Aston Villa Menang Tanpa Ribut

0
6
Aston Villa Menang Tanpa Ribut

Di Europa League, Mereka Belajar Menjadi Dewasa

KitaBogor – Tidak semua kemenangan datang dengan sorak sorai. Beberapa lahir dalam diam, lewat kesabaran yang diuji dan keputusan yang tidak tergesa. Aston Villa mengalaminya saat menjamu FC Salzburg di Europa League—sebuah malam yang tidak langsung ramah, namun justru memberi makna.

Villa tertinggal lebih dulu. Menit ke-33, Karim Konaté memanfaatkan celah di lini belakang tuan rumah dan membawa Salzburg unggul. Skor 0–1 bertahan hingga jeda, menyisakan pertanyaan: apakah Villa akan terpancing emosi, atau tetap setia pada rencana?

Jawabannya belum datang cepat. Bahkan, awal babak kedua terasa lebih berat. Moussa Kounfolo Yeo mencetak gol kedua Salzburg di menit ke-49. Dua gol tertinggal, tekanan meningkat, dan stadion sempat terdiam. Di titik seperti ini, banyak tim kehilangan arah.

Aston Villa tidak.

Alih-alih bermain terburu-buru, mereka memilih bertahan dalam struktur. Ritme dijaga. Bola diputar. Tekanan dibangun perlahan. Lalu, di menit ke-64, momen kecil mengubah segalanya. Morgan Rogers mencetak gol setelah menerima umpan Emiliano Buendía. Bukan gol spektakuler, tapi cukup untuk menyalakan kembali keyakinan.

Villa mulai mengambil alih pertandingan. Enam menit kemudian, Tyrone Mings menyamakan kedudukan lewat penyelesaian tenang, memanfaatkan assist Matty Cash. Stadion hidup kembali, namun Villa tetap menahan diri. Mereka tidak mengejar drama. Mereka menunggu waktu.

Waktu itu datang di menit ke-87. Jamaldeen Jimoh, yang masuk dari bangku cadangan, mencetak gol penentu. Tidak ada selebrasi berlebihan. Tidak ada gestur provokatif. Skor 3–2 menjadi penutup dari comeback yang dibangun lewat kontrol, bukan kekacauan.

Kemenangan ini terasa penting bukan semata karena tiga poin. Cara Aston Villa bangkit dari ketertinggalan dua gol memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam: kedewasaan. Di kompetisi yang sering disebut kasta kedua Eropa, mereka justru menampilkan pendekatan yang terasa matang.

Pendekatan itu juga terlihat sepanjang musim. Di Premier League, Villa berada di papan atas bukan karena satu-dua malam magis, melainkan karena konsistensi. Emosi dijaga. Fokus dipertahankan. Hasil dirawat.

Europa League kerap menjadi jebakan bagi tim yang terlalu berisik—jadwal padat, rotasi, dan tekanan fisik sering mengikis stabilitas. Namun Villa memperlakukannya sebagai ruang belajar. Setiap laga bukan ajang pamer, melainkan bagian dari proses.

Di balik semua itu, ada sosok yang bekerja tanpa banyak sorotan. Unai Emery tidak membangun Aston Villa untuk tampil mencolok. Ia membentuk tim yang tahu kapan harus menahan diri, kapan harus menyerang, dan kapan cukup bertahan.

Aston Villa mungkin belum sampai pada titik perayaan besar. Tapi malam melawan Salzburg memberi satu sinyal yang jelas: mereka tidak lagi datang ke Eropa untuk sekadar hadir.

Di panggung yang sering diremehkan, Villa sedang belajar menjadi tim yang bertahan. Dan di Eropa, itu sering kali lebih penting daripada sekadar menang. (Acil)

Previous articleRetak Parah, Jalan Saleh Danasasmita Batutulis Ditutup Sementara
Next articleArchipelago Hadirkan “60 Seconds to Seoul”, Street Food Korea Autentik di Jaringan Hotel Indonesia