Bapanas Pastikan Harga Daging di Pasar Cileungsi Stabil

0
8

KitaBogor – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan harga sejumlah komoditas pangan strategis di Pasar Cileungsi, Kabupaten Bogor, masih dalam kondisi terkendali.

Berdasarkan hasil pemantauan langsung di lapangan pada Kamis (19/2/2026), harga daging ayam ras dan daging sapi berada dalam kisaran Harga Acuan Penjualan (HAP), sementara harga cabai rawit merah mulai menunjukkan tren penurunan meskipun masih di atas batas acuan.

Dari hasil pantauan, harga daging ayam ras dijual pada kisaran Rp40.000 hingga Rp41.000 per kilogram, dengan harga transaksi rata-rata sekitar Rp40.000 per kilogram setelah proses tawar-menawar. Salah satu pedagang ayam, Elas, mengatakan harga saat ini relatif stabil, meski mengalami kenaikan tipis dibandingkan pekan sebelumnya.

“Sebelumnya harga masih Rp38.000 per kilogram, sekarang sudah naik menjadi Rp40.000 per kilogram,” ujarnya.

Sementara itu, harga daging sapi terpantau berada di kisaran Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram. Pedagang daging sapi, Asep, menyebutkan kenaikan harga yang terjadi dalam beberapa hari terakhir masih tergolong wajar. “Saat ini Rp140.000 per kilogram, sebelumnya sekitar Rp130.000 sampai Rp135.000 per kilogram,” katanya.

Untuk komoditas cabai rawit merah, harga yang sebelumnya sempat mencapai Rp120.000 per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp110.000 per kilogram. Parian, pedagang cabai di Pasar Cileungsi, menyampaikan bahwa penurunan ini terjadi sejak pasokan dari pasar induk mulai membaik.

Menanggapi perkembangan tersebut, Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa harga daging ayam dan daging sapi yang terpantau masih sesuai dengan HAP yang ditetapkan Peraturan Badan Pangan Nasional Nomor 12 Tahun 2024, HAP daging sapi pada Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram, sedangkan HAP daging ayam ras sebesar Rp40.000 per kilogram.

Adapun HAP cabai rawit merah ditetapkan pada kisaran Rp40.000 hingga Rp57.000 per kilogram, sehingga harga saat ini masih tergolong tinggi.

Ketut optimistis langkah penguatan distribusi dari sentra produksi ke pasar induk dapat memperlancar pasokan dan menurunkan harga secara bertahap. Selain itu, faktor cuaca juga menjadi perhatian karena berpengaruh terhadap produksi dan distribusi komoditas hortikultura.

 

Previous articleNongkrong Adem di Kedai Kopi Bambu Bojong Koneng, Hidden Gem Murah di Bogor
Next articleHujan Lebat dan Angin Kencang Rusak Lima Rumah di Bogor Utara