KitaBogor – Isu kesehatan mental di Indonesia semakin menjadi sorotan. Melihat kondisi ini, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengambil langkah cepat dengan meluncurkan Program Titian, sebuah skema percepatan untuk mencetak psikolog klinis dalam waktu lebih singkat.
Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan bahwa kebutuhan tenaga kesehatan jiwa di Indonesia masih jauh dari ideal, terutama di daerah.
Lewat program ini, proses pendidikan yang biasanya membutuhkan sekitar 200 modul dipangkas menjadi hanya 30 modul—tanpa mengorbankan kualitas kompetensi. Langkah ini dinilai sebagai solusi cepat untuk mengatasi krisis tenaga psikolog klinis.
Tak hanya itu, pemerintah juga terus memperkuat layanan di Puskesmas sebagai lini terdepan. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes RI, Maria Endang Sumiwi, menyebutkan. Bahwa saat ini Indonesia masih kekurangan lebih dari 10 ribu psikolog klinis.
Meski dokter dan perawat sudah mendapatkan pelatihan dasar untuk menangani gangguan seperti depresi hingga skizofrenia. Kasus serius seperti keinginan bunuh diri tetap membutuhkan penanganan khusus dari psikolog klinis.
Sementara itu, Anggota Komite III DPD RI, Agita Nurfianti, menegaskan. Bahwa Puskesmas memiliki peran krusial dalam mendeteksi dan menangani masalah kesehatan mental sejak dini.
Ia juga mendorong agar psikolog umum dapat dilibatkan dalam layanan awal, sebelum pasien dirujuk ke spesialis.
Dengan meningkatnya kasus kesehatan mental di masyarakat, kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci untuk memastikan layanan yang lebih merata, cepat, dan mudah diakses oleh semua lapisan masyarakat. (Mur)


