Sawala Dasa Wacana: Saat Generasi Muda Bogor Merancang Masa Depan Kotanya

0
11
Sawala Dasa Wacana: Saat Generasi Muda Bogor Merancang Masa Depan Kotanya

KitaBogor – Hujan yang turun sejak siang tak menyurutkan semangat puluhan anak muda Bogor untuk berkumpul, berdiskusi, dan menyuarakan kegelisahan mereka tentang masa depan daerahnya. Di Kompleks Edukasi Putra Bangsa, Kampung Pasirangin, Cijeruk, Selasa (10/2/2026), lingkar diskusi Sawala Dasa Wacana edisi ke-9 kembali digelar dengan satu pertanyaan besar: Quo Vadis gerakan pemuda Bogor?

Sekitar 20 perwakilan organisasi kepemudaan hadir, mulai dari KPP, Damas, Trasa Ningrasa, Yapaba, hingga pelajar OSIS SMK Sirojul Huda 3. Meski sederhana, forum rutin setiap tanggal 10 ini terasa hangat dan sarat gagasan. Obrolan berkembang dari keresahan soal jalan rusak, transparansi anggaran, hingga pentingnya menjaga jati diri budaya Sunda.

Tuan rumah Sawala, Heri Cokro, menegaskan bahwa pemuda memegang peran strategis sebagai agent of change, social control, dan moral force.

“Dinamika kritis kaum muda di Bogor menunjukkan meningkatnya kesadaran sosial-politik generasi muda. Tapi kita juga harus memastikan aksi itu benar-benar berdampak pada pembangunan jangka panjang. Wajah Bogor masa depan ada di tangan pemuda,” ujarnya.

Sorotan tajam datang dari Beni Sitepu, Ketua Komunitas Pemuda Peduli (KPP) Bogor Raya. Ia mengkritisi sejumlah proyek pembangunan yang dinilai belum optimal, seperti infrastruktur jalan yang cepat rusak dan proyek penggalian yang kurang tertata.

Menurutnya, pengawasan anggaran publik tidak boleh hanya dibebankan pada pemerintah atau lembaga formal semata.

“Kalau pemuda tidak peduli, siapa lagi? Kita harus bersatu mengawal kebijakan agar transparan dan berpihak pada masyarakat,” tegas Beni.

Sementara itu, Yulia Nasari dari Daya Mahasiswa Sunda (Damas) mengingatkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya fisik. Ia menekankan pentingnya pembangunan karakter berbasis kearifan lokal.

“Pembangunan sejati itu membangun manusianya. Nilai kasundaan, sejarah, dan karakter manusia Sunda paripurna harus terus dirawat, terutama lewat pendidikan,” katanya.

Perspektif kepemimpinan disampaikan Andri Fadillah Alamsyah, Sekretaris Umum HMI Cabang Kota Bogor. Ia menilai pemuda harus mempersiapkan diri sejak sekarang untuk estafet kepemimpinan.

“Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari. Literasi, kompetensi, dan penghargaan terhadap perjuangan generasi sebelumnya harus jadi bekal utama,” ucapnya.

Diskusi kian hidup saat sesi berbagi gagasan dibuka. Suara generasi muda diwakili Rani, siswi kelas XI SMK Sirojul Huda 3, sementara pandangan kritis generasi senior disampaikan Naryana Indra. Perbedaan sudut pandang justru memperkaya dialog.

Menjelang sore, forum ditutup dengan satu kesepahaman: kolaborasi adalah kunci. Pemuda Bogor sepakat memperkuat jejaring lintas komunitas dan menghadirkan aksi nyata, bukan sekadar wacana.

Di tengah hujan yang belum reda, Sawala Dasa Wacana membuktikan satu hal — harapan untuk Bogor yang lebih layak, manusiawi, dan sejahtera tetap tumbuh dari semangat anak mudanya. (Mur)

Previous articleIftar Aladdin & Stay 24 Jam di Citadines Antasari Jakarta
Next articleRamadan Fusion Feast: Sensasi All You Can Eat dan Staycation Nyaman di Hotel Ciputra Jakarta