan ‘kekacauan’. Harusnya, inovasi Mulyadi yang juga kader Partai Gerindra ‘ditangkap’ oleh pemimpin negara ini hingga Negara Indonesia harusnya yang memprodiksi bahan bakar merah putih Bobibos. Saya melihat ada yang salah dalam ‘kasus’ ini,” tegas Bambang Widjojanto.
Ia menambahkan, karena berbahan baku jerami, maka ketahanan energi yang dicita – citakam oleh Mulyadi, maka juga membuat ketahanan pangan.
“Jadi dengan kehadiran bahan bakar Bobibos, ketahanan energi kita terjadi kalau kita sebelumnya sudah mencapai ketahanan pangan,” tambah Bambang Widjijanto.
Mulyadi menjelaskan dengan luas sawah di Indonesia yang lebih dari 7,4 juta hektare, maka akan mengurangi beban anggaran Negara Indonesia untuk membeli minyak mentah.
Ia pun berharap, ada kemudahan regulasi dari pemerintah pusat seperti yang sudah dilakukan oleh pemerintah Negara Timor Leste.
“Saya sudah menghadap beberapa petinggi Negara Indonesia. Dan Bobibos berharap ada kemudahan regulasi dari pemerintah pusat hingga kita memproduksi bahan bakar merah putih Bobibos. Dimana selain akan terjadi penghematan anggaran negara tetapi memudahkan masyarakat dalam penggunaan bahan bakar murah karena setelah kami hitung. Harga bahan bakar Bobibos bisa ditebus oleh masyarakat dengan harga Rp 7.000 perliter,” jelas Mulyadi. (**)


