Kuliner Indonesia Kaya Ungkap Sejarah di Balik Sajian Nusantara

0
4
Webseries Kuliner Indonesia Kaya Ungkap Sejarah di Balik Sajian Nusantara

KitaBogor – Sebagai bagian dari upaya berkelanjutan dalam pelestarian budaya, Indonesia Kaya kembali menyuguhkan Kuliner Indonesia Kaya yang konsisten mendokumentasikan ragam kuliner khas Nusantara dalam format audio visual sejak 2017.

Dalam episode terbaru yang tayang tahun ini, Kuliner Indonesia Kaya mengangkat tiga kota dengan sejarah kuliner kuat, yaitu Ternate, Palembang, dan Banten. Ketiganya menyimpan kekayaan rasa sekaligus jejak panjang perjalanan budaya di Indonesia.

Melalui webseries yang dapat disaksikan di kanal YouTube IndonesiaKaya, program ini mengajak penonton menelusuri bagaimana rasa menjadi bagian dari perjalanan budaya Nusantara yang terbentuk dari pertemuan berbagai peradaban, jalur perdagangan, serta proses akulturasi yang membentuk identitas masyarakat dari masa ke masa.

“Melalui Kuliner Indonesia Kaya, kami ingin terus menghadirkan dokumentasi yang tidak hanya menampilkan kelezatan sebuah hidangan. Tetapi juga menggali cerita di baliknya. Setiap daerah memiliki cara unik dalam mengolah bahan, merawat tradisi, dan mewariskan pengetahuan memasak dari generasi ke generasi. Di situlah letak kekuatan kuliner Nusantara, bukan sekadar pada rasanya, tetapi pada nilai sejarah, akulturasi, dan filosofi hidup yang menyertainya,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Indonesia Kaya.

Ia menambahkan, tahun ini pecinta kuliner diajak menjelajahi Ternate, Palembang, dan Banten melalui episode terbaru webseries tersebut.

Ternate: Tradisi Rimo-rimo dari Jalur Rempah

Episode pertama yang tayang pada 26 Februari 2026 membawa penonton ke Ternate, salah satu titik penting dalam Jalur Rempah.

Di pulau ini, kuliner tumbuh dari keseimbangan antara masyarakat dan alam sekitarnya. Salah satu tradisi yang diangkat adalah Rimo-rimo, metode memasak yang diwariskan secara turun-temurun tanpa menggunakan alat dapur, melainkan memanfaatkan bambu sebagai wadah alami.

Kris Syamsudin, Founder Cengkeh Afo dan Gamalama Spices, menjelaskan bahwa Rimo-rimo berakar dari kebutuhan masyarakat Ternate untuk bertahan hidup ketika berada di hutan.

“Rimo-rimo adalah tradisi memasak masyarakat Ternate yang lahir dari situasi survival. Dahulu orang-orang harus bisa memasak tanpa panci, sehingga bambu dimanfaatkan sebagai media memasak. Tradisi ini bukan hanya soal makanan, tetapi tentang cara hidup dan pengetahuan leluhur yang kami harap bisa terus dipertahankan,” ujarnya.

Selain itu, episode ini juga menampilkan Gohu Ikan, hidangan yang mengandalkan kesegaran laut dengan proses pengolahan minimal. Ikan tuna atau cakalang dipotong kecil, kemudian diberi garam, perasan lemon cui, serta daun kemangi sehingga menghasilkan cita rasa segar khas Ternate.

Palembang: Warisan Sungai Musi dalam Sajian Tradisional

Perjalanan berlanjut ke Palembang dalam episode kedua yang tayang pada 5 Maret 2026.

Sebagai salah satu kota tertua di Indonesia, Palembang menyimpan memori panjang yang mengalir bersama Sungai Musi. Melalui Pindang Ikan, penonton diajak melihat bagaimana masyarakat memanfaatkan kekayaan sungai seperti ikan patin, gabus, hingga baung.

Cita rasa asam pedas yang segar menjadi ciri khas hidangan ini, merepresentasikan kedekatan masyarakat dengan alam sekitarnya.

Selain itu, hadir pula Kue Delapan Jam yang melambangkan kesabaran melalui proses pematangan selama delapan jam. Hingga menghasilkan tekstur lembut dan warna cokelat keemasan.

Bersanding dengannya, Kue Maksuba yang berlapis dan legit menjadi bagian penting dalam tradisi pernikahan serta perayaan besar seperti Lebaran di masyarakat Palembang.

Proses pembuatannya yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran menjadikannya simbol kecermatan sekaligus cerminan nilai budaya yang dilekatkan pada perempuan Palembang. Kue ini juga kerap dikirimkan pasangan yang baru menikah kepada orang tua sebagai ungkapan cinta dan bakti.

Banten: Jejak Kesultanan dalam Kuliner Tradisional

Episode ketiga yang akan tayang pada 12 Maret 2026 menghadirkan Banten dengan jejak sejarah Kesultanannya.

Sate Bandeng yang konon menjadi hidangan favorit Sultan Maulana Hasanuddin lahir dari kreativitas juru masak keraton untuk menyajikan bandeng tanpa duri sebagai bentuk penghormatan kepada tamu kerajaan.

Selain itu, hadir pula Rabeg, hidangan berbahan daging kambing atau sapi. Yang dipercaya telah ada sejak masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin.

Menurut cerita turun-temurun, Rabeg terinspirasi dari pengalaman sang Sultan saat menunaikan ibadah haji dan singgah di Rabigh di tepi Laut Merah. Di sana ia menyantap olahan daging kambing yang kemudian diadaptasi sepulangnya ke Banten.

Versi lain menyebutkan bahwa Rabeg dibawa oleh para pedagang Arab yang menetap dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.

“Sejak 2017 kami berupaya mendokumentasikan kekayaan kuliner Nusantara secara konsisten melalui Kuliner Indonesia Kaya. Bukan semata menghadirkan visual yang menggugah selera. Tetapi juga merekam pengetahuan, filosofi, dan perjalanan budaya yang menyertainya,” tutup Renitasari Adrian.

Ia berharap tayangan ini dapat menjadi jembatan bagi generasi sekarang untuk lebih mengenal, memahami, dan menghargai warisan gastronomi Indonesia.

Karena pada akhirnya, di balik setiap rasa tersimpan identitas, sejarah, dan cerita panjang yang membentuk karakter sebuah daerah sekaligus bangsa. (Hen)

Previous articleUNIQLO dan IBCWE Bahas Interseksionalitas dalam Dunia Kerja Modern
Next articleSUV Listrik MGS5 EV Laris di IIMS 2026, MG Kantongi 708 Pesanan