Kitabogor – Tawa dan semangat belajar terdengar dari Komplek Edukasi Putra Bangsa, Kampung Pasirangin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Minggu (1/3/2026). Di pekan kedua Ramadhan, sekitar 50 anak duduk melingkar, bukan hanya untuk belajar menghitung, tetapi juga untuk memahami makna keteraturan ciptaan Tuhan melalui angka dan seni.
Program Ramadhan Ceria Putra Bangsa tahun ini mengangkat tema “Islam Pelopor Matematika dan Peradaban Dunia.” Sebuah tema yang membawa anak-anak menyelami dunia logika sekaligus keindahan kaligrafi Islam.
Matematika yang Mengajarkan Makna
Dalam sesi kursus matematika, Mulyadi sebagai pemateri mengajak anak-anak memahami bahwa angka bukan sekadar hitungan di papan tulis. Ia menghubungkan konsep presisi dan keteraturan matematika dengan keteraturan alam semesta.
“Melalui matematika, kita bisa menumbuhkan keimanan secara rasional sesuai dengan usia anak. Mereka diajak melihat bahwa ciptaan Allah sangat matematis dan teratur,” ujarnya.
Pendekatan ini membuat pembelajaran terasa hidup. Anak-anak tidak hanya menghitung, tetapi juga diajak berpikir, bertanya, dan memahami makna di balik logika.

Kaligrafi: Seni yang Menumbuhkan Karakter
Suasana kemudian berubah lebih hening saat workshop kaligrafi dimulai. Heri Cokro, pembina Yayasan Daya Putra Bangsa, membimbing peserta menorehkan huruf-huruf indah penuh makna.
Menurutnya, Islam tidak pernah menolak seni. Justru seni menjadi bagian penting dalam membangun peradaban, mulai dari arsitektur hingga pola geometris yang sarat filosofi.
“Seni adalah sarana membangun kebaikan, memperindah kehidupan, dan memperjuangkan keadilan di mana pun Islam hadir, termasuk di Nusantara,” ungkapnya.
Bagi anak-anak, kaligrafi bukan sekadar latihan menulis. Ia menjadi ruang melatih kesabaran, ketelitian, dan rasa cinta pada nilai-nilai spiritual.
Tiga Tahun Menjadi Ruang Tumbuh
Program Ramadhan Ceria yang telah memasuki tahun ketiga ini digagas oleh Yayasan Daya Putra Bangsa sebagai ruang pembelajaran edukatif dan spiritual. Selain kursus matematika dan workshop kaligrafi, kegiatan juga mencakup pengajian, mendongeng, Sawala Dasa Wacana edisi Ramadhan, serta santunan bagi yatim, dhuafa, dan ibnu sabil.
Ketua panitia, Isti Wuryanti, berharap program ini terus menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda, dari usia dini hingga SMA, agar tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara karakter dan iman.
Di sudut Cijeruk, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia menjadi momen menanamkan nilai, membangun akal, dan menguatkan hati generasi masa depan. (Mur)


