Belanja Online Jadi Gaya Hidup Baru, Ini Tren eCommerce Indonesia di 2026

0
9
Belanja Online Jadi Gaya Hidup Baru, Ini Tren eCommerce Indonesia di 2026

KitaBogor – Memasuki tahun 2026, cara masyarakat Indonesia berbelanja online mengalami perubahan besar. Jika dulu diskon dan promo menjadi daya tarik utama, kini konsumen semakin mengutamakan kepercayaan, kualitas produk, dan pengalaman belanja secara keseluruhan. Pergeseran ini menandai babak baru eCommerce Indonesia yang disebut sebagai era confident commerce.

Lazada Indonesia menilai konsumen saat ini jauh lebih matang dan rasional dalam mengambil keputusan. Belanja online bukan lagi soal impuls, melainkan bagian dari gaya hidup untuk meningkatkan kualitas hidup. Mulai dari peralatan rumah tangga, elektronik, hingga produk kesehatan, konsumen semakin berani membeli barang bernilai tinggi secara digital—selama mereka merasa aman dan percaya.

CEO Lazada Indonesia, Carlos Barrera, menyebut eCommerce kini bertransformasi dari sekadar platform transaksi menjadi fondasi kepercayaan antara konsumen dan brand. Ketika konsumen yakin akan keaslian produk dan kualitas layanan, mereka tidak ragu berbelanja lebih besar dan berjangka panjang. “Kepercayaan adalah kunci. Saat itu terbentuk, pertumbuhan akan datang secara alami,” ujarnya.

Perubahan ini juga tercermin dalam laporan e-Conomy SEA yang memprediksi nilai transaksi eCommerce Indonesia bisa mencapai US$140 miliar pada 2030, tertinggi di Asia Tenggara. Untuk 2026, Lazada melihat sejumlah tren utama yang membentuk wajah baru belanja online.

Pertama, kepercayaan menjadi faktor penentu utama. Konsumen tidak lagi sekadar membandingkan harga, tetapi juga menilai reputasi penjual, jaminan keaslian, serta perlindungan pembeli. Keluarga muda dan kelas menengah, misalnya, semakin mengandalkan online mall untuk kebutuhan penting karena merasa lebih aman dan terjamin.

Kedua, belanja online semakin selaras dengan fase kehidupan. eCommerce kini hadir untuk menemani berbagai transisi, mulai dari membangun rumah tangga, merenovasi rumah, hingga menjalani gaya hidup lebih sehat. Tak heran jika kategori elektronik, furnitur, otomotif, dan kesehatan terus tumbuh.

Ketiga, muncul tren premiumisasi berbasis nilai. Konsumen bersedia membayar lebih untuk produk berkualitas tinggi yang tahan lama dan memberi pengalaman lebih baik. Namun, konsep premium kini tetap dibarengi dengan nilai rasional, berkat fitur cicilan, voucher, dan program loyalitas yang membuat produk kelas atas tetap terasa terjangkau.

Keempat, program membership menggantikan diskon sesaat. Konsumen kini menghargai manfaat jangka panjang seperti penawaran eksklusif, poin loyalitas, dan layanan prioritas. Pola ini mendorong kebiasaan belanja yang lebih konsisten, sekaligus memperkuat hubungan antara platform, brand, dan pelanggan.

Kelima, peran kreator konten dan afiliator semakin krusial. Di tengah banjir pilihan, konsumen membutuhkan referensi yang autentik dan mudah dipahami. Kreator hadir sebagai penghubung, menerjemahkan spesifikasi produk menjadi pengalaman nyata yang relevan dengan keseharian audiens.

Lazada melihat kreator bukan sekadar alat promosi, melainkan mitra strategis dalam membangun kepercayaan. Melalui investasi besar di ekosistem afiliator, platform berharap tercipta pertumbuhan yang berkelanjutan bagi brand, kreator, dan konsumen.

Ke depan, eCommerce Indonesia diproyeksikan semakin dewasa. Fokus industri tak lagi semata mengejar volume transaksi, tetapi memberikan dampak nyata bagi kualitas hidup masyarakat. Dengan kepercayaan sebagai fondasi, belanja online berkembang menjadi pengalaman yang lebih bermakna, personal, dan bertanggung jawab.

“Di tengah pilihan yang nyaris tak terbatas, platform yang bertahan adalah yang benar-benar membantu konsumen hidup lebih baik,” tutup Carlos. (Hen)

Previous articlePabrik PT Phytocemindo Reksa di Gunung Putri Bogor Terbakar, Api Berhasil Dipadamkan Tanpa Korban
Next articleKepengurusan Baru KSMI Sah Secara Hukum, Targetkan Prestasi Sepakbola Mini Asia