Arus Mudik Padat, Harga Pangan Ikut Naik Akibat Hambatan Logistik

0
2
Arus Mudik Padat, Harga Pangan Ikut Naik Akibat Hambatan Logistik

KitaBogorMenjelang puncak arus mudik Lebaran 2026, harga sejumlah bahan pangan mulai merangkak naik di berbagai daerah. Namun, kondisi ini bukan disebabkan oleh kelangkaan stok, melainkan adanya gangguan dalam distribusi yang berpotensi mendorong kenaikan harga jika tidak segera diatasi.

Dalam beberapa hari terakhir, komoditas penting seperti beras, cabai, bawang, telur, hingga daging ayam menunjukkan tren kenaikan. Selain itu, perbedaan harga antarwilayah juga semakin terlihat, menandakan adanya tantangan dalam sistem logistik nasional untuk mendistribusikan pasokan secara merata.

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menjelaskan bahwa Indonesia saat ini sedang memasuki fase krusial menjelang Lebaran, di mana mobilitas masyarakat meningkat tajam dan berpotensi menghambat distribusi barang.

“Ini bukan soal kekurangan pangan, tetapi apakah pasokan bisa sampai tepat waktu ke daerah yang membutuhkan. Saat arus mudik padat, distribusi ikut terhambat. Di situlah harga mulai naik,” jelasnya.

Ia menambahkan, arus mudik yang terjadi lebih awal dari biasanya turut menggeser pola permintaan dari kota besar ke daerah tujuan. Dampaknya, aktivitas ekonomi di daerah meningkat, namun di sisi lain jalur distribusi menjadi lebih padat dan berisiko mengalami hambatan logistik.

Selain faktor distribusi, perilaku pasar juga turut memengaruhi. Ekspektasi kenaikan harga dari pelaku usaha bisa membuat harga naik lebih cepat, bahkan sebelum terjadi gangguan pasokan yang nyata.

“Ketika pelaku pasar memperkirakan harga akan naik, biasanya penyesuaian harga sudah dilakukan lebih dulu. Ini yang perlu diwaspadai,” tambahnya.

Dari sisi pelaku usaha, berbagai langkah mulai dilakukan, seperti menambah stok dan menyesuaikan pola distribusi. Namun, tantangan tetap ada, terutama terkait biaya logistik yang tidak menentu dan potensi keterlambatan pengiriman, khususnya bagi sektor ritel dan UMKM.

Dalam situasi ini, kebijakan pemerintah dinilai sebaiknya fokus pada kelancaran distribusi, bukan intervensi harga yang berlebihan. Pasalnya, kebijakan yang tidak tepat justru bisa memicu distorsi di pasar.

“Yang terpenting adalah memastikan distribusi berjalan lancar. Jangan sampai kebijakan yang terlalu agresif malah memperburuk keadaan,” tegasnya.

Menurutnya, momentum Ramadan dan Lebaran seharusnya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi. Karena itu, menjaga distribusi tetap lancar menjadi kunci agar lonjakan konsumsi tidak berubah menjadi tekanan ekonomi.

“Kalau distribusi terganggu, bukan hanya jalan yang macet, tapi juga perputaran ekonomi,” pungkasnya.

Ke depan, diperlukan koordinasi lintas sektor, penetapan jalur distribusi prioritas, serta transparansi informasi harga agar stabilitas tetap terjaga.

Dengan begitu, momentum Ramadan dan Idulfitri bisa dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga daya beli masyarakat. (Mur)

Previous articleHarga Melonjak, Pembeli Tak Surut! Daging Sapi Jadi Buruan Jelang Lebaran
Next articleTerinspirasi Legenda Tenis, Koleksi Terbaru UNIQLO x Roger Federer Hadir 27 Maret