KitaBogor – Pagi belum sepenuhnya hangat ketika satu per satu anak kecil mulai berdatangan ke Saung Saidun Hamdanah, Komplek Edukasi Putra Bangsa. Jam masih menunjukkan pukul 07.00 WIB. Kegiatan baru akan dimulai dua jam lagi. Namun wajah-wajah ceria itu tak menunjukkan tanda bosan. Di tangan mereka, ada harapan—tentang buku, tentang belajar, tentang mimpi.
Di Kampung Pasir Angin, Desa Cipicung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Taman Baca Putra Bangsa dan Nyala Aksara perlahan tumbuh menjadi rumah kedua bagi anak-anak. Melalui Gerakan Literasi Putra Bangsa, kegiatan rutin setiap hari Minggu kembali digelar: kursus komputer, belajar baca tulis, dan membaca bersama.
Bagi anak-anak di kampung ini, taman baca bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah ruang aman untuk bertanya, mencoba, dan percaya diri. Rak-rak buku yang berjajar rapi seolah membuka jendela ke dunia yang lebih luas—dunia yang mungkin belum pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Tak hanya membaca di tempat, anak-anak juga bisa meminjam buku untuk dibawa pulang. Seusai sekolah, mereka datang bergiliran, memilih buku favorit, lalu pulang dengan cerita baru di kepala dan semangat di dada. Saat ini, taman baca memiliki sekitar 1.500 judul buku—hasil dari dukungan MaPa Foundation, Perpustakaan Nasional (Perpusnas), donasi para sahabat, serta koleksi internal Putra Bangsa.
Di sela aktivitas, tawa dan rasa ingin tahu selalu terdengar. Anak-anak belajar mengetik di komputer, mengeja kata demi kata, menghitung angka, hingga mengenal bahasa Inggris. Semua dilakukan dengan cara sederhana, hangat, dan penuh kesabaran.
Salah satu pendamping, Isti Wuryanti, menyebut taman baca sebagai ruang tumbuh bersama.
“Di sini anak-anak bukan hanya belajar membaca. Mereka belajar berani, belajar percaya diri, dan belajar bermimpi. Taman baca menjadi tempat yang menumbuhkan kecerdasan sekaligus karakter,” tuturnya.
Perasaan haru juga dirasakan Anin Nurbawiyah, yang kerap mendampingi kegiatan.
“Melihat mereka datang lebih awal, aktif bertanya, dan menikmati setiap proses belajar, rasanya lelah langsung hilang. Semangat anak-anak inilah yang membuat kami terus bertahan,” katanya.
Selain di Kampung Pasir Angin, Nyala Aksara juga menyala di Kampung Pancasan, Kelurahan Rancamaya, Bogor Selatan, Kota Bogor. Di dua lokasi ini, taman baca hadir sebagai oase literasi—menawarkan pilihan lain selain layar gawai, sekaligus ruang bagi anak-anak untuk tumbuh dengan nilai-nilai positif.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan digital, Taman Baca Putra Bangsa dan Nyala Aksara membuktikan bahwa buku, perhatian, dan kehadiran orang dewasa yang peduli masih menjadi kunci utama menyalakan masa depan anak-anak. Dari saung sederhana di Bogor, mimpi-mimpi kecil mulai ditulis—halaman demi halaman. (Mur)


